myimage.id | Sebagai sebuah produk Kraton Yogyakarta, tentulah Batik Yogyakarta diciptakan berdasarkan aturan-aturan yang berlaku di dalam Kraton yang berhubungan dengan adat, kepercayaan dan agama yang dianut. Motip yang sering digunakan dalam upacara di dalam Kraton biasanya motip-motip sederhana atau biasa disebut dengan “Angsar” yang artinya motip-motip itu mempunyai makna yang baik.  Sehingga dalam hal ini pemahaman terhadap fungsi dan makna filosofi Motip Batik Yogyakarta sangat diperlukan, agar tidak terjadi kesalahan dalam pemakaiannya. Motip Batik Yogyakarta mempunyai filosofi dan makna yang sangat tinggi yang sangat melekat dengan kehidupan manusia sejak masih dalam kandungan hingga matinya manusia di kehidupan ini.Motip Batik Yogyakarta, cultureKesesuaian upacara dengan Motip Batik Yogyakarta yang digunakan, disesuaikan dengan jenis upacara ritual sepanjang kehidupan manusia, diantaranya upacara Tedhak Sinten yang merupakan sebuah upacara turun temurun ketika pertama kalinya si anak menginjakan kakinya di tanah (7-8 bulan). Kata tedhak berarti turun, siti berarti tanah. Adapun kain batik yang digunakan antara lain :Motip Batik Yogyakarta, culture

Motip Parang Klithik

Motip Parang Klithik, pemakaian motip ini menunjukan harapan bahwa si anak yang masih kecil nantinya mengalami pertumbuhan dan berkembang menjadi orang yang berwatak serta berperilaku luhur budinya.Motip Batik Yogyakarta, culture

Motip Gringsing

Motip Gringsing, Gringsing berarti tidak gering (tidak sakit), yang semuanya mengandung harapan agar si anak tumbuh dan berkembang menjadi anak yang sehat lahir batin, jauh dari segala penyakit fisik maupun mental.Motip Batik Yogyakarta, culture

Motip Kawaung

Motip Kawung, motip ini merupakan susunan dari empat bulat atau bulat panjang (elips) disusun diagonal miring ke kanan dan ke kiri, atas dan bawah dengan titik pusar/pancer ditengah. Kawung menggambarkan empat penjuru mata angin dan menggambarkan selama dalam kandungan hingga lahir, bayi dijaga dan disertai oleh ketuban, plasenta, darah dan tali pusar. Pola kawung dalam upacara ini bermotip kecil (kawung sen).Motip Batik Yogyakarta, cultureKhitan atau supitan dilaksanakan pada saat anak laki-laki siap di khitan (12-15 tahun) di Jawa Tengah, tapi ada juga waktu masih bayi. Kain batik yang dikenakan  pada upacara ini hampir sama dengan tetesan yang digunakan di dalam Kraton yaitu memakai cinde dan motip parang. Besar kecilnya parang menyesuaikan dengan badan si anak. Beberapa motip batik yang digunakan untuk upacara ini antara lain :Motip Batik Yogyakarta, culture

Motip Parangkesit

Motip Parang Parakesit, merupakan motip yang melambangkan harapan agar kelak si anak menjadi kesatria yang gagah berani, berwibawa, arif dan bijaksana layaknya Parikesit dalam kehidupan pewayangan.Motip Batik Yogyakarta, culture

Motip Gondosuli

Motip Parang Gondosuli, motip ini merupakan pengembangan dari pola parang gendreh dimana pada bagian kepalanya di bidang parang diganti dengan bunga gondosuli yang berbau harum. Motip ini juga mempunyai arti keindahan hati yang membawa keharuman budi pekerti yang terpancar pada pribadi anak yang tumbuh menjadi dewasa.Motip Batik Yogyakarta, culture

Motip Gringsing Bintang

Motip Gringsing Bintang, motip ini bermakna si anak yang melakukan tetesan tidak mudah terserang penyakit dan selalu menjadi idola (bintang) di dalam kehidupan nantinya.Motip Batik Yogyakarta, culture

Motip Udan Liris

Motip Udan Liris, motip ini mempunyai arti sebagai hujan gerimis atau hujan rintik-rintik yang melambangkan tentang kesuburan dengan harapan bisa selamat dan subur sejahtera.Motip Batik Yogyakarta, culture

Motip Parang Tuding

Motip Parang Tuding, motip ini mempunyai makna bahwa tudingan (perintah, kebijaksanaan) seorang pemimpin akan menentukan nasib orang banyak. Selain motip diatas, motip yang paling bagus untuk khitanan adalah Parang Kusuma dan Parang Klithik.Motip Batik Yogyakarta, cultureKemudian Tetesan atau semacam supitan untuk anak perempuan dengan membuka sedikit selaput penutup kelaminnya (6-7 tahun). Busana yang dikenakan di dalam Kraton biasanya kain cinde merah, hijau, ungu dengan kain model sabuk wala tetapi sering juga dipakai kain batik yang diprada dan motip parang (ini juga berlaku utk supitan). Besar kecilnya parang disesuaikan dg besar kecilnya tubuh si anak. Sedangkan kain batik biasa tanpa prada, dikenakan para putri yang menghadiri upacara itu. Di masyarakat umum, kain batik yang biasanya digunakan pada upacara ini adalah:Motip Batik Yogyakarta, culture

Motip Kawung Picis

Motip Kawung Picis, merupakan motip kawung berukuran kecil sebesar uang pecahan 10 sen. Motip ini melambangkan harapan agar manusia selalu ingat asal-usulnya, selain itu juga melambangkan empat penjuru angin serta melambangkan hati nurani sebagai pusat pengendalian napsu yang terdapat pada diri manusia, sehingga ada keseimbangan dalam kehidupan.Motip Batik Yogyakarta, culture

Motip Gringsing Lindri

Motip Gringsing Lindri, motip ini mempunyai makna anak perempuan yang akan melakukan tetesan menjadi wanita yang sehat, cantik lahir dan batin di kehidupan bermasyarakat.Motip Batik Yogyakarta, culture

Motip Ceplok Sri Dento

Motip Sri Dento, motip ini melukiskan keserasian sebagai harapan si anak menjadi wanita yang serasi dan pandai menyelaraskan diri sehingga menjadi wanita seutuhnya.Motip Batik Yogyakarta, culture

Motip Ceplok Keci

Motip Ceplok Keci, motip ini dibuat dengan motip kecil-kecil dengan motip Parang Kawung, Truntum yang biasanya dipakai oleh keluarga Raja. Selain motip yang diatas, motip yang bagus untuk Tetesan adalah Parang Kusuma dan Kawung Picis. (Sumber Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Sekarjagad Yogyakarta dan Dra. R.Ay. Mary Condronegoro). (Soebijanto/reog biyan)

2 COMMENTS

  1. Terima kasih. Informasi yang sangat berguna. Motif batik “daur hidup manusia” memang jarang diketahui oleh masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here