myimage.id | Pergantian Bregada Jaga adalah sebuah upacara pergantian prajurit jaga di Kadipaten Pakualam Yogyakarta yang dilaksanakan setiap 35 hari (selapanan) sekali tepatnya pada Sabtu kliwon tanggal 31 Maret 2018 atau 14 Rejeb 1951 Dal. Bregada yang berjaga di Kadipaten Pakualam Yogyakarta ini terbagi menjadi 2 pasukan yaitu Bregada Lombok Abang dengan pakaian prajurit jaman dulu yang ada di Jawa dengan senjata tombak dan Bregada Infantri (Plangkir) dengan pakaian prajurit Inggris modern jaman dulu dengan senjata bedil.

Pergantian Bregada Jaga, Culture, yogyakarta

Pergantian Bregada Jaga di Kadipaten Pakualam diadakan sejak tahun 2016, dimana ide acara ini berawal dari ke Istimewaan Yogyakarta, dimana Yogyakarta ada dua institusi Pura Pakualam dan Kraton Yogyakarta yang harus dihidupkan karena dengan kelangsungan keduanya ini sangat berpengaruh terhadap masyarakat Yogyakarta secara nyata, juga terinspirasi dari pasukan Inggris, dimana waktu pergantian pasukan penjaga istananya bisa diekspose sebagai bagian dari pariwisata yang menarik wisatawan asing maupun lokal.

Pergantian Bregada Jaga, Culture, yogyakarta

Acara ini merupakan kerjasama antara Pura Pakualam Yogyakarta dengan Dinas Pariwata dan Budaya Yogyakarta, yang dikemas menjadi sebuah atraksi wisata budaya dalam sebuah rangkaian acara yang menarik yang dimulai padahari Jumat 30 Maret 2018 ada Uyon-uyon Karawitan Muryoraras bertempat di Tratag Pura Pakualaman yang siaran langsung RRI Yogyakarta.

Pergantian Bregada Jaga, Culture, yogyakarta

Yang dilanjutkan hari Sabtu 31 Maret 2018 yang dimulai pukul Jam 13.30 WIB ada Atraksi Seni Tradisi Paguyuban Seni “Naga Prabangkara” dari Kalitirto, Berbah, Sleman yang mempersembahkan jaranan senterewe dan  pegon bertempat di Kagungan Dalem Alun-alun Sewandanan. Ada juga acara  Gladhen Jemparingan (panahan tradisional) bertempat di Kestalan Pakualaman yang dimulai pada pukul 14.30 WIB.

Pergantian Bregada Jaga, Culture, yogyakarta

Baru kemudian pada pukul Jam 15.15 WIB Upacara Adat Ganti Dwaja atau Pergantian Bregada Jaga Pakualaman dimulai yang yang dimulai dengan kirab pasukan menuju tempat upacara didalam Kadipaten Pakualam, dimana dalam upacara tersebut salah satu pasukan mengambil bendera, selanjutnya salah satu bergada lain menancapkan bendera sebagai awal tugas selama 35 hari kedepan.

Pergantian Bregada Jaga, Culture, yogyakarta

Upacara pergantian Bergada ini dipimpin oleh Manggalayuda (Inspektur Upacara), dimana Bergada Lombok Abang dan Plangkir memasuki tempat upacara melalu pintu gerbang utama. Kemudian satu regu menjemput Manggalayuda yang sudah siap di Tratag Bangsal Sewatama. Manggalayuda menempati posisi di tempat upacara yang kemudian dilangsungkan upacara dengan menggunakan bahasa Jawa. Setelah ini selesai, kemudian Manggalayuda kembali ke Bangsal Sewatama yang dilanjutkan Kirab Keliling Pura Pakualaman oleh kedua pasukan yang diikuti oleh kesenian jatilan dan masyarakat.

Pergantian Bregada Jaga, Culture, yogyakarta

Setelah acara ini selesai kemudian dilanjutkan acara hiburan  berupa atraksi Seni Tradisi Paguyuban Seni “Naga Prabangkara” dari Kalitirto, Berbah, Sleman yang mempersembahkan turangga yaksa dan rampak barongan

Pergantian Bregada Jaga, Culture, yogyakarta

Pergantian Bregada Jaga, Culture, yogyakarta

Pada jaman dulu bergada di Kadipaten Pakualam sebenarnya ada 3 selain bergada Lombok Abang dan bergada Infantri (Plangkir), ada satu lagi bernama bergada berkuda (Kaveleri), tapi hilang sejak tahun 1942 waktu penjajahan Jepang, dimana pasukan ini dipinjam  di kota Ambarawa, kudanya malah dimakan oleh pasukan Jepang.

Ada yang istimewa di Kadipaten Pakualam ini, dimana Rajanya bertempat tinggal di Pura Pakualam, beda dengan Raja-raja yang lain, dimana Raja belum tentu tinggal didalam Istananya, selain itu sistem pemerintahan juga di atur disini sehingga apa yang ada pada jaman dahulu masih terpelihara di Kadipaten Pakualam ini.

Pergantian Bregada Jaga, Culture, yogyakarta

Sebuah acara atraksi Wisata Budaya lewat Pergantian Bregada Jaga di Kadipaten Pakualam dibuat untuk nguri-nguri budaya yang kuncinya bukan budaya untuk pariwisata tapi budaya harus dikembangkan sendiri yang dapat mendatangkan para wisatawan. Karena kalau budaya untuk pariwisata maka komsumsinya bisa berubah, maka itu budaya yang merupakan peninggalan nenek moyang kita harus diolah untuk mendatangkan wisata. Yogya memang Istimewa. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here