myimage.id | Selamat pagi semua saudaraku. Salam hangat, sehat dan sejahtera.  Sebuah tradisi lokal yang telah lama mengalami perjalanan sejarah yang cukup panjang, direkontruksi dengan dimunculkan dengan ciri khas yang hanya di punyai oleh Kota Semarang. Semua ini terlihat dalam Prosesi Dugderan yang merupakan sebuah adat tradisi budaya yang mengakomodasi heterogennya masyarakat Kota Semarang, dimana ada unsur Arab, Jawa dan Cina (ARWANA) yang hidup rukun berdampingan.Prosesi DugderanAcara ini selalu diadakan setiap menghadapi bulan Ramadhan, dengan diiringi pukulan bedug yang berbunyi “dug dug” dan dentuman meriam yang menggelegar “der der”, sehingga masyarakat Semarang menyebut dengan nama Dugderan.Prosesi DugderanMemasuki bulan puasa, yang dilakukan Raden Mas Tumenggung Aryo Purbodiningrat (Walikota Semarang) dengan melakukan pukulan bedug 17 kali, dan ini merupakan simbol rekaat sholat bagi umat Islam, kemudian suara meriam 5 kali, menandakan melakukan 5 rukun Islam, setelah ini diumumkan mulai besok sudah memasuki bulan suci Ramadhan.Prosesi DugderanProsesi Dugderan dilaksanakan di tiga tempat, diawali di Balai Kota Semarang yang diikuti dengan arak-arakan Dugderan yang sangat meriah sekali sepanjang Jalan Pemuda, menuju ke Masjid Agung Semarang (Masjid Kauman) kemudian yang terakhir di Masjid Agung Jawa Tengah.Prosesi DugderanAcara ini diselenggarakan oleh Pemkot Semarang yang bekerja sama dengan Takmir Masjid Agung Semarang dan Badan Pengelola Masjid Agung Jawa Tengah, tepatnya pada tanggal 4 Mei 2019 mulai pukul 12.00-17.30 wib.Prosesi Dugderan“Acara ini secara umum mempunyai ciri khas melalui temanya yang berkaitan dengan perkembangan jaman, apalagi tahun ini kita baru saja melakukan Pemilu secara serentak, dengan harapan Prosesi Dugderan mempunyai maksud untuk menjaga kerukunan di dalam masyarakat,” ujar Muhaimin selaku Sekretaris Masjid Agung Semarang.Prosesi DugderanFilosofi yang dikembangkan oleh culture di Kota Semarang adalah belajar dari sejarah masa lalu dengan mengenal sejarah perkembangan Kota Semarang yang mempunyai etnis culture yang beragam dan dapat hidup berdampingan satu sama lain, masing-masing bisa menjaga dan membina kerukunan.Prosesi DugderanSetiap tahunnya acara ini hampir sama, hanya yang beda adalah tingkat atensi dari masyarakatnya. Seperti dua tahun yang lalu, karena ada tragedi Pasar Johar kebakar, walaupun sederhana dan ringkas prosesi ini tetap diadakan.Prosesi DugderanSelama Prosesi Dugderan ini ada beberapa keunikan, (1) Roti Ganjel Rel. Roti ini dibagikan kepada masyarakat setelah pengumuman masa puasa oleh Raden Mas Tumenggung Aryo Purbodiningrat (Walikota Semarang). Makna Ganjel adalah masyarakat Muslim dalam menghadapi bulan Ramadhan tidak mempunyai ganjalan  atau rasa yang tertahan sedangkan Rel berarti rela, iklas, legowo dalam diri manusia.Prosesi Dugderan(2) Pasar Rakyat (Pasar Dugder) yang merupakan pasar yang menjual barang-barang tradisional, seperti gerabah dalam bentuk celengan binatang, makanan tradisional sampai wahana permainan seperti bianglala, tong stand, ombak banyu dan helikopter.Prosesi Dugderan(3) Warak Ngendog adalah hewan rekaan yang di buat yang mewakili entitas budaya campuran antara Cina, Jawa dan Arab. Warak Ngendog hanya ada pada tradisi Dugderan dan tidak ada pada perayaan lainnya.Prosesi DugderanRealitas ini menunjukan bahwa korelasi antara Warak Ngendog dan Dugderan merupakan kearifan produk local dalam menghadapi bulan suci Ramadhan. Warak berasal dari bahasa Arab “waro’a” yang berarti manusia harus menjaga diri dari hawa nafsu dan perbuatan yang tidak baik, salah satunya perbuatan bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari hari melalui amalan puasa.Prosesi DugderanKarena kalau tindakan ini kita lakukan maka akan bermanfaat bagi diri kita maupun masyarakat pada umumnya dan kita akan menerima pahalanya. Pahala dari perbuatan baik kita ini disimbolkan dengan telur atau bertelur dalam bahasa Jawa “Ngendog” maka jadilah Warak Ngendog.Prosesi DugderanSebuah tradisi lokal yang perlu diuri-uri dengan pelestarian dan pengembangan secara nyata yang pastinya akan dapat dijadikan salah satu atraksi wisata bagi kota Semarang yang dapat menarik wisatawan lokal maupun asing untuk berkunjung di Kota Semarang. (Soebijanto/reog biyan)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here