myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya, sugeng enjing, sugeng kewarasan sedoyo. Cerita klasik Ramayana banyak sekali digunakan sebagai inspirasi dalam membuat sebuah karya sendratari. Ramayana tidak lekang oleh waktu, selalu hidup dihati para seniman-seniman dunia. Salah satu Epos Ramayana di sajikan dalam lakon Sarpakenaka Prahasta Gugur yang merupakan sebuah sendratari yang di dalamnya menceritakan tentang perjuangan Ramawijaya melewati lautan menuju Alengkadiraja sampai menuju perang bubruh.Sarpakenaka Prahasta Gugur, classic danceDalam perjalanan yang panjang ini akhirnya pasukan Ramawijaya dapat mengalahkan Sarpakenaka dan Prahasta serta pasukan yang diutus oleh Rahwana untuk menyerang Pasukan Ramawijaya yang mencari istrinya Sinta yang diculik oleh Rahwana.Sarpakenaka Prahasta Gugur, classic danceDalam peperangan ini, Sarpakenaka terpana oleh ketampanan dan jatuh cinta kepada Lesmana, tapi karena Lesmana berseberangan dan tahu bahwa Sarpakenaka adalah buto, maka Lesmana tidak mengubris cinta Sarpakenaka kepadanya.Sarpakenaka Prahasta Gugur, classic danceTerjadilah perang tanding antar keduanya, tapi Sarpakenaka kalah dalam perang tanding ini, bahkan hidungnya dirobek oleh Lesmana. Kemudian dia melapor kepada Rahwana untuk membalaskan dendamnya kepada Lesmana. Rahwana mengutus Prahasta untuk menundukan Lesmana dan pasukan Ramawijaya.Sarpakenaka Prahasta Gugur, classic dance

Sarpakenaka Prahasta Gugur, classic dancePrahasto adalah Patih Kerajaan dari Alengkadiraja dihadapi oleh Anilo yang merupakan senopati kerajaan Pancawati. Keduanya memang sakti mandraguna dan dalam pertarungan tersebut mereka benar-benar membela keyakinan mereka, walaupun pada akhirnya pertarungan tersebut dimenangkan oleh Anilo.Sarpakenaka Prahasta Gugur, classic danceKemenangan Anilo diperoleh dengan susah payah, dengan memukulkan sebuah tugu ke kepala dan badan Prahasta sehingga hancur berkeping-keping. Ternyata tugu tersebut merupakan perwujudan dari seseorang bidadari bernama Indradi, ibu kandung Raja Sugriwa yang dikutuk suaminya, seorang Resi dengan nama Gotama, karena berselingkuh dengan Batara Surya. Tapi dengan kematian Prahasta oleh pukulan Anilo menggunakan tugu ini malah membebaskannya dari kutukan Resi Gotama.Sarpakenaka Prahasta Gugur, classic danceSendratari Ramayana dengan lakon Sarpakenaka Prahasta Gugur diselenggarakan oleh Pemerintah Surakarta lewat Dinas Pariwisata di Open Stage Taman Balekambang Solo pada hari Minggu, tanggal 25 Agustus 2019 mulai pukul 19.30 wib sampai selesai oleh Pakarti (Paguyuban Kerawitan dan Tari) Pura Mangkunegaran Surakarta.Sarpakenaka Prahasta Gugur, classic dancePakarti (Paguyuban Kerawitan dan Tari) Pura Mangkunegaran Surakarta berdiri tahun 1950, dimana didirikan oleh almarhum Kanjeng Sanyoto, yang kemudian di lanjutkan kepemimpinannya oleh Bapak RT. Sri Hartono dan Ibu Umi sampai sekarang. Ini merupakan sebuah paguyuban yang terbuka untuk umum bagi siapa saja yang ingin belajar maupun menari klasik Jawa khususnya gaya Mangkunegaran atau nabuh gamelan. Latihan diadakan dua kali seminggu setiap Rabu malam dan Minggu malam antara jam 19.00 wib sampai 22.00 wib.Sarpakenaka Prahasta Gugur, classic danceKomposisi dalam Sendratari Sarpakenaka Prahasta Gugur ada beberapa yang menggambarkan tentang keseimbangan didalam kehidupan manusia, dimana ada sisi antagonis dan protagonist, kekuatan cinta, perjuangan mempertahankan cinta dan heroik, dimana akhirnya protagonislah yang akan memenangkan konflik yang terjadi.Sarpakenaka Prahasta Gugur, classic danceDalam komposisi internal dalam Sendratari Ramayana dengan lakon Sarpakenaka Prahasta Gugur ini ada bentuk lingkaran-lingkaran tertentu yang menandakan tekad yang bulat didalam Pasukan Ramawijaya untuk melawan kesaliman Rahwana dan pasukannya.Sarpakenaka Prahasta Gugur, classic danceRagam gerak dalam Sendratari ini menggunakan ragam gerak yang mempunyai ciri khas gerak dari Pura Mangkunegaran, dengan pola lantai yang sangat variatif karena tempatnya di Stage Open, tidak hanya dua arah saja tetapi ada bentuk bulat, diagonal, lurus dan melintang.Sarpakenaka Prahasta Gugur, classic danceGaya tari di Pura Mangkunegaran merupakan perpaduan antara gaya Kraton Kasultanan Yogyakarta dengan Kraton Kasunanan Surakarta. Dari perpaduan dua gaya ini kemudian lahir sebuah gaya baru yang khas yang sekarang ini lebih dikenal dengan gaya Mangkunegaran.Sarpakenaka Prahasta Gugur, classic danceBusana pun sama, berupa perpaduan antara gaya Kraton Kasultanan Yogyakarta dengan Kraton Kasunanan Surakarta. Yang dipakai oleh Ramawijaya dan Lesmana memakai wiron dengan bentuk cupit urang dan posisinya tepat ditengah dengan bentuk irah-irahan dengan motipnya yang berbeda. Demikian juga mekak, ada bentuk lengkung dengan untaian benang emas dan mote, semua ini yang mempunyai hanya Pura Mangkunegaran.Sarpakenaka Prahasta Gugur, classic danceIringannya cenderung ke Kraton Kasunanan Surakarta, sedangkan gendhing-gendhingya cenderung mirip dengan Kraton Kasultanan Yogyakarta. Perbedaan penggayaan Mangkunegaran ini sangat jelas pada mas Sri Mangkunegaran ke VII.Sarpakenaka Prahasta Gugur, classic dance“Kepahlawanan, kesetiaan dan keserakahan semua ada di dunia ini, bagaimana kita manusia menghadapi semua ini agar menjadi baik. Kalau semua sudah berlebihan itu sudah tidak baik apun itu namanya. Pemkot Surakarta memberikan ruang ekspresi bagi seniman-seniman Surakarta untuk mengembangkan bakat seninya dalam sebuah pertunjukan dan ini semua semoga berlangsung terus sebagai bagian dari pelestarian dan pengembangan budaya Indonesia secara nyata”, ujar Danang Pamungkas selaku pemeran Rama dalam Sendratari Ramayana ini. (Soebijanto/reog biyan).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here