myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Sugeng enjang sedherek-sedherek. Relief candi menggambarkan tentang makna kehidupan dan kejayaan masa lalu, tidak hanya religinya saja tetapi juga legenda waktu itu. Semua ini terlihat dalam Sendratari Hariti yang merupakan sebuah drama tari yang di dalamnya menceritakan tentang Dewi Hariti, seorang perempuan dalam wujud buto yang senang memakan tubuh manusia terutama anak-anak.Sendratari HaritiDewi Hariti adalah istri dari Dewa Kuwera, tindak tanduknya sangat bengis terhadap anak-anak dan itu terkenal sampai jauh. Namun pada akhirnya tindakan tersebut terdengar oleh seorang Biksu. Pada dasarnya Dewi Hariti mempunyai anak yang banyak, konon menurut legenda anaknya jumlahnya 1000.Sendratari HaritiPada suatu ketika, anak yang paling bungsu dari Dewi Hariti diculik oleh Bhiksu tersebut. Akibat tindakan ini Dewi Hariti sangat bingung. Dia mencari kesana kemari dengan perasaan yang sedih dan sakit. Dari kejadian inilah Dewi Hariti merasakan kesedihan yang sangat luar biasa.Sendratari HaritiSebenarnya tujuan Bhiksu mencuri anak bungsu Dwi Hariti adalah untuk menyadarkannya, bahwa siapapun kalau kehilangan anak pastilah sedih dan sakit rasanya. Setelah mendapat pencerahan dari Sang Bhiksu, akhirnya Dewi Hariti menjadi sadar dan menjadi pecinta anak-anak, pelindung dari roh-roh jahat dan Dewi kesuburan.Sendratari HaritiSendratari Hariti ide ceritanya mengambil dari cerita yang ada di relif candi Banyunibo yang dikreasi oleh Hajarwisnu Satoto S. Sn, dengan nara sumber Profesor Timbul Haryono. Cerita ini ternyata terdapat di dua candi, yaitu Candi Banyunibo dan Candi Mendut.Sendratari HaritiKomposisi sendratari ini berisi tentang keseimbangan didalam kehidupan manusia, dimana ada sisi antagonis dan protagonist. Dewi Hariti mempunyai sifat yang sangat jahat yang kemudian disadarkan oleh Sang Biksu, yang pada akhirnya protagonislah yang memenangkan konflik yang terjadi.Sendratari HaritiSedangkan dalam komposisi internal dalam Sendratari Hariti ini, adanya bentuk-bentuk lingkaran tertentu yang menandakan tekad yang bulat di dalam para Bhiksu untuk melawan dari kesaliman Dewi Hariti beserta 1000 anaknya.Sendratari HaritiSendratari ini ditampilkan oleh Padepokan Sekardjagad pada Gelar Seni 7 Kawasan Candi 2019 yang merupakan program berkelanjutan dari Pemerintah Kabupaten Sleman yang pada tahun ini memasuki tahun ke dua. Dilaksanakan pada tanggal 25-31 Oktober 2019 di 7 candi yang ada di Kabupaten Sleman DIY.Sendratari HaritiPadepokan Sekardjagad adalah sebuah  padepokan tari yang berhome base di Mutihan Madurejo, Prambanan, Kabupten Sleman. Didirikan oleh Hajarwisnu Satoto S. Sn pada tanggal 26 Mei 2006. Sanggar ini kegiatannya membuat musik tradisonal dan sendratari. Awalnya dulu hanya terbuka untuk teman-teman dekat saja, tetapi seiring waktu meluas menerima seniman dari mana saja untuk berkreasi.Sendratari HaritiGerak dalam sendratari ini sangat dinamis dan variatip, dimana ada 8 penari rampak putri dan 8 penari rampak putra serta adanya penokohan. Geraknya digarap dengan basik dari tari klasik gaya Yogyakarta, tapi karena ini di daerah Prambanan, maka bisa disebut daerah yang konon bisa dikatakan tidak matang klasiknya karena langsung berbatasan Jawa Tengah.Sendratari HaritiBusana yang digunakan berorientasi pada busana yang digunakan pada jaman Mataram Kuno, yang semuanya digarap dengan menyesuaikan tokoh dan suasana, seperti Dewi Hariti yang terdapat pada arca di Candi Banyunibo dengan jamang, irah-irahan yang khas beserta para Bhiksu, sedangkan properti yang digunakan berupa kain putih panjang.Sendratari HaritiIrama yang mengiringi menggunakan gamelan klasik Jawa yang sudah digarap dengan basik gaya Yogyakarta yang dikreasi dengan nuansa sendratari ini. Memang iringan gamelan yang sudah digarap kita akan susah untuk membedakan antara Yogyakarta dengan Jawa Tengah.Sendratari HaritiSendratari Hariti

1Produksi:Padepokan Sekardjagad
2Sutradara:Hajarwisnu Satoto S. Sn
3Penata Tari:Lintang Samodera dan Rinta Julia
4Penata Iringan:Nawun dan Krisna
5Penata Busana:Sasa dan Novi
6Penari:Khoiruna Aisya Balqis (Dewi Hariti)

Lintang Samodera (Dewa kuwera)

Ibrahim(Biksu)

Penari rampak :

Samiaji, Randy, Aji H, Fajar S, Sodiq, Ega, Widi, Austin, Kavita, Meidyana, Mifta, Amanda, Novia Sapta, Qovifah, Lita, Yestri, Dwi, Aceng, Jordan.

Sendratari Hariti“Sebuah pembelajaran hidup yang patut kita terapkan di dalam keseharian kita, apapun yang terjadi, sayangilah anak-anak kita. Anak adalah belahan hati kita, dengan tingkat kesadaran yang tinggi akhirnya Dewi Hariti merasakan kasih anak-anak dan mengikuti ajaran Sang Bhiksu”, ujar Hajarwisnu Satoto S. Sn selaku pencetus ide Gelar Seni 7 Kawasan Candi disela-sela acara. Salam Budaya. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here