myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Sugeng enjang sedherek-sedherek. Akulturasi budaya pada dasarnya lahir dengan alami, bahkan ini semua malah dijadikan oleh para seniman dalam membuat sebuah karya yang sering sekali menampilkan tema tentang perjuangan dan kepahlawanan yang semuanya masih dalam ranah kontekstual dalam lingkup koreografinya mulai dari gerak, busana sampai iringan yang dipakai. Semua ini terlihat jelas dalam Sendratari Lawung Kumpeni yang merupakan sebuah drama tari yang menceritakan tentang perjuangan Pasukan Pangeran Mangkubumi dalam menghadapi penjajah Kumpeni Kolonial Belanda.Sendratari Lawung KumpeniAda yang unik dalam Sendratari Lawung Kumpeni ini dimana menggunakan konsep koreografer yang menampilkan dengan versi Jhatilan. Lawung merupakan representative senjata tombak tumpul yang digunakan pada beksan Lawung Jajar yang merupakan tari ciptaan HB I, sedangkan Kumpeni diambil dari kolonial Belanda pada masa penjajahan.Sendratari Lawung KumpeniLawung yang didefinisikan oleh HB I sebagai spirit yang harus diambil, yang semaunya ini menggambarkan tentang keagungan, selain itu secara representative sebagai simbol perjungan Pasukan Pangeran Mangkubumi dengan prinsip Sawiji, Greget, Sengguh ora Mingkuh.Sendratari Lawung KumpeniTarian ini merupakan ciptaan dari Dr. Kuswarsantyo M. Hum yang lebih dikenal dengan “Doktor Jhatilan” yang lahir di Yogyakarta, 4 Sepetember 1965, yang sampai sekarang masih aktif sebagai pengajar di UNY. Beberapa karya beliau yang menjadi master piece diantaranya Klana Sureng Pati (2017), Srimpen Turangga Manis (2019) dan Kenyo Turangga Mudha (2019).Sendratari Lawung KumpeniSendratari Lawung Kumpeni ditampilkan dalam event HUT 10 Th Bale Seni Condroradono yang diadakan oleh Bale Seni Condroradono yang berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta di Plaza Ngasem pada tanggal 28 September 2019, mulai pukul 19.00 wib sampai 20.00 wib.Sendratari Lawung KumpeniKomposisi di dalam Sendratari Lawung Kumpeni ini menggambarkan tentang keseimbangan di dalam kehidupan manusia, dimana ada sisi antagonis (Kumpeni Belanda) dan Protagonis (Pasukan Pangeran Mangkubumi) yang pada akhirnya protagonislah yang akan memenangkan konflik yang terjadi.Sendratari Lawung KumpeniKomposisi ini juga terispirasi dari komposisi Beksan Lawung Jajar yang menggambarkan tentang Prajurit Kraton Yogyakarta yang sedang berlatih perang menggunakan property lawung (sebuah tombak yang berujung tumpul) yang dilakukan oleh 12 orang yang terdiri dari 2 botoh, 4 jajar, 4 pengampil dan 2 solotho yang dalam ini di garap dengan 4 prajurit Mangkubumi, 4 kumpeni, 2 botoh terdiri atas 1 Mangkubumi dan 1 Kumpeni.Sendratari Lawung KumpeniKonsep gerak dalam Sendratari ini bisa diibaratkan hibridasi yang artinya menghadirkan idiom lain diluar cultural garapan seni tradisi. Dalam garapan ini juga menghadirkan gerak realistis Belanda yang terlihat dengan kastum ala Pasukan Belanda jaman Penjajahan.Sendratari Lawung KumpeniDemikian pula suara trompet beserta gendering yang menguatkan karakter atau tokoh Belanda dengan tetap mengutamakan harmoni dengan bendhe sebagai ciri Jhatilan tetap dihadirkan sehingga ini merupakan kolaborasi antara iringan tradisi dan modern.Sendratari Lawung KumpeniBusana yang dikenakan Prajurit Pangeran Mangkubumi menggunakan busana prajurit lurik yang terinspirasi dari busana Bergada Prawirotama Kraton Yogyakarta dengan properti Lawung, sedangkan Pasukan Belanda menggunakan busana yang dibuat menyerupai prajurit Belanda pada masa penjajahan dengan property senapan.Sendratari Lawung KumpeniIringan musiknya dalam Sendratari ini menggunakan pola Rog rog asem dengan alur yang digarap dengan nuansa Jathilan. Dengan urutan pacak prajurit Lancaran  budhalan, rep. rambangan pangkur, ganjur, kemudian pada adegan perangan menggunakan carabalen garapyang diseling rep. bendhe angklung ngglece, kemudian kembali playon, rep. durmo, yang diakhiri dengan baris serempak Prajurit Mangkubumi.Sendratari Lawung KumpeniSendratari Lawung Kumpeni.

1Karya:Dr. Kuswarsantyo M. Hum
2Ass Penata Tari:Otok Fitrianto M.Pd dan Muharam  SPd
3Penata Karawitan:Anon Suneko M.Sn
4Tim Pengrawit:Gaung Kyan R. Sidharta, dkk
5Penari:
  1. Kreff
  2. Sagit
  3. Bagas
  4. Dandi
  5. Fandhi
  6. Muharam
  7. Yudha
  8. Ega
  9. Habib
  10. Ricki
  11. Piston
  12. Wahyu

Sendratari Lawung Kumpeni“Memberikan edukasi tentang perjuangan Pangeran Mangkubumi terhadap penjajah Kolonial Belanda (Kumpeni), yang kedepannya sendratari ini akan disosialisasikan kesekolah-sekolah sebagai pelajaran pembetukan karakter bagi generasi milenial. Selain itu pada tahun 2020 “Doktor Jhatilan” akam masuk ke sekolah-sekolah yang semuanya ini murni inisiatif dari Bale Seni Condroradono dalam melakukan inovasi terhadap pelestarian dan pengembangan seni budaya Indonesia secara nyata”, ujar Dr. Kuswarsantyo, M. Hum disela-sela acara di Plaza Ngasem Yogyakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here