myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Sugeng pagi sedherek-sedherek. Perpaduan dua sanggar untuk berkolaborasi membentuk sebuah drama tari dalam suatu pertunjukan dibutuhkan kekompakan dan segala keegoisan harus dihilangkan. Semua ini terlihat dalam drama tari berdirinya Kerajaan Singo Barong di Alas Lodoyo yang merupakan merupakan bagian cerita singkat dari perjalanan Klono Sewandono untuk mempersunting Dewi Songgolangit dari Kerajaan Kediri.Singo Barong di Alas LodoyoSepanjang dari Pajang sampai Kediri di perbatasa Jawa Timur, ada sebuah hutan yang lebat yang biasanya disebut dengan alas Ladoyo. Kawasan hutan ini diduduki oleh sekelompok brandalan yang sakti yang biasa dikenal dengan sebutan Warok dan mempunyai raja yang sakti mandraguna dengan sebutan Singo Barong.Singo Barong di Alas LodoyoWujud Singo Barong adalah berkepala harimau dengan burung merak diatasnya. Tiada yang bisa mengalahkan raja Singo Barong, sehingga kerajaannya menjadi besar, disegani dan banyak ditakuti oleh siapapun. Singkat cerita hanya Prabu Klono Sewandono yang berhasil mengalahkan Singo Barong, yang  pada akhirnya kerajaan alas Lodoyo menjadi bagian dari kerajaan Bantarangin yang dipimpin Prabu Klono Sewandono dan istrinya Songgo Langit.Singo Barong di Alas LodoyoDrama tari berdirinya Kerajaan Singo Barong di Alas Lodoyo di tampilkan oleh Sanggar Singo Yogo  yang berkolaborasi dengan Semarak Candrakirana dalam International Mask Festival 2019 diselenggarakan oleh SIPA Community, Semarak Candrakirana dan di fasilitasi oleh Pemerintah Kota Surakarta yang tahun ini memasuki tahun ke enam, di Pendopo Gedhe Balaikota Surakarta, yang dilaksanakan pada tanggal 5-6 Juli, tepatnya pada pukul 19.00 wib sampai selesai.Singo Barong di Alas LodoyoFestival ini pada tahun ini mengusung tema “Soul of the Mask” yang mempunyai arti, bahwa jiwa topeng dihidupkan/diinterprestasikan oleh para pemainnnya, atau sebaliknya pemain topeng mengikuti karakter topeng tersebut baik dalam bentuk tari klasik, tradisi maupun kontemporer.Singo Barong di Alas LodoyoSemarak Candrakirana Surakarta merupakan sanggar tari yang didirikan oleh Dra. R.Ay Irawati Kusumorasri, M.Sn pada tahun 1998. Sanggar ini mengajarkan berbagai tarian mulai dari tari klasik, tradisional sampai kontemporer. Sampai sekarang sanggar ini menjadi salah satu sanggar tari yang syarat akan prestasi dan bahkan beberapa kali mengirim duta tari ke manca negara untuk mengikuti ajang seni budaya yang diadakan oleh Indonesia di luar negeri.Singo Barong di Alas LodoyoSedangkan Sanggar Singo Yogo  merupakan grup reog anak-anak yang didirikan oleh Agung Setiono pada tanggal 14 Nopember 2018 yang berhome base di kampung Margorejo RT 05, RW 04 Banyuanyar, Banjarsari Surakarta. Sanggar ini beberapa kali tampil di sebuah pertunjukan sebagai opening atau closing ceremony di beberapa festival-festival atau pagelaran  di seputar Kota Solo dan Yogyakarta.Singo Barong di Alas LodoyoKolaborasi ini sungguh sangat menarik, dimana dalam Singo Barong yang identik dengan Reog Ponorogo sampai sekarang dalam perkembangannya masih dihubungkan dengan seni yang berbau mistis dan kebatinan, tapi kali ini disungguhkan tidak dengan itu semua, lebih menampilkan hiburan yang esensinya masih memegang pakem dengan menampilkan Warok, Jhatilan, Bujang Ganong, Barongan dan Klono Sewandono versi anak-anak.Singo Barong di Alas LodoyoSedangkan tari merak yang merupakan tari kreasi baru yang mengedepankan kehidupan burung merak benar-benar menyatu dengan Singo Barongnya. Walaupun ditarikan secara bersama-sama, keduanya saling mengisi sehingga kesannya sangat kompak dan padu.Singo Barong di Alas LodoyoGerak dalam drama tari berdirinya Kerajaan Singo Barong di Alas Lodoyo juga banyak menggunakan ragam tari tradisi yang geraknya sangat lincah dan mantap serta anggun menyatu menjadi satu. Kadang juga diselinggi gerakan-gerakan lucu dan menghibur, sehingga tercipta gerakan-gerakan yang dinamis dan variatip yang menghibur penotonnya.Singo Barong di Alas LodoyoBusana yang dikenakan terbagi menjadi dua, dimana Singo Barong masih identik dengan Reog Ponorogo dengan Warok, dengan senjata pamungkasnya berupa kolor putih dan celana hitamnya, Jhatilan yang identik dengan prajurit putri  yang cantik menggunakan kain satin putih, jarik dan udheng mengendarai kuda kepang.Singo Barong di Alas LodoyoBujang Ganong menggunakan rompi dan topeng merah, sampur, binggel dan stagen. Barongan membawa dadak merak, Klono Sewandono menggunakan identitasnya berupa topeng merah, sedangkan Tari Merak memakai busana yang menggambarkan atau repertoar dari burung merak.Singo Barong di Alas LodoyoUntuk riasannya, cenderung menggunakan riasan karakter dengan penebalan-penebalan yang sangat membantu penari dalam mendalami peran yang ditampilkan, disamping ada beberapa yang tidak menggunakan make up, karena menggunakan topeng seperti Klono sewandono dan Singo barong.Singo Barong di Alas LodoyoMusik pengiring drama tari berdirinya Kerajaan Singo Barong di Alas Lodoyo menggunakan alat musik tradisional secara live show yang mengadopsi musik tradisional Reog Ponorogo, dimana kendang dan trompet sangat mendominasi. Tapi sekarang ini banyak sekali ditambahi dengan alat musik yang lain, yang semuanya ini dapat menambah khasanah musik yang variatip sebagai bagian seni pengiring musik dalam sebuah pertunjukan.Singo Barong di Alas Lodoyo“Sebuah kolaborasi sanggar tari yang elok, apalagi keduanya menampilkan penari-penari muda sebagai generasi anak milineal dalam pertunjukan ini. Ini sangat membantu sekali dalam hal pelestarian dan pengembangan seni budaya secara nyata, karena ditangan merekalah ini semua akan diteruskan sesuai dengan jamannya”, ujar Dra. R.Ay Irawati Kusumorasri, M.Sn, selaku ketua Sanggar Semarak Candrakirana. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here