myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Selamat pagi, semoga semua sehat dan bahagia. Untuk mendapatkan cinta semua harus perlu pengorbanan, dan itu berlaku terhadap semua manusia. Baik, jahat dan buruk kadang di lupakan dalam hal yang menyangkut cinta. Apapun halangannya pasti akan dilaluinya. Semua ini terlihat dalam Wayang Orang Sinta Murca merupakan salah satu cerita yang diambil dari epos Ramayana yang didalamnya menceritakan tentang hilangnya Dewi Sinta karena diculik oleh Raja Alengkadiraja Prabu Dasamuka.Sinta MurcaPrabu Dasamuka adalah Raja yang sakti mandraguna, bahkan para Dewa pun tidak mampu menghadapinya. Ambisinya untk menguasai jagad raya semakin tampak, ketika ia bersikeras untuk memperistri Dewi Widawati yang menitis pada Dewi Sinta istri Ramawijaya.Sinta MurcaDalam usahanya Prabu Dasamuka mengutus Sarpekenaka untuk melakukan siasat licik agara Dewi Sinta yang berada kala itu di hutan Dandaka bersama Raden Ramawijaya dan Lesmana, dapat lepas dari perlindungan Raden Ramawijaya dan Lesmana.Sinta MurcaPada akhirnya Prabu Dasamuka berhasil menculik Dewi Sinta. Burung Garuda Jatayu yang berusaha menghalangi Prabu Dasamuka, bahkan tewas ditangannya. Dalam pencahariannya Raden Ramawijaya dan Lesmana berjumpa dengan Wanara Seta yang menanyakan siapa bapaknya.Sinta Murca

Karena Ramawijaya titisan Bathara Wisnu, maka dia memberikan petunjuk yang jelas kepada Wanara Seta apa yang diminta siapa bapaknya, dengan mengutus Wanara Seta yang kemudian lebih dikenal dengan nama Anoman kera putih untuk pergi ke Gunung Suralaya.Sinta MurcaWayang Orang dengan judul Sinta Murca ini di pertunjukan pada acara Catur Sagatra 2019 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan DIY yang pada tahun ini memasuki tahun ke 9, di Kagungan Dalam Bangsal Pagelaran Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat, tepatnya tanggal 13 Juli 2019, mulai pukul 19.30 wib sampai selesai sebagai penampil pertama oleh Pura Mangkunegaran Surakarta.Sinta MurcaCatur Sagatra 2019 pada tahun ini mengambil tema “Tegur Sapa Cultural” dengan menampilkan Wayang Orang dengan cerita Klasik Ramayana secara komplit, dengan urutan Pura Mangkunegaran “Sinta Murca”, Kasultanan Yogyakarta “Subali Lena”, Pura Pakualam “Anoman Duta” dan Kasunanan Surakarta dengan “Sinta Obong”.Sinta MurcaSebuah tontonan yang luar biasa, jarang sekali pertunjukan seperti ini diadakan, dimana masyarakat umum bisa melihat keunikan dan kekhasan serta rasa yang berbeda-beda dari masing-masing Kraton. Mulai dari gerak, kastum maupun gendhing-gendhing semua akan berbeda dan memiliki rasa klasik.Sinta MurcaKomposisi di dalam Wayang Orang berjudul Sinta Murca ini mengungkap bagaimana sesorang manusia yang mengumbar angkara murka dan keserakahan demi ambisi dan egonya untuk menguasai dunia. Disisi lain juga mengungkap manusia yang selalu mengedepankan laku utama, kesetiaan, cinta kasih dan pengorbanan.Sinta MurcaCatur Sagatra 2019 pada tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana format pertunjukannya berupa Wayang Orang Pendopo yang dulunya hanya dipertunjukan di dalam Kraton saja. Hal ini sangat berbeda dengan pertunjukan Wayang Orang yang biasanya dipertunjukan di Ngesti Pandowo, Bharata maupun Sriwedari. Disini akan memperhatikan pola-pola keruangan yang disesuaikan dengan arsitektur pendopo.Sinta MurcaGaya tari di Pura Mangkunegaran merupakan perpaduan antara gaya Kraton Kasultanan Yogyakarta dengan Kraton Kasunanan Surakarta. Dari perpaduan dua gaya ini kemudian lahir sebuah gaya baru yang khas yang sekarang ini lebih dikenal dengan gaya Mangkunegaran.Sinta MurcaRagam gerak dalam Wayang Orang Sinta Murca menggunakan ragam gerak yang mempunyai ciri khas gerak dari Pura Mangkunegaran, dengan pola lantai yang sangat variatif karena tempatnya di Pendopo, tidak hanya dua arah saja tetapi ada bentuk bulat, diagonal, lurus dan melintang. Wayang Orang Pendopo ini dulu berjaya di masa Sri Mangkunegaran ke V.Sinta MurcaBusana pun sama, berupa perpaduan antara gaya Kraton Kasultanan Yogyakarta dengan Kraton Kasunanan Surakarta. Yang dipakai oleh Ramawijaya dan Lesmana memakai wiron dengan bentuk cupit urang dan posisinya tepat ditengah dengan bentuk irah-irahan dengan motipnya yang berbeda. Demikian juga mekak, ada bentuk lengkung dengan untaian benang emas dan mote, semua ini yang mempunyai hanya Pura Mangkunegaran.Sinta MurcaIringannya cenderung ke Kraton Kasunanan Surakarta, sedangkan gendhing-gendhingya cenderung mirip dengan Kraton Kasultanan Yogyakarta. Perbedaan penggayaan Mangkunegaran ini sangat jelas pada mas Sri Mangkunegaran ke VII.Sinta MurcaSinta Murca

1Persembahan:Kemantren Langen Praja Puro Mangkunegaran
2Penata Tari:R.T. Samsuri Sutarna
3Penata Iringan:Wahyu Santoso Prabowo, S.Kar.,Ms
4Penari:Shinta (Novita Sofia)
Rama (Angga Febri)
Rahwana (Wijanarko Lasya)
Lesmana (Joko Febri)
Kidang (Ylia Astuti)
Anoman (Sri Yadi)
Sarpakenaka (Utik)
Jathayu (Dewa)
Kolomarico (Dinar)

Sinta Murca“Pura mangkunegaran selalu mengajak anak-anak milineal utuk ikut latihan tari di Pura Mangkunegaran yang tiap 3 bulan sekali ada semacam uji kopentesi yang menunjukan sampai progresnya selama ini berlatih, juga ada ASGA yang fokus pada gaya Mangkunegaran baik di karawitan, tari, teather sampai pedalangan”. ujar Wahyu Santoso Prabowo, S.Kar,Ms selaku team dari Kraton Mangkunegaran sebagai penata iringan. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here