myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Selamat pagi, salam hangat, sehat dan sejahtera. Kesucian dan ketulusan cinta adalah salah satu karya klasik Yang Maha Kuasa yang diberikan kepada manusia untuk menghadapi tantangan kehidupan di dunia ini. Lakon Sinta Obong yang menjadi salah satu gambarannya, yang merupakan lakon Wayang Orang yang diambil dari epos Ramayana yang di dalamnya menceritakan tentang Dewi Sinta yang melakukan tindakan membakar dirinya untuk membuktikan kesucian cintanya yang diragukan oleh Ramawijaya.Sinta Obong, classic dancePerang Bharatayuda Sari Kudup Palwaga telah terjadi, Alengkadiraja dan Swelogiri menjadi saksi, tetapi hati temaram masih menyelimuti Sri Widawati, sejumlah peristiwa di Alengkadiraja telah menyayat perasaan Sang Rahwana.Sinta Obong, classic danceKemenangan telah dimiliki oleh Ramawijaya, tetapi ternyata keiklasan hatinya terusik, keraguan menghinggapi relung hati terdalamnya akan kenyataan cintanya kepada Dewi Sinta, karena sudah terlalu lama di Alengkadiraja. Melihat ini semua Dewi Sinta merasa sedih dan gundah gulana.Sinta Obong, classic danceSetelah sekian tahun dia mempertahankan kesucian dan ketulusan cintanya kepada Ramawijaya, ternyata semuanya diragukan. Untuk membuktikan ini semua maka dia melakukan Pati Obong sebagai tanda cinta dan ketulusannya masih murni dan belum tersentuh siapapun.Sinta Obong, classic danceApi berkobar membakar diri dan jiwanya, melihat ini semua Ramawijaya terkesikap, matanya berkaca-kaca. Apapun yang terjadi, Dewi Sinta adalah istri dan belahan jiwanya dan dia tidak tega terhadap semuanya ini. Ternyata kesucian dan ketulusan cinta Dewi Sinta, telah menyelamatkan semuanya ini.Sinta Obong, classic danceApi tidak bisa membakar kesucian dan ketulusan cinta Dewi Sinta. Ramawijaya menghampiri dan memeluk Dewi Sinta, dengan senyum Dewi Sinta menerima pelukan Ramawijaya. Ramawijaya menyesal telah meragukan cinta istrinya. Kesucian dan ketulusan cinta Dewi Sinta telah melindungi keduanya, sebuah cinta yang luar biasa.Sinta Obong, classic danceWayang Orang dengan judul Sinta Obong ini di pertunjukan pada acara Catur Sagatra 2019 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan DIY yang pada tahun ini memasuki tahun ke 9, di Kagungan Dalam Bangsal Pagelaran Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat, tepatnya tanggal 13 Juli 2019, mulai pukul 19.30 wib sampai selesai sebagai penutup acara oleh Kraton Kasunanan Surakarta.Sinta Obong, classic danceCatur Sagatra 2019 pada tahun ini mengambil tema “Tegur Sapa Cultural” dengan menampilkan Wayang Orang dengan cerita Klasik Ramayana secara komplit, dengan urutan Pura Mangkunegaran “Sinta Murca”, Kasultanan Yogyakarta “Subali Lena”, Pura Pakualam “Anoman Duta” dan Kasunanan Surakarta dengan “Sinta Obong”.Sinta Obong, classic danceSebuah tontonan yang luar biasa, jarang sekali pertunjukan seperti ini diadakan, dimana masyarakat umum bisa melihat keunikan dan kekhasan serta rasa yang berbeda-beda dari masing-masing Kraton. Mulai dari gerak, kastum maupun gendhing-gendhing semua akan berbeda dan memiliki rasa klasik.Sinta Obong, classic danceBeberapa ciri khas yang ada di Wayang Orang dari Kraton Kasunanan Surakarta diantaranya berupa gerak yang seluruhnya menggunakan ragam tari klasik gaya Suarkarta yang  sangat lembut penuh dengan makna tapi tetap expressive di setiap geraknya.Sinta Obong, classic danceDialog (antowecono) lebih ditekankan yang semuanya dapat menggambarkan situasi yang dibangun di Pendopo, selain itu peran dari acting (drama) dan peran dalang sangat mendukung dan semua tersaji dalam satu pertunjukan ini.Sinta Obong, classic dance“Sebuah penampilan yang luar biasa, bahkan saya  menangis mendengar dialog dan tembangnya Dewi Sinta yang sangat dalam dengan bahasa sastranya yang terpilih, gendhingnya sangat tepat. Ini seperti gendhing yang di pakai Sinuwun Jengkar meninggalkan pendopo setelah Tari Bedhaya Ketawang usai, sangat tepat untuk Dewi Sinta ketika meninggalkan taman Argasoka”, ujar Dra. Hastuti M.Hum (Dosen ISI Yogyakarta) salah satu penonton yang setia sampai acara ini selesai.Sinta Obong, classic danceKraton Kasunanan Surakarta selama ini menjawab semua tantangan jaman dengan mempertahankan tradisinya dengan melibatkan anak-anak jaman milineal, dalam pertunjukan ini, ceritanya lebih dibuat kekinian dengan tetap mempertahankan bentuk gerak, busana, gendhing dan dialognya yang masih menggunakan pakem-pakemnya.Sinta Obong, classic dancePemain dalam pertunjukan ini juga banyak anak-anak muda yang mayoritas anak-anak lulusan ISI Surakarta yang mengabdi di Kraton Kasunanan Surakarta yang tetap didampingi para seniornya, serta juga melibatkan beberapa pemain Wayang Orang dari Sriwedari.Sinta Obong, classic dance“Dengan Catur Sagatra 2019 ini dapat sebagai media untuk mengenalkan keaneka ragaman tradisi yang kita punya kepada generasi muda, yang harus di jaga dan dilestarikan, selain itu juga acara ini menjadi ajang silaturahmi bagi ke empat Kraton Trah Mataram”, ujar Benedictus Billy Aldi Kusuma S.Sn selaku penulis narasi Sinta Obong dari Kraton Kasunanan Surakarta. (Soebijanto/reog biyan).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here