myimage.id | Salam Budaya, sugeng enjing, sugeng kewarasan sedoyo. Bulan Suro dapat dijadikan momen bagi umat manusia untuk mawas diri dan intropeksi terhadap diri kita dengan  banyak melakukan tirakat untuk mencari jati diri manusia sebagai ciptaanNya dan ini dijadikan sebuah tradisi budaya oleh masyarakat Jawa yang dari dulu masih terpelihara dan berjalan sampai sekarang dengan baik. Semua ini tergambar dalam Srawung Seni Sakral 2019 yang merupakan  sebuah acara tradisi dalam rangka menyambut bulan Suro yang dilakukan oleh para seniman sebagai bentuk satu ruang untuk berekspresi dalam sebuah karya seni sebagai simbol ucapan syukur kepada Sang Pencipta atas segala karunia yang diterima selama ini.Srawung Seni Sakral 2019Acara ini diawali dengan Wilujengan Mapag Suro yang dilakukan di Tugu Pamadengan (Tugu KM 0 Kota Surakarta) dengan konsep laku Panembahan yang digarap dengan kolaborasi lantunan Mantram Islam Jawa oleh Ki Ronggo Jati dan monolog serta tembang Panembahan oleh Sri Hadi yang intinya warga Surakarta mempersembahkan semua ini kepada Sang Pencipta dan minta kedamaian serta keutuhan Ibu Pertiwi Indonesia.Srawung Seni Sakral 2019Dari Tugu Pamadengan rombongan di bawa ke Halaman Balai Kota Surakarta yang kemudian dilanjutkan dengan Umbul Donga Nuswantara yang dilakukan oleh para seniman-seniman Surakarta seperti Sri Hadi, RonggoJati, Wahyu Santoso Prabowo, Daryono, S. Pamardi, ST Wiyono, Agung Kusuma W, Hari Mulyatno, Rusini dan Dorothea Quin.Srawung Seni Sakral 2019Kemudian ditampilkan Bedhaya Suro Solo yang secara khusus di ciptakan pada Bulan Suro ini. Tarian ini dijadikan pisungsung oleh Wahyu Santoso Prabowo kepada Pemkot Surakarta lewat FX Hadi Rudyatmo selaku Walikota Surakarta sebagai salah satu simbol Srawung Seni Sakral 2019 dimulai.Srawung Seni Sakral 2019Srawung Seni Sakral 2019 diawali dengan pidato pembukaan oleh Kinkin Sultanul Hakim, SH, MM selaku Kepala Dinas Kebudayaan Pemkot Surakarta yang menyatakan, “bahwa event ini untuk mendukung dan menghidupkan Kota Surakarta sebagai Kota Budaya yang maju, mandiri dan sejahtera lewat pertunjukan seni budaya dalam menyambut bulan Suro dimana dalam tradisi Jawa pada bulan ini kita dituntut memperbanyak kebaikan dan event ini dijadikan ajang silaturahmi bagi seniman-seniman yang ada di Surakarta”.Srawung Seni Sakral 2019Kemudian dilanjutkan pidato dari FX Hadi Rudyatmo selaku Walikota Surakarta sekaligus sebagai pembuka acara ini yang menyatakan, “Srawung Seni Sakral 2019 yang memasuki tahun ke 7 diharapkan semakin dipromosikan agar masyarakat luas semakin tahu, bahwa cara ini merupakan salah satu kekayaan yang luar biasa yang dimiliki oleh Pemkot Surakarta yang merupakan produk dari para seniman-seniman Surakarta”.Srawung Seni Sakral 2019Srawung Seni Sakral 2019 diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Surakarta lewat Dinas Kebudayaan di halaman Balai Kota Surakarta tepatnya pada hari Sabtu, tanggal 31 Agustus 2019, mulai pukul 19.30 wib sampai selesai.Srawung Seni Sakral 2019Dalam acara ini, ada 5 penampil yang semuanya bertemakan “Sesaji Yang Sakral” yang mana dalam tarian yang tampil semua menggambarkan tentang kepasrahan manusia kepada Sang Pencipta, yang diawali dengan tari Laok Bawo dari Kalimantan Timur, Dian Arsa Dance dari Lampung, Dharmacakra Prabha dari Wilis Solo, Totem dari Miroto Yogyakarta dan di akhiri dengan Bedhaya Saptongkara dari I Nyoman Chaya, Bali.Srawung Seni Sakral 2019Dari ini semua acara ini menunjukan bahwa ke Bhineka Tunggal Ika ada di Kota Surakarta karena selalu menghadirkan seniman dan budayawan dari seluruh Nusantara dan ini dapat dijadikan sebagai ajang silaturahmi bagi seniman dan budayawan Indonesia.Srawung Seni Sakral 2019Bulan Suro dalam tradisi budaya Jawa dari dulu sampai sekarang masih terpelihara dan berjalan dengan baik di dalam masyarakatnya terutama Surakarta. Dalam filosofinya, masyarakat Jawa selalu menginginkan keharmonisan dan keselarasan dalam kehidupan yang berkonsep “Mamahayu Hayuning Bawono” dan selalu menjadi landasan budi pekerti dalam setiap tindakan yang dilakukan manusia di dunia ini.Srawung Seni Sakral 2019“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi Kota Surakarta yang memiliki kualitas dan inovasi terhadap kegiatan-kegiatan seni budaya sehingga Kota Surakarta sangat banyak diisi oleh event-event budaya yang selalu melibatkan masyarakat untuk ikut andil dalam setiap kegiatan yang dilangsungkan”, ujar Esti Andriani S.Sn, M.Si, selaku Kasi Kesenian dan Diplomasi Budaya Dinas kebudayaan Kota Surakarta.Srawung Seni Sakral 2019Dukungan penuh terhadap event ini tidak hanya dari pemerhati dan penggiat seni budaya dan Pemkot Surakarta saja, tetapi juga dari masyarakat umum, disetiap kegiatan Pemkot Surakarta selalu melakukan inovasi dan kreasi dengan harapan nantinya akan berdampak luas terhadap sektor sosial, ekonomi dan pariwisata Kota Surakarta, sehingga dapat menyesejahterakan masyarakatnya. (Soebijanto/reog biyan).

3 COMMENTS

  1. […] Srawung Seni Sakral 2019 yang merupakan  sebuah acara tradisi dalam rangka menyambut bulan Suro yang dilakukan oleh para seniman sebagai bentuk satu ruang untuk berekspresi dalam sebuah karya seni sebagai simbol ucapan syukur kepada Sang Pencipta atas segala karunia yang diterima selama ini.Komposisi di dalam tarian ini mengandung makna mengekspresikan panjatan doa yang khusuk kepada Sang Pencipta dengan harapan Kota Surakarta makin tumbuh berkembang, bersinar, aman, tentram, rukun, damai, semakin maju dan sejahtera serta diharapkan munculnya daya spiritual magis (esoteric) yang menyatukan semua umat manusia.Wahyu Santosa Prabowo lahir di Tegal, 14 Januari 1952, mengajar di ASKI pada tahun 1978 yang sekarang berubah menjadi ISI Surakarta. Lebih dari 50 karya tari yang beliau hasilkan beserta gendhing-gendhingnya. Beberapa karya beliau diantaranya Rudrah (1979), Bagawadgita (1984), Rekonstruksi gending Bedhaya Diradhameta Kraton Pura Mangkunegaran (2007), Risang Wrahatnala (2010), dan Sunan Kalijaga bersama dosen dan mahasiswa University of Michigan (2017).Struktur dan ragam gerak  tari berpijak pada vocabulary ragam gerak tari gaya Kraton Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran, serta ragam gerak baru yang tetap mempertimbangkan rasa gerak Bedhaya dengan pola lantai yang berpijak pada pola lantai dalam Tari Bedhaya seperti garuda nglayang, supit urang, cakra, blumbangan, jejer wayang dan rakit tiga-tiga.Busana dan tata riasnya tetap menggunakan yang lazim pada Tari Bedhaya yaitu memakai busana dodot ageng dengan motif parang, kain menggunakan samparan warna merah, sampur, sedangkan tata riasnya termasuk dalam kategori  rias cantik dengan tata rambut kadhal menek dengan menggunakan jambul merah putih yang menggambarkan nuansa merah putih yang menjadi pijakan Bangsa Indonesia.Bentuk gendhing dan strukturnya berpijak pada garap Bedhaya yang sudah ada yaitu gunakan gamelan ageng Klasik Jawa berupa slendro dan pelog, dimulai dari pathetan lasem slendro nem, ketawang gendhing kemanak tawang arum malik pelog barang Inggah ketuk 4 suwuk, pathetan jugag pelog barang, ketawang kaliling pelog barang, ladrang babar layar pelog nem yang semuanya menggunakan vokal bersama dengan syair-syair baru yang sudah disiapkan untuk acara Mapag Suro.Bedhaya Tawang Arum. […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here