myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Selamat pagi, semoga semua sehat dan bahagia. Jalan kehidupan merupakan sebuah misteri bagi setiap mahluk hidup yang mana kita tidak akan mengetahuinya kapan itu terjadi. Segala resiko yang kita perbuat didunia ini pasti ada sebab dan akibatnya bagi kita. Semua ini terlihat dalam wayang Orang dengan lakon Subali Lena yang merupakan cerita Wayang Orang yang idenya ceritanya mengambil dari epos Ramayana yang didalamnya menceritakan tentang gugurnya Subali di tangan Ramawijaya.Subali Lena, classic danceDalam episode Subali Lena kali ini merupakan kelanjutan dari “Sinta Murca”, dimana Bathara Guru semakin merasa lebih kawatir terhadap sikap angkara murkanya Prabu Rahwana yang semakin hari tidak bisa dikendalikan di dunia ini.Subali Lena, classic danceAdalah Bambang Senggono (Hanoman), sosok kera putih yang ternyata adalah putra Bathara Guru yang menginspirasi untuk mencari cara agar semua Dewa menciptakan wujud kera yang berasal dari perpaduan antara sosok kera (kapi) dan berbagai macam hewan. Para Kapi inilah, nantinya akan membantu perjuangan Ramawijaya.Subali Lena, classic danceDi tempat lain, Ramawijaya dan Lesmana semakin larut dalam suasana sedih atas hilangnya Dewi Sinta yang diculik oleh Prabu Rahwana. Di sisi yang lain Bambang Senggono meminta bantuannya untuk menyelesaikan konflik perebutan Dewi Tara antara Subali dan Sugriwa.Subali Lena, classic danceRamawijaya awalnya ragu akan keputusan untuk menyingkirkan Subali. Tetapi karena satu alasan yang kuat akhirnya segala keputusan besar ini di buatnya. Subali telah mengajarkan ilmu Pancasona kepada Prabu Rahwana inilah alasan itu semua.Subali Lena, classic danceGaris kehidupan telah tertulis, dimana pada akhirnya Subali mati di tangan Ramawijaya dan kemudian para Dewa memberi anugerah berupa tentara kapi-kapi yang membantu Ramawijaya untuk meneruskan tugas mulia, memelihara kedamaian dunia dari sifat jahat Prabu Rahwana.Subali Lena, classic danceWayang Orang dengan lakon Subali Lena ini di pertunjukan pada acara Catur Sagatra 2019 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan DIY yang pada tahun ini memasuki tahun ke 9, di Kagungan Dalam Bangsal Pagelaran Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat, tepatnya tanggal 13 Juli 2019, mulai pukul 19.30 wib sampai selesai sebagai penampil kedua oleh Kraton Kasultanan Yogyakarta.Subali Lena, classic danceCatur Sagatra 2019 pada tahun ini mengambil tema “Tegur Sapa Cultural” dengan menampilkan Wayang Orang dengan cerita Klasik Ramayana secara komplit, dengan urutan Pura Mangkunegaran “Sinta Murca”, Kasultanan Yogyakarta “Subali Lena”, Pura Pakualam “Anoman Duta” dan Kasunanan Surakarta dengan “Sinta Obong”.Subali Lena, classic danceSebuah tontonan yang luar biasa, jarang sekali pertunjukan seperti ini diadakan, dimana masyarakat umum bisa melihat keunikan dan kekhasan serta rasa yang berbeda-beda dari masing-masing Kraton. Mulai dari gerak, kastum maupun gendhing-gendhing semua akan berbeda dan memiliki rasa klasik.Subali Lena, classic danceBeberapa ciri khas Wayang Orang yang ditampilkan Kraton Kasultanan Yogyakarta dalam lakon Subali Lena, sangat menarik dimana pada jejeran, didalamnya menggunakan dampar (tempat duduk) yang mana ini merupakan pola baku Wayang Orang gaya Mataraman, serta adanya lagon, kondo, ontowecono (dialog) dimana ini merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam struktur atau adegan dalam Wayang Orang gaya Mataraman.Subali Lena, classic danceSedangkan gerak yang dipakai mengacu pada gerak tari klasik gaya Yogyakarta yang selama ini kita kenal, yang mempunyai kekhasan tersendiri yang tidak dipunyai oleh 3 Kraton yang lainnya dan ini bukan merupakan kreasi, semua mengacu yang sudah ada (pakem).Subali Lena, classic danceDalam pola lantainya memang ada beberapa variasi terutama dalam pola peperangan serta pola enjeran yang disesuikan dengan jaman kekinian. Hal ini disebabkan karena pesertanya banyak anak muda sehingga pengembangan ini sangat mungkin, dan Wayang Orang kali ini dilakukan di Pendopo yang penggarapannya lebih leluasa untuk lebih berkreasi didalamnya.Subali Lena, classic dancePengembangan-pengembangan ini sangat memungkinkan dengan adanya lurugan yang sudah digarap (kekinian) yang ditampilkan disini, dimana adanya tarian Wanara yang sangat viral di media sosial atau yang lebih dikenal dengan Flash Mob tari Wanara di Malioboro dan Jakarta.Subali Lena, classic danceSebenarnya konsep lurugan didalam Wayang Orang gaya Mataraman ada sendiri spesifikasinya yang tidak seheboh yang di Flash Mob, tapi karena semua ini mengikuti perkembangan jaman, maka dalam Wayang Orang kali ini ditampilkan tari Wanara ini dengan kastum kapi-kapi yang komplet dan ini sungguh menarik sekali.Subali Lena, classic danceInilah garapan anak-anak muda (milineal) yang mendapat respon yang sangat luar biasa diseluruh Indonesia. Disini tidak hanya gerak tapi iringan lurugannya juga sudah digarap sehingga lebih variatif dan dinamis. Perubahan dalam hal perkembangan Karawitan yang luar biasa diperlihatkan disini , adanya keberanian menyisipkan konsep baru yang masih dalam satu rangkaian tradisi.Subali Lena, classic danceSelama ini Kraton Kasultanan Yogyakarta selalu intens melibatkan anak-anak muda dalam setiap tampilan maupun latihannya, serta adanya dinamika mulai dari ide, gagasan dalam berlatih dalam TC yang di camp tidak hanya di dalam Kraton saja , tetapi di bawa di luar Kraton sebagai bagian penyegaran dan daya tarik tersendiri dalam melakukan inovasi. Sebuah wawasan pertunjukan modern yang masuk didalam ranah tradisional.Subali Lena, classic dance“Sebuah apresiasi khasanah budaya Kraton kasultanan Yogyakarta yang sangat inovatif, dimana sebelumnya menampilkan jenis tari Menak, sekarang dalam bentuk Wayang Orang, terutama Kapi-Kapi yang tidak hanya Wanara saja, tetapi berbagai macam hewan yang sangat variatif dan menarik diperlihatkan disini sebagai bagian pelestarian budaya secara nyata”, ujar Dr. Kuswarsatyo M. Hum selaku pelaku seni di Kraton Yogyakarta. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here