myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya, wilujeng enjang, sedherek-sedherek. Berawal dari ikut-ikutan lomba menari pada jamannya (tahun 1960an), awal mulai mencintai seni tari khususnya tari tradisi, disinilah Sukardjo yang identik dengan Tari Karonsih, sebuah tari karya dari S. Maridi yang selalu di bawakan beliau di acara apapun, sehingga teman dan koleganya menyebut beliau dengan panggilan Mas Karonsih.Sukardjo, mas karonsihSukardjo yang nama komplitnya Pakomeus Sukardjo adalah seniman tari yang lahir di Semarang pada tanggal 15 Mei 1949, belajar menari secara otodidak dengan hanya melihat para penari Ngesti Pandowo Semarang, dimana ayahnya (Alm. Cipto Dihardjo) dulu adalah salah satu penari cakil andalan grup tari Wayang Orang ini.Sukardjo, mas karonsihKeseniman tarinya lahir dari Ngesti Pandawo Semarang, hidupnya tidak jauh dari panggung Wayang Orang. Jiwanya tidak bisa lepas dari menari dan memainkan gamelan, segala apa yang ada di Ngesti Pandowo serasa ada didalam darahnya, mulai dari nama Ki Narto Sabdo sebagai pendiri dan pemilik WO Ngesti Pandowo, Pak Kusni sebagai sutradara, Pak Dirjo penjaga loket dan Pak Darto Sabdo sebagai pemain Gareng, ada selalu ada diingatan beliau.Sukardjo, mas karonsihApalagi ketika ingat nama Bung Karno (Presiden RI yang pertama kali), ketika datang ke Semarang, pastilah Bung Karno selalu menyempatkan diri untuk melihat pertunjukan Wayang Orang Ngesti Pandowo, sampai Bung Karno selalu membawa salah satu penarinya (Alm. Cipto Dihardjo ayah dari Sukardjo), manakala beliau berkunjung ke luar negeri, selalu menyajikan tari Bambangan Cakil yang mana Alm. Cipto Dihardjo selalu didapuk sebagai penari cakilnya.Sukardjo, mas karonsihDulu kehidupan berkeseniannya dari tobong ke tobong yang lain, selalu mengikuti perjalanan Wayang Orang Ngesti Pandawa, mulai dari kota Semarang, Yogyakarta, Surabaya dan Jakarta. Bahkan ketika tampil di Yogyakarta, beliau menyempatkan waktu untuk belajar ragam-ragam tari klasik gaya Yogyakarta di ASTI Yogyakarta (ISI Yogyakarta sekarang) dengan para dosen-dosennya, seperti dengan Yadi, Kusno, Parjan BA dan Bagio BA.Sukardjo, mas karonsihDari belajar dengan para dosen-dosen ini, langsung di praktekan dalam setiap pertunjukan Wayang Orang yang beliau ikuti selama itu. Perbendaharaan tentang ragam tari semakin banyak yang beliau kuasai. Prinsip dalam hidup tarinya adalah “memayu” yang secara filosofi mempunyai arti mempercantik keindahan bumi dengan seni tradisi yang semuanya untuk nguri-nguri seni tari yang didalamnya berisi tentang keluhuran budaya yang tidak lekang oleh jaman.Sukardjo, mas karonsihBertemu dengan Chatarina Sri Handayani yang sekarang menjadi pendamping hidupnya manakala menjadi mudika di Gereja Katedral Randusari Semarang. Berdua menyukai dengan seni tari yang diselenggarakan oleh Gereja yang waktu itu memberikan pelatihan tentang tari dan gamelan, dengan guru dan yang berlatih tidak hanya beragama katolik saja, dari lintas agama dan memang orang-orang yang hendak ikut melestarikan kebudayaan.Sukardjo, mas karonsihBeliau berdua kemudian bertekad memajukan seni tari dengan mengikuti pelatihan-pelatihan tari seperti di Sanggar Kembang Sore Indonesia (Yogyakarta), Tari Anak Bina Tari Jawa Timur dan Rafiq Dance Jawa Timur, Bagong Kussudirahadjo Yogyakarta yang kemudian ditularkan ke anak didik dan teman-teman sesama pelatih tari di Semarang.Sukardjo, mas karonsihBerdua mendirikan Sanggar Antika Budaya Semarang pada tahun 1986, yang berhome base selalu berpindah-pindah dengan segala kesulitan dalam pengelolaan sebuah sanggar tari. Terakhir berhome base di SD Kanisius Pekunden Semarang sampai sekarang. Beberapa karya beliau berdua yang sempat viral dijamannya diantaranya Dampo Awang/Sam Po Khong (2004), Sendra Tari Kancil Pemersatu Bangsa (2003), dan Warag Ngendog (2002).Sukardjo, mas karonsih“Mas Kardjo merupakan seniman tari  yang mau belajar untuk kemajuan dan pengembangan seni tari. Kepuasan hati yang selalu dicari sebagai tujuan utama dalam berkarya. Setia dengan tari tradisi dan tari kreasi (pengembangan tradisi) untuk diajarkan kepada murid-muridnya di sanggar, di sekolah maupun yang belajar secara privat”, ujar Dr. Drs. Darmawan Dadijono M. Sn / Babe Iwan (Dosen ISI Yogyakarta), salah satu anak didik beliau didunia tari.Sukardjo, mas karonsihWalaupun sudah tua renta dan sudah waktunya mereka digantikan dengan generasi penerusnya, tetapi semangat beliau berdua menjadikan inspirasi bagi siapa saja yang bersinggungan dengannya. Beliau berdua lebih mengedepankan apa yang diwariskan dari para leluhur bangsa Indonesia untuk di uri-uri, lestarikan dan dikembangkan secara nyata.Sukardjo, mas karonsihDari menari semua bisa belajar mengolah rasa, raga dan jiwa yang semuanya ini dapat menentramkan hidup didunia ini, sebuah saran dari Sukardjo alias Mas Karonsih bagi anak-anak milenial yang hendaknya mulai menyadari bahwa merekalah yang nantinya akan meneruskan warisan budaya ini, yang sampai sekarang beliau masih ikut berperan dan aktif dalam gerakan seniman mengajar di Semarang. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here