myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya, sugeng enjing, sugeng kewarasan sedoyo. Orang Jawa mana yang tidak mengenal istilah bulan “suro”. Bulan Suro adalah bulan baru yang digunakan dalam tradisi penanggalan Jawa.  Di samping itu bagi masyarakat Jawa adalah realitas pengalaman gaib bahwa dalam jagad makhluk halus pun mengikuti sistem penanggalan sedemikian rupa.  Sehingga Suronan di Kraton Solo merupakan bulan baru yang berlaku di jagad gaib. Alam gaib yang dimaksudkan adalah; jagad makhluk halus ; jin, setan (dalam konotasi Jawa; hantu), siluman, benatang gaib, serta jagad leluhur ; alam arwah, dan bidadari.

Siapapun di undang dan diperbolehkan ikut dalam acara Suronan di Kraton Solo ini. Biasanya diikuti oleh warga solo serta warga diluar kota solo berduyun-duyun ikut andil didalam acara ini, bahkan turis asingpun ikut dalam suronan ini.

Hanya orang-orang tertentu saja bisa masuk dalam Suronan di Kraton Solo ini. Mereka harus menggunakan selendang khusus yang itu merupakan keharusan (ciri khas) kalau mau masuk kraton solo. Biasanya mereka menunggu didepan pintu utama.

Menjelang tengah malam Suronan di Kraton Solo ini, pintu tengah panggung Sangabuwana di buka khusus untuk peringatan hari besar ini. Para abdi dalam dan kerabat kraton berdatangan memasuki arena halaman dalam kraton dengan pakaian beskap (adat kraton)

Para abdi dalam duduk bersila di halaman kraton di depan pendopo untuk mengikuti pengajian yang diselenggarakan menjelang tengah malam. Bau menyan cukup kuat di beberapa sudut kraton yang di bakar para abdi dalam memanjatkan doa diacara Suronan di Kraton Solo.

Rangkaian prosesi acara Suronan di Kraton Solo yang akan digelar adalah upacara peringatan, Wilujengan Kholdalen SSISKS Pakoe Boewono X. Di mana sini terdapat petuah-petuah untuk selalu ingat terhadap yang maha kuasa kita sebagai hambanya.

Setiap malam Suronan di Kraton Solo akan menggelar ritual kirab beberapa ekor kebo bule (Kerbau) yang di juluki Kebo Kyai Slamet . Acara kirab pusaka ini berangkat dari kraton Solo tepat pada jam 12 malam dan mengelilingi beberapa jalan protokol di kota

Selainkan menampilkan mitos dan legenda kebo kyai slamet , juga bermacam macam keris dan tosan aji istana lainnya yang di arak keliling dengan sebuah prosesi upacara spiritual dan kental sekali dengan budaya Jawa di acara  Suronan di Kraton Solo ini. Sebuah warisan seni budaya nenek moyang kita yang layak di lestarikan dan dikembangkan yang tidak akan lekang oleh waktu. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here