myimage.id | Maestro Tari Indonesia adalah orang-orang yang mempunyai dedikasi yang tinggi terhadap seni tari Nusantara Indonesia dimana mereka menjadi inspirasi dan panutan bagi penari yang lain dan selalu berkarya untuk melestarikan kekayaan seni dan budaya tari Nusantara. Mereka juga mengembangkan tari terbaru dari karya klasiknya serta mementaskan sebagai sumber gerak tari yang di wakilinya. Setiap gerak tari yang dilakukan semacam mengandung efek ajaib dan mampu meleburkan gerakan di panggung bagi penontonnya.

6 Maestro Tari Indonesia ini tampil dalam satu panggung di penutupan Festival Payung Indonesia 2017 di Pura Mangkunegaran kota Solo tepatnya pada tanggal 17 September 2017. 6 Maestro Tari Indonesia yang melegenda tersebut adalah:

1.Rusini dari Solo.

Rusini berkecimpung di dunia seni tari sejak usia 6 tahun. Dibesarkan di lingkungan keluarga yang tekun berkesenian. Telah meraih Pascasarjana S2 dan pengajar tari di ISI Surakarta. Berkat keahliannya di dunia tari, ia pun sering melanglang buana ke berbagai Negara Eropa, Amerika, dan Asia serta berbagai daerah di Indonesia.

Maestro Tari Indonesia

Selama perjalanan tarinya, telah menciptakan puluhan karya tari di antaranya Ronggolawe Gugur, Haryo Penangsang Gugur, Rudrah, Bedaya Bangun Tulak, Bedhaya, Timasan, Tanding Parang Kusumo dan lain-lain. Kini diusianya yang genap ke 69 ia masih terus menari dan menciptakan tari. Dalam acara Maestro Tari Indonesia ini Rusini membawakan tari berjudul Ronceng yang menggambarkan permainan anak-anak pada tahun 1950-an saat bulan purnama.

2. Ayu Bulantrina Djelantik dari Bali

Ayu Bulan Djelantik sejak kecil menari berbagai tari klasik Bali dan belajar dari penguruk Bagus Raka Bongkasa, I Mario, I Kakul, Anak Agung Mandera dan Biang Sengog. Di usia 12 tahun pertama kali mendapat undangan meneri Oleg Tamulilingan di Istana Negara Jakarta, untuk tamu Negara Ho Chi Minh, 1959. Sejak tahun 1964 mengikuti berbagai rombongan Misi Kesenian RI ke manca Negara antara lain Pakistan, Thailand, Jepang dan muhibah seni di Rusia tahun 1988. Sejak tahun 1965 aktif menari di kota Bandung, Cimahi, dan mengikuti Misi Kesenian Pemerintah, antara lain ke Singapura, Bangkok (1968) Hongkong (1969) EXPO OSAKA (1970) dan beberapa Negara Eropa.

Maestro Tari Indonesia

Beberapa kreasi tarinya anatara lain : Drama Tari Legong Asmarandana (1996), Legong Witaraga (2000), Janger Anti Stress (2003), Topeng Sitarasmi (2005), Bedoyo Legong Calonarang (2006), Topeng Sitayana (2007), Legong Mintaraga (2007) Joged Podang (2010), Topeng Panji dan Rengganis (2010), Legong Arya (2013), Sang Panji (2014) Citra Saraswati (2014), Gayatri Rajapatni (2014), Dramatari Panji Inu (2015), Rejang Shanti (2017), Opera Wayang Panji Semirang (2017).

Selain pementasan, menulis artikel dan sebagai editor sebuah buku Tari Legong, dari Kajian Lontar Ke Panggung Masa Kini (2015), penerbit Dinbud Pemkot Denpasar. Dalam proses penulisan Dance Is Healing, untuk memperingati enam dasa warsa menarinya Ayu Bulutrisna Djelantik.

Maestro Tari Indonesia

Dalam acara Maestro Tari Indonesia ini Ayu Bulutrisna Djelantik membawakan Joged Pinggitan dimana joget ini salah satu Joged Bumbung yang diiring gamelan Bumbung atau Grantang (dari bamboo). Joged Bumbung adalah satu diantara Sembilan tarian genre sacral, semi sacral dan profane yang telah tercatat dalam daftar Warisan Budaya Dunia Tak Benda oleh Unesco pada 5 Desember 2015. Namun Joged Pingitan berbeda, karena tidak boleh mengajak pengibing menari bersama. Pada mulanya tarian ini berfungsi sacral, ditarikan pada hari suci untuk memohon kesuburan tanah dan penolakan bala khususnya hama tanaman. Joged Pingitan bisa membawa dramatika seperti Calonarang dengan berubah menjadi tokoh tanpa ganti kastum seperti tokoh raja, Patih, Matah Gede dan Rangda dan sering ditampilkan oleh alm. Ibu Jenik dari Batuan. Joged Pingitan yang di bawakan kali ini adalah bagian Pangawit (pembuka) tanpa dramatika, diiringi rekaman irama gamelan Bapang Gede dari Sanggar di Batuan.

3.Retno Maruti dari Jakarta.

Retno Maruti seorang seniman tari dan Maestro tari Jawa Klasik gaya Surakarta. Ia seorang kareografer yang mengembangkan tari Jawa Klasik yang dianggap kuno menjadi memukau selera penonton modern. Selain mampu menampilkan seni tradisi dengan suatu kedalaman rasa secara kreatif, ia juga melahirkan seniman  dan penari klasik muda.

Maestro Tari Indonesia

Pada tahun 2005, Akademi Jakarta memberika penghargaan Life Achieve kepada Retno Maruti yang dianggap seniman/budayawan yang telah memenuhi syarat dalam kualitas tinggi, keberlangsungan dalam karyanya serta pengabdian di bidang seni dan budaya.

Maestro Tari Indonesia

Menginjak di usianya yang ke 70 saat ini, baginya menari itu tidak sekedar gerakan olah raga saja, tetapi olah rasa, dengan menari ia mengagungkan Tuhan. Menari seperti berdoa, jadi sudah bukan fisik lagi, tetapi sudah rasa yang berbicara. Dalam keheninganpun , menari seperti berdoa.

Dalam acara Maestro Tari Indonesia ini Retno Maruti membawakan tarian Sekar Puri yang menggambarkan karakter seorang wanita yang gemulai namun cekatan.

4.Munasiah Daeng Jinne

Hj. Munasiah Daeng Jinne adalah seorang koreografer, pengali, pengembang seni tradisional Sulawesi Selatan. Lahir pada tanggal 24 november 1041 di Jeneponto Sulawesi Selatan, dari keluarga yang kuat mempertahankan adat istiadat dalam tatanan hidup. Penerima Gelar Tanda Kehormatan Presiden Kelas Satyalancana Kebudayaan 2016 dan Gelar Maestro Tari pada tahun 2010.

Maestro Tari Indonesia

Beberapa karya tarinya adalah Tari Batara 1971, Tari Pammuntali/ Padduppa, Tari Kolompoang, Tari Rampang Bulang, Tari Sikru, Tari Toddoppuli, Tari Pajujung Dapo, Tari Laklang Sipue, Tari mimpi/So’na, Fragmen Tari Samindara (Bulukumba), Fragmen Tari Lasinrang (Pinrang), Fragmen Tari Lebonna (Toraja) Tari Bunga Male (Takalar), Tari Patto-Eng/Pattojang (Bugis makasar), Tari Bunga Tonjong. Menurutnya pada tarian terdapat falsafah siri’na pace, malu bila tidak berbuat baik terhadap sesama. Dan melestarikan tarian tradisi adalah benteng kebudayaan di setiap daerah.

Maestro Tari Indonesia

Pada acara Maestro Tari Indonesia ini Hj. Munasiah Daeng Jinne membawakan tarian Pakarena yang menggambarkan Tumanurung/manusia jelmaan (bidadari) yang turun dari khayangan untuk mengajarkan kepada masyarakat dalam menjalankan hidup dan kehidupan dalam bermasyarakat etnis Makasar.

5.Dariah dari Banyumas.

Dariah lahir sebagai lelaki di Desa Somakaton, Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas, dengan nama Sadam. Ibunya bernama Samini. Ayahnya Kartameja, hidup sebagai petani kecil. Ia tidak tahu persis tahun berapa ia di lahirkan. Namun kakeknya pernah bercerita , ia lahir tidak lama setelah konggres Pemuda. Diperkirakan Dariah lahir pada akhir 1928 atau awal 1929.

Maestro Tari Indonesia

Ia adalah seniman lengger Banyumasan yang tersisa. Kemaestroannya mendapat pengakuan saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono member anugerah kategori Maestro Seniman Tradisional pada tahun 2011. Namun lebih dari itu perjalanan kesenimannya sungguh berliku. Demi seni yang begiti di cintainya, dia memilih lakon hidup menjadi perempuan walaupun terlahir sebagai laki-laki. Menurutnya nama Dariah sendiri sebenarnya hanya sebutan di panggung saat menari lengger. Namun lama kelamaan nama Dariah pun menjadi panggilan nya hingga saat ini.

Maestro Tari Indonesia

Dalam acara Maestro Tari Indonesia ini Dariah membawakan tarian Lengger Lanang yang menggambarkan ungkapan rasa syukur atas keberhasilan panen. Dimasa lalu tarian ini di tarikan di sawah atau lapangan yang luas.

6.Didik Nini Thowok dari Yogyakarta.

Didik Hadiprayitno adalah nama asli dari Didik Nini Thowok. Lahir di kota Temanggung Jawa Tengah pada tanggal 13 November 1954. Lulus ASTI/ISI Yogyakarta tahun 1982. Style tarinya unik. Menggabungkan bentuk tari klasik tradisional dengan modern ditambah komedi. Sedikit seniman tari yang melanjutkan tradisi panjang dengan bentuk tari “tradistional cross gender”. Kemampuannya meniru karakter perempuan sebaik kemampuannya dalam beragam tradisi tari seperti tari topeng Sunda, Cirebon, Bali dan Jawa Tengah, sehingga membuatnya pentas di berbagai Negara.

Maestro Tari Indonesia

Namanya identik dengan pola tarian humor. Konsep dan ide tarinya menjadi kendaraan untuk mengembirakan hati penontonnya. Ia membutuhkan waktu 20 tahun, kegembiraan yang di hadirkan dengan style dan format yang segar. Untuk mendapatkan kreasi karakter tariannya. Baginya menari bukanlah seperti yang dilakukan oleh para orang pada umumnya. Kreasi tariannya selalu merefleksikan spirit kegembiraan dan di hadirkan dengan style dan format yang segar. Karya-karyanya terinspirasi dari  ragam tari-tari tradisional Nusantara.

Maestro Tari Indonesia

Dalam acara Maestro Tari Indonesia ini Didik Nini Thowok membawakan tarian Dwi Muko Jepindo yang menggambarkan dua karakter yang berbeda, kolaborasi anatara Jepang dan Indonesia. Tarian ini menonjolkan teknik permainan topeng dari dua karakter yang berbeda, yang bersumber pada tarian tradisional. Dalam kareografernya dia memadukan unsure-unsur gerak komedi yang merupakan cirikhasnya. Kemudian di lanjutkan dengan cuplikan tari Legong Bapang gaya saba dan terahkhir tarian Topeng Walang Kekek yang mengekpresikan beberapa karakter wanita yang berbeda dengan topeng dan gerak-gerik komedi

Para penonton yang hadir di acara  ini memberikan aplause yang meriah terhadap 6 Maestro Tari Indonesia yang telah menyajikan tarian yang sangat jarang di jumpai. Penonton benar-benar melihat sajian tari tingkat Dewa dari para Maestro ini. Segala gerak, langkah mereka menjadi sorotan yang menakjudkan untuk di nikmati secara utuh dan dari awal sampai akhir oleh para penonton.

Pada waktu itu juga ke 6 Maestro Tari Indonesia ini mendapatkan penghargaan sebagai Maestro Tari Indonesia dari Sri Paduka Mangkunagoro IX dengan memberikan sertifikat dan bingkisan dari batik pria tampan. Semoga dengan tampilnya masetro-maestro ini akan muncul Maestro Tari Indonesia baru bagi penerus untuk dunia tari Nusantara ini. Rencananya Festival Payung Indonesia yang memasuki tahun ke IV ini tahun depan skala penyelengaaraanya akan dirubah tidak hanya skala nasional tapi sudah tingkat Asia, dengan hal ini maka kita akan dapat bertukar seni dan budaya dengan negara-negara Asia lainnya yang pasti akan menambah khasanah seni dan budaya Nusantara Indonesia.(Soebijanto/reog biyan).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here