myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Sugeng enjang sedherek-sedherek. Berbicara tentang tari klasik pastilah kita akan selalu mengkaitan dengan sebuah karya seni dalam tataran yang paling tinggi (agung), apalagi tarian tersebut dimaknai dengan di dasari hubungan manusia with Sang Pencipta. Semua ini terlihat di dalam Tari A-Na(d)tayaSati yang merupakan sebuah tari klasik dari negara Thailand yang di dalamnya menceritakan tentang konsep hubungan “anapanasati” (napas Buddha dengan gaya meditasi) dengan kesadaran manusia dalam mengontrol fisik, emosi, mental dan lingkungannya.Tari A-Na(d)tayaSatiKata A-Na(d)tayaSati sendiri berasal dari bahasa Thailand yang terdiri dari tiga kata yang mempunyai arti yang berbeda-beda, dimana A-Na yang mempunyai arti Anapanasati,  Na(d)taya yang mempunyai arti Tari klasik Thailand,  dan Sati yang mempunyai arti kesadaran.Tari A-Na(d)tayaSatiTarian ini merupakan ciptaan Potchanan Pantham,  yang lebih familiar dipanggil “Paem”, diciptakan untuk karya tugas akhir (tesis) S2 di Pascasarjana ISI Yogyakarta tahun 2019. Inspirasi tarian ini tercipta dengan melihat bagaimana cara integrasi antara seni tari dengan agama yang dikaitkan dengan “science” didalam kehidupan manusia.Tari A-Na(d)tayaSatiPotchanan Pantham lahir di Provinsi Sakaeo, Thailand pada tanggal  25 April 1994, merupakan lulusan S1 (BFA) Jurusan Performing Art-Thai Dance di Universitas Srinakharinwirot di Bangkok Thailand dan baru lulus S2 (M.Sn) Jurusan Penciptaan Tari di  Pascasarjana ISI Yogyakarta, Indonesia. Sekarang bekerja di Kementrian Kebudayaan Thailand Hubungan Luar Negari dalam Budaya.Tari A-Na(d)tayaSatiKomposisi didalam tarian ini mengandung 4 makna, pertama : tentang simbol agama Buddha yang jadi “utama inspirasi” dalam konsep karya ini, kedua : tentang gerakan tari klasik Thailand yang dipakai supaya pernapasan bisa seimbang dengan kontrol tubuh manusia.Tari A-Na(d)tayaSatiKetiga : tentang cara meditasi dengan pernapasan disebut “Anapanasati” yang mencakup sadar tubuh, sadar emosi, sadar mental dan sadar alam. Walaupun ada sesuatu ingin mengganggu dari luar,  semua harus bisa di kontrol dan kembali ke dalam meditasi dengan tenang. Keempat : tentang hubungan Anapanasati di dalam gerakan tari klasik Thailand menjadi “A-Na(d)tayaSati” yang menjadi utama dalam hal pernapasan.Tari A-Na(d)tayaSatiTari A-Na(d)tayaSati ditarikan di International Dance Conference and Festival 2019 pada hari pertama sesi kedua yang diikuti oleh 5 negara diantaranya Indonesia, Thailand, Korea, Australia dan Amerika Serikat (USA) yang diadakan pada hari Minggu dan Senin, pada tanggal 27-28 Oktober 2019 di ISI Yogyakarta.Tari A-Na(d)tayaSatiRagam gerak dalam tarian ini merupakan gabungan 2 gerak tari yang berbeda, gerakan tari klasik Thailand asli dan gerakan tari baru dari konsep A-Na(d)tayaSati yang dipakai pernapasan dari cara meditasi (Anapanasati) dengan penuh kesadaran.Tari A-Na(d)tayaSatiBusana yang dikenakan juga merupakan gabungan 3 busana,  pertama berupa busana yang biasa di pakai untuk tari klasik Thailand berupa chada dan sabai yang terletak dikepala penari dengan warna emas dengan baju dan celana warna putih. Kedua, busana yang biasanya di pakai oleh para Bhiksu/Buddha yang biasanya disebut dengan Jiwon yaitu kain yang diletakan dibahu dengan warna emas, dan ketiga adalah busana yang biasanya khusus di pakai A-Na(d)tayaSati dengan warna abu-abu dan emas yang diletakan di leher.Tari A-Na(d)tayaSatiIringan musik yang mengiringi tarian ini menggunakan alat musik klasik Thailand, yang semuanya menyimbolkan tentang Agama Budha, Tari Klasik Thailand “Kongwongyai” dan “Ching”, Anapanasati, dan “A-Na(d)tayaSati”. Musik diawal dan diakhir disebut dengan “KangSaDan” dan pada bagian akhir para penari menyanyikan lagu “Chomtalad” secara bersama-sama.Tari A-Na(d)tayaSatiTari A-Na(d)tayaSati

1 Koreografer:Potchanan Pantham
2Dosen Pembimbing:Dr. Sal Murgiyanto
3Penata Musik:
  1. Assistant Professor Dr. Tepika Rodsakan
  2. Aran Sangmeang
  3. Waranyu Rotwinij
4Lightingman:Devi Eka Aryani (Indonesia)
5Penari:
  1. Potchanan Pantham (Thailand)
  2. Anissa Binti MD Razali (Malaysia)
  3. Faisal Rahman (Indonesia)
  4. Marisa (Indonesia)
  5. Kinanti Masida Hudayani (Indonesia)
  6. Yulistia Yarno Putri (Indonesia)
  7. Galuh Kusuma Dinarsari (Indonesia)
  8. Bima Satrya Wardana (Indonesia)
  9. Tania Syahla Asha (Indonesia)
6Backstage:
  1. Rezika Mariandy Karim (Indonesia)
  2. Herlambang Soleh (Indonesia)
7Liaison Officer (LO):Jennifer Natasha Christabel (Indonesia)


Tari A-Na(d)tayaSati
“Sebuah tarian yang langsung mengkaitan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Ketika manusia tidak menyadari hakekat kehidupan, maka dia tidak akan tahu siapa sejatinya dirinya dan ketika manusia memahami hakekat hidup, maka dia tahu bukan hanya tentang raganya tapi juga rohaninya juga”, ujar Potchanan Pantham disela-sela acara International Dance Conference and Festival 2019. Salam Budaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here