myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya, sugeng enjing, sugeng kewarasan sedoyo. Sebuah kesenian tradisional  yang sejak dahulu merupakan budaya popular yang tumbuh dimasyarakat Banyumas yang digunaka sebagai tarian penghibur para penjajah Belanda. Semua ini terlihat dari Tari Abote Dadi Lengger yang merupakan  sebuah tarian tradisi dari Banyumas yang didalamnya menceritakan tentang perjuangan penari Lengger Lanang yang penuh dengan lika-liku kehidupannya dalam mencapainya untuk diterima di masyarakat dengan melakukan kepasrahan secara total kepada Yang Maha Kuasa.Tari Abote Dadi Lengger, culture, traditional danceTarian ini di ciptakan oleh Dwi Pamungkas Sugiarto, pada tahun 2018 (karya terbarunya) yang kali ini diciptkan khusus untuk di pentaskan di acara Setaun Menari #2  di Pendopo Tedjokusumo Universitas Negeri Yogyakarta pada tanggal 29 Desember 2018 mulai pukul 19.00 wib sampai 23.00 wib yang pada tahun ini mengangkat tema “Rinonce Rasa, Ambangun Karya, Kangge Mujudke Karya”.Tari Abote Dadi Lengger, culture, traditional danceDwi Pamungkas Sugiarto, lahir di Banyumas pada tanggal 30 Juli 1998, dimana sekarang ini baru menempuh pendidikan di ISI Surakarta. Karya-karyanya selalu mengandung unsur budaya tradisi, beberapa karyanya antara lain, Ngeteh, Tari Bhinneka, Tari Grapyak.Tari Abote Dadi Lengger, culture, traditional danceInspirasi Tari Abote Dadi Lengger ini didapat ketika keinginannya menjadi seorang penari Lengger, kecintaannya kepada tari tradisi Jawa sangat kuat, apalagi ketika ditawari sama temannya untuk menjadi penari Lengger. Disinilah baginya ini merupakan sebuah tantangan yang harus di taklukannya. Selain melakukan latihan terus menerus, dia juga melakukan ritual layaknya menjadi penari lengger lainnya.Tari Abote Dadi Lengger, culture, traditional danceTarian ini sangat cocok ditarikan  pada acara-acara atau festval tari kerakyatan, dimana sifat tarian ini sangat menghibur penontonnya. Tapi tarian ini dapat juga dijadikan tarian pendidikan karena didalamnya juga mengajarkan pendidikan tentang kehidupan yang layak dipertahankan didunia ini.Tari Abote Dadi Lengger, culture, traditional danceMakna yang terkandung dalam komposisi pada tarian ini sangat dalam, ini terlihat ketika salah satu penari lengger ini pada posisi center yang di kelilingi 4 penari lainnya yang menggambarkan kiblat papat limo pancer yang menggambarkan kekuatan yang ada didunia ini, dari api, air, tanah dan udara.Tari Abote Dadi Lengger, culture, traditional danceGerak dalam Tari Abote Dadi Lengger banyak mengambil ragam gerak tari tradisi Banyumasan yang kemudian dikembangkan. Walaupun di tarikan oleh para laki-laki (cross gender) tapi terasa luwes bahkan bisa dikatakan melebihi penari wanita, mulai dari gerak kepala, badan, tangan dan kakinya. Pola lantainya pada umumnya sama dengan tarian lengger lainnya mulai dari bentuk zig zag, diagonal maupun melingkar.Tari Abote Dadi Lengger, culture, traditional danceBusana yang dikenakan pada bagian kepala menggunakan sanggul dengan cunduk mentul, sedangkan badannya menggunakan busana mekak, sampur dan jarik dengan asesoris sirkam, kalung, giwang. Sebelum menjadi lengger lanang menggunakan sorjan dan jarik, bagian kepala rambut hanya diikat.Tari Abote Dadi Lengger, culture, traditional danceIrama gendhing dalam tarian ini menggunakan irama dan gendhing Banyumasan dengan calung, dimana musiknya mengadopsi dari tari moksa yang kala itu di buat di SMK 3 Banyumas pada tanggal 9 Juli 2013.Tari Abote Dadi Lengger, culture, traditional danceTari Abote Dadi Lengger.

1Persembahan:HIMASWARISKA (Himpunan Mahasiswa Tari ISI Surakarta)
2Koreografer:Dwi Pamungkas Sugiarto
3Penata Iringan:SMK 3 Banyumas
4Penata Busana dan Rias:Dwi Pamungkas Sugiarto
5Penari:1. Ayi Nur Ringgo
2. Dwi Pamungkas Sugiarto
3. Hervina Oktaviantari
4. Willia dwi saputri
5. Diah Ayuning Kusuma Widyasari
6. Maywinda Ciptari
7. Gusti Ayu Paramandhita

Tari Abote Dadi Lengger, culture, traditional danceSebuah perjuangan penari Lengger Lanang yang sebagian pandangan masyarakat tarian ini sangat rendah derajatnya atau sering disebut tarian untuk para cross gender (banci). Tarian ini mempunyai akar dan basic yang kuat di dalam masyarakat Banyumas, dan bukan tarian candaan atau tari bahan tertawaan, ujar  Dwi Pamungkas Sugiarto. (Soebijanto/reog biyan).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here