myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya, wilujeng enjang, sedherek-sedherek. Dunia anak-anak adalah dunia yang paling menyenangkan, tidak ada konflik yang berkepanjangan, dunia mereka serba indah dan damai. Semua ini terlihat dalam Tari Alon-Alon Yaik yang merupakan sebuah tari tradisi gaya Semarang yang di dalamnya menceritakan tentang suasana ruang terbuka yang dipergunakan selain sebagai tempat berinteraksi sosial, juga dipergunakan sebagai tempat bermain mainan tradisional anak-anak Semarang.Tari Alon-Alon YaikTarian ini terinspirasi karena adanya krisis ruang bermain anak di Semarang. Harusnya ruang-ruang terbuka untuk bermain anak-anak harus tersedia. Sementara ini ruang-ruang tersebut menjadi tempat bangunan-bangunan komersial seperti gedung bioskop, super maket, grand mall dan hotel.Tari Alon-Alon YaikTempat bermain anak merupakan ruang bagi anak-anak untuk belajar berbagi rasa, bergotong royong, saling menghormati dan saling menghargai. Dengan tarian ini kita diingatkan kembali masa lalu kota Semarang yang punya Alon-Alon Yaik di dekat Pasar Johar Semarang.Tari Alon-Alon YaikDisini setiap sore anak-anak Semarang menggunakan tempat ini sebagai ruang interaksi satu sama lain dengan menari bersama, memainkan mainan tradisional dan tempat ini juga banyak pedagang makanan tradisional yang ramah lingkungan.Tari Alon-Alon YaikAlon-alon Yaik sangat didambakan keberadaannya selama ini. Tetapi jangan kebalik, manakala ini semua terwujud jangan sampai isinya malah musik-musik yang kurang jelas keberadaannya dalam arti yang tidak ramah dengan anak-anak, sehingga ruang anak-anak ini malah kembali hilang.Tari Alon-Alon YaikTari Alon-Alon Yaik secara koreografi bentuk-bentuknya disesuaikan dengan melihat kondisi anak-anak ini, seperti melihat ketika mereka secara alami bermain dengan anak-anak yang lain sebayanya. Geraknya simple dan tidak perlu penataan yang khusus, apa yang mereka biasa lakukan ditata sedikit saja.Tari Alon-Alon YaikTarian ini sangat cocok ditarikan manakala untuk event atau perhelatan yang dihubungkan dengan anak-anak, seperti hari anak nasional, pesta siaga, hari pramuka, pentas seni sekolah dasar dan perhelatan yang lain. Hendaknya dalam sebuah event kita sering menampilkan anak-anak ini sebagai bagian dari kepekaan kita terhadap keberadaan ruang ramah anak dimanapun kita berada.Tari Alon-Alon YaikTari Alon-Alon Yaik diciptakan oleh Yoyok B. Priyambodo, yang selama ini dikenal sebagai pimpinan Sanggar Greget Semarang yang kali ini ditampilkan dalam Gelar Tari Gaya Semarangan yang merupakan acara rutin tiap tahunnya. Pada tahun ini diselenggarakan oleh Sanggar Greget Semarang yang berkolaborasi dengan Taman Budaya Jawa Tengah, yang dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 23 Nopember 2019 di Taman Budaya Jawa Tengah Solo, mulai pukul 19.00 wib sampai selesai.Tari Alon-Alon YaikSanggar Greget Semarang beralamat di Jl Pamularsih I no 2-G, Semarang, dipimpin oleh Yoyok B. Priyambodo yang lahir pada tanggal 25 April 1966 di Semarang. Belajar menari dari orang tuanya (Bpk/Ibu Soedibyo) di Sanggar Tari Kusuma Budaya pada tahun 1972. Kemudian pada tahun 1982 bersama keluarganya mendirikan Sanggar Greget Wilang, tapi kemudian berganti nama menjadi sanggar Greget pada tahun 1992 sampai sekarang.Tari Alon-Alon YaikGerak dalam tarian ini diciptakan oleh Mas Yok, panggilan akrab Yoyok B Priyambodo, dengan mengexplorasi keseharian anak-anak mulai dari anak TK sampai kelas 3 SD waktu bermain, duduk, berinteraksi dengan teman (melambaikan tangan). Semua ini dirangkum dan kemudian disusun menjadi sebuah sekaran (bukan diambil dari tari tradisi).Tari Alon-Alon YaikGerak ini berasal murni dari anak-anak ini yang semuanya belum kena sentuhan ragam gerak tradisi maupun klasik. Selain juga juga terinspirasi dari gerak nonik-nonik Semarang yang kalau berjalan sering berjinjit dengan kakinya (jinjit mentul) yang kemudian dijadikan ragam gerak tari Semarangan.Tari Alon-Alon YaikSedangkan pola lantainya dibebaskan, anak-anak ini mau bagaimana terserah mereka, yang digarap hanya gerak ketika mereka menari saja, sehingga waktu latihan 1,2 dan 3 selalu berubah-ubah, mereka dibiarkan berimprovisasi sendiri-sendiri.Tari Alon-Alon YaikBusana yang digunakan menggunakan busana Semarangan, mulai dari sanggul, kebaya sampai jarik dngan asesorisnya semua bergaya Semarangan dengan warna yang beraneka ragam yang semuanya ini menunjukan jiwa anak-anak yang masih bebas. Busananya agak ke cina-cinaan terlihat dari kain kaca yang menandakan adanya etnis cina di Semarang.Tari Alon-Alon YaikIringan gendhingnya disusun khusus untuk tarian ini, dengan gendhing-gendhing lancaran Yaik yang isinya menceritakan tentang suasana Alon-alon Yaik yang dipunyai oleh Kota Semarang dengan segala aktivitasnya untuk anak-anak dan orang Semarang sebagai tempat berkumpul dan bersendau gurau.Tari Alon-Alon YaikTari Alon-Alon Yaik

1Persembahan:Sanggar Greget Semarang
2Penata Tari:Yoyok B Priyambodo
3Penata Busana:Yoyok B Priyambodo dan Mas Tanto
4Penari:

Amira Kurma M, Dhiara Adinda S, Dian Putri S, Felita Putri A, Fidela QS, Gabriel Jessica A, Maria IK, Naifah Varia, Nabila C, Nouri ZD, Petra Kama R, Qoirisha AH, Arifa Cita H, Atha A, Airelia Rasesa JR, Ayunda Venabila, Fidelya QS, Galuh Kinanti N, Hevalia AR, Jovalencia AS, Maria Advenia CY, Nabila NR, Nada FP, Shifa IR dan Virda Sekar PH.

Tari Alon-Alon Yaik“Ketika kebutuhan ruang ramah anak berupa Alon-alon terpenuhi semua bisa digunakan sebagai tempat berinteraksi, saling mengenal juga sebagai tempat komunal bersama, sekaligus tempat bermain anak-anak yang sekarang ini sangat jarang ditemui. Ruang ramah anak sebagai tempat hiburan anak-anak untuk bermain sangat diperlukan”, ujar Yoyok B Priyambodo selaku pimpinan Sanggar Greget Semarang disela-sela acara. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here