myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Sugeng enjang sedherek-sedherek. Getihmu, getihku bakal nyekseni opo sing kok lakoni. Sadhumuk bathuk sanyari Bumi, tak belani tekan pati. Itulah sekelumit bebasan bahasa Jawa yang menggambarkan tentang totalitas perjuangan di bumi Nusantara ini yang tergambar jelas pada Tari Balelo Martopuro yang merupakan sebuah tari kreasi baru yang didalamnya berisi tentang perjuangan Raden Martapuro beserta rakyatnya dalam melawan keserakahan dan ketidak adilan bangsa Belanda di bumi pertiwi Nusantara.Tari Balelo MartopuroBalelo diambil dari Bahasa Jawa yang berarti pemberontakan atau pembangkang yang semua ini dapat timbul dari berbagai bentuk mulai dari pembangkangan sipil sampai kekerasan yang ingin meruntuhkan otoritas yang ada. Sedangkan Martopuro adalah seorang bangsawan Nusantara yang memperjuangkan hak rakyat ketika adanya ketidakadilan dari Bangsa Belanda.Tari Balelo MartopuroDi kawasan Bungkal ada seorang yang bernama Raden Martopuro yang merupakan cucu buyut dari Bupati Ponorogo XIII (Raden Suradiningrat). Ketika Perang Dipenegoro, Raden Martopuro bergabung dengan Gusti Kanjeng Jimat Pacitan yang diikutinya sejak remaja dalam melawan Belanda.Tari Balelo MartopuroSaat perang Diponegoro usai, Raden Martopuro memilih tinggal di Bungkal dan bekerja menjadi pengawas gudang kopi. Kebenciannya bergolak kembali manakala Belanda memonopoli hasil kopi rakyat. Kopi harus dijual kepada Belanda dengan harga sangat murah di bawah harga pasaran. Rakyat yang tidak tunduk disiksa dengan kejam oleh Belanda.Tari Balelo MartopuroMelihat tindakan Belanda, Raden Martopuro memberi kesempatan kepada rakyat Bungkal untuk menjual hasil kopinya secara sembunyi-sembunyi ke pasar dan mengakalinya dengan menyembunyikan kopi yang akan dijual ditaruh didepan perut mirip orang hamil 7 bulan.Tari Balelo MartopuroTarian ini ditampilkan sebagai opening dalam pertunjukan Uji Koreografer 3 di Perfomance Stage FBS UNY yang diselenggarakan oleh Jurusan Pendidikan Seni Tari, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta selama 4 hari pada tanggal 16, 17, 18 dan 19 Januari 2020, tepatnya pada pukul 19.30 sampai selesai. Total garapan karya tari yang ditampilkan sebanyak 45 karya, dengan pembagian 11, 12,12 dan 10 karya per harinya.Tari Balelo MartopuroUji Koreografer 3 kali ini dibalut dengan tajuk “Galaksi Mahira” dimana Galaksi singkatan dari Gelar Karya Mahasiswa Seni tari, sedangkan Mahira mempunyai makna berbakat atau diberkati. Tajuk ini pada tahun ini mengusung tema “Merajut Asa Dalam Karya”.Tari Balelo MartopuroTari Balelo Martopuro khusus diciptakan oleh Rasita Sholu Mahlika dan Sisnanda Tyapuspita yang ditampilkan di Uji Koreografer 3. Tarian ini terinspirasi dari cerita ketika kedua koreografer mendengar cerita jaman dulu di daerah Bungkal Ponorogo terdapat cerita bahwa ada beberapa ibu-ibu menyembunyikan kopi di dalam stagen hanya agar tidak ketahuan oleh pihak Belanda. Dari sinilah kemudian dijadikan ke dalam bentuk penyajian tari.Tari Balelo MartopuroRasita Sholu Mahlika lahir di Ponorogo pada tanggal 21 Mei 1997 sedangkan Sisnanda Tyapuspita lahir di Ponorogo, 11 November 1997. Beberapa karya keduanya diantaranya Tari Blarak Branyak, Tari Balelo Martopuro dan Tari Kothekan.Tari Balelo MartopuroKomposisi dalam tarian ini mengandung makna tentang apapun yang menjadi milik kita dan hak kita jangan mau di rebut oleh orang lain (asing). Seperti pepatah “sadhumuk bathuk sanyari bumi, tak belani tekan pati” yang berarti segala sesuatu yang menjadi hak seseorang sudah seharusnya dipertahankan apabila diganggu oleh pihak lain walaupun harus dengan nyawa sebagai taruhannya, sekecil apapun hak tersebut.Tari Balelo MartopuroRagam gerak dalam tarian ini terbagi menjadi 2 yang semuanya mengambil dari tari tradisi Jawa Timuran, pertama ragam gerak penari laki-lakinya mengambil gerak warok yang mempunyai karakter tegas dan gagah, sedangkan penari putrinya mengambil dari ragam karakter seorang wanita pada umumnya mempunyai sifat luwes, kemayu tetapi tetap tegas.Tari Balelo MartopuroBusana juga terbagi dalam beberapa tokoh, diantaranya Raden Martopuro menggunakan udeng (kepala), celana kombor, baju hitam, serta di bagian celana diberi jarik Prodo berwarna coklat, dengan riasan karakter dan propertinya keris.Tari Balelo MartopuroSedangkan untuk karakter tokoh Belanda pada rambutnya di semir emas, baju bludru emas, menggunakan pangkat dibagian pundak dan srempang bewarna merah, putih, biru serta menggunakan kaos kaki putih panjang.Tari Balelo MartopuroUntuk busana rakyat perempuan yaitu rambut di sanggul bawah, menggunakan hiasan cunduk, baju kebaya berwarna coklat muda dan di dalamnya menggunakan angkik jaman dulu serta celana modifikasi. Sedangkan propertinya menggunakan tutup nasi untuk menyembunyikan kopi di dalam stagen.Tari Balelo MartopuroIringan irama yang mengiringi tarian ini menggunakan alat musik gamelan klasik Jawa yang digarap dengan ciri khas slompret yang identik dengan musik Ponorogo serta di padukan dengan alat musik Barat. Semua ini diracik dalam format musik digital agar menambah nilai inovatif dan membawa kesan milenial.Tari Balelo MartopuroTari Balelo Martopuro

1Koreografer:Rasita Sholu Mahlika dan Sisnanda Tyapuspita
2Komposer:Reno Sandrohano
3Penata Busana:Dapur Seni Probo Wengker
4Penata Rias:Dwi jayanti dan Amanda Wiyono
5Penari:
  1. Rhemadha
  2. Antomy
  3. Dwi Suryandari
  4. Difa
  5. Ervina

Tari Balelo Martopuro“Apapun yang sudah menjadi milik kita sudah sepatutnya kita perjuangkan. Setiap orang berhak memperjuangkan cita-citanya dan berhak sukses dengan perjuangannya. Maka perjuangkanlah apa yang memang sudah seharusnya menjadi milikmu. Ponorogo bukan hanya tentang reog, tetapi banyak cerita rakyatnya yang bisa dijadikan sebagai sebuah tarian yang menarik yang semuanya dapat menambah keanekaragam seni budaya Nusantara”, ujar Rasita Sholu Mahlika, selaku koreografer disela-sela acara. (Soebijanto/reog biyan).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here