myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya, wilujeng enjang, sedherek-sedherek. Para seniman tari dalam menciptakan sebuah tarian selalu memperhatikan gerak tubuh dengan suara iringannya yang ditata sedemikian rupa sesuai dengan keselerasan rasa dan makna tariannya. Ya semua ini terlihat dalam Tari Bondan yang merupakan sebuah tari tradisional klasik gaya Surakarta yang didalamnya menceritakan hubungan phisikologi kakak adik, dimana sang kakak sedang menjaga (momong) adiknya dengan cara bermain bersama.Tari BondanHubungan seperti inilah yang sekarang ini jarang terlihat, hubungan phisikologi antara dua anak kecil, kakak adik yang terjalin tidak hanya dalam waktu bermain saja, tetapi juga ketika mereka tidur. Kakaknya selalu mengiringi tidur adiknya dengan nyanyian pengiring tidur. Kae ono manuk podang, tak lelo, lelo, lelo ledung (itu ada burung podang, tidurlah adikku tersayang).Tari BondanSetelah adiknya tidur, kakaknya segera mengerjakan pekerjaan lain dirumahnya dalam artian sang kakak membantu pekerjaan orang tuanya, seperti mencuci pakaian dan piring serta menyapu halaman rumah. Hubungan keluarga yang seperti inilah yang dinamakan kekeluargaan yang sekarang ini jarang terlihat di masyarakat kita terutama di perkotaan.Tari BondanTari Bondan merupakan tari tradisi yang sejak dulu ada yang tidak diketahui siapa penciptanya. Tarian ini banyak dipakai oleh sanggar-sanggar tari di Jateng dengan sedikit digubah tanpa menghilangkan esensinya, bahkan seperti S. Maridi, S. Ngaliman juga pernah menggubah tarian ini dengan maksud agar mudah untuk dipelajari anak-anak.Tari BondanKomposisi di dalam tarian ini menggambarkan selain hubungan phisikologi juga hubungan sosial antara kakak adik. Sang kakak menjaga adiknya, disini orang tua tidak punya maksud tidak punya pembantu untuk mengurusi anaknya, tetapi hubungan kedekatan kakak adik yang diperlihatkan disini.Tari BondanTari Bondan ini sebagai tari opening dalam Gelar Tari Gaya Semarangan yang merupakan acara rutin tiap tahunnya yang pada tahun ini diselenggarakan oleh Sanggar Greget Semarang yang berkolaborasi dengan Taman Budaya Jawa Tengah, pada hari Sabtu, tanggal 23 Nopember 2019 di Taman Budaya Jawa Tengah Solo, mulai pukul 19.00 wib sampai selesai.Tari BondanYang ditampilkan dalam Gelar Tari Gaya Semarangan kali ini, rata-rata karya Yoyok B. Priyambodo, yang dibuatnya mulai dari tahun 1994 sampai 2019 yang semuanya ini didedikasikan untuk pengembangan dan pelestarian seni budaya Indonesia khususnya Kota Semarang.Tari BondanGerak dalam tarian ini mengambil dari ragam tari tradisonal klasik gaya Surakarta, dimana maju beksannya memakai ayak-ayak yang merupakan sekaran yang sudah jadi, seperti kridong sampur, trisikan, duduk, buko boning, sembahan untuk keselamatan sampai selesai (bubaran).Tari BondanSebenarnya Tari Bondan ini merupakan tari tunggal, tapi kali ini dibuat berkelompok, karena murid-murid dari Sanggar Greget Semarang banyak, maka sedikit ada gubahan di pola lantainya yang dibuat konfigurasi variatip berkelompok tanpa mengurangi esensinya seperti bentuk melingkar, diagonal, horizontal sehingga terlihat dinamis.Tari BondanBusana yang digunakan dalam tarian ini menggunakan busana tradisi gaya Surakarta, dimana pada bagian kepala, rambutnya disanggul dengan diberi asesoris bunga melati. Sedangkan busananya menggunakan kemben dengan jarik dan kalung. Sedangkan propertinya menggunakan selendang dan payung tradisional.Tari BondanIringan Tari Bondan menggunakan iringan yang diambilkan dari Lokananta yang didalamnya menggunakan gendhing-gendhing ayak-ayak dan ladrang yang secara keseluruhan menggunakan gamelan klasik Jawa.Tari BondanTari Bondan

1Persembahan:Sanggar Greget Semarang
2Penata Tari:NN
3Penata Busana:NN
4Penari:
  1. Aulia DS
  2. Aulia SF
  3. Khlalilla Lintang
  4. Lady MK
  5. Lidwina AG
  6. Thalita SM
  7. Yuiliana Bunga
  8. Anisa Naila
  9. Aulifia Fatimah
  10. Mutiara Permatasari
  11. Maulida K
  12. Nadine Reynata S
  13. Nydia Safira N

Tari Bondan“Sebuah tari tradisi klasik yang umurnya sudah lama sekali tetapi masih eksis, tarian ini kalau dilihat secara utuh memberikan pelajaran tuntunan hidup hubungan antara kakak adik (keluarga), untuk saling mencintai, mengingatkan, melindungi satu sama lain. Selain itu tari ini sebagai dasar tari klasik gaya Surakarta untuk anak-anak”, ujar Yoyok B Priyabodo selaku pimpinan Sanggar Greget Semarang di sela-sela acara. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here