myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya, sugeng enjing, sugeng kewarasan sedoyo. Alam dan manusia di ciptakan untuk bisa saling berdampingan, saling mengisi dan selaras, tapi jika salah satu rusak maka akan rusaklah keduanya, ciptaanNya adalah “sempurna” !!! Semua ini terlihat dalam Tari Buto Gedrug yang merupakan sebuah tarian yang idenya mengambil dari epos Ramayana yang menceritakan tentang kemarahan Buto yang terlihat bengis, kasar dan kejam kepada manusia karena telah merusak alam di sekitarnya.Tari Buto GedrugSelain itu juga manusia sekarang ini banyak tidak bertanggung jawab terhadap alam sekitarnya. Mereka merusak hutan dan gunung yang digambarkan di daerah Selo, Boyolali yang merupakan daerah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, sehingga banyak timbul bencana banjir dan tanah longsor manakala musim hujan.Tari Buto GedrugKemarahan buto ini diperlihatkan dengan menghentak-hentakan kakinya di bumi. Ada keunikan tersendiri dalam tarian ini dimana di kaki penarinya ada kricingan yang beratnya sepasang 10 Kg. Ketika kaki menghentak suara gemerincing riuh sekali terdengar.Tari Buto GedrugDi akhir tarian ini para penari membuka topeng yang dikenakan, yang semuanya ini ingin menunjukan keragaman dari aslinya buto atau raksasa. Mereka tidak akan marah manakala manusia bisa berbuat baik kepada alam dan mereka sebenarnya bisa diajak bersahabat dengan manusia.Tari Buto GedrugTari Buto Gedrug dari dulu sudah berkembang dan hidup didaerah Boyolali yang namanya lebih dikenal dengan Buto Jikrak, hanya anak-anak muda sekarang tidak bisa menirukan tariannya karena geraknya satu langkah. Melihat ini semua maka dibuatlah tari yang digarap menjadi dua langkah yang kemudian di kenal dengan nama Tari Buto Gedrug.Tari Buto GedrugTari Buto Gedrug ditarikan oleh Sanggar Pandan Wijaya Boyolali, sebagai penampil penutup pada hari kedua di acara Festival Seni Tradisional Jawa Tengah 2019 diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Tengah yang pelaksana teknisnya dari Taman Budaya Jawa Tengah selama 4 hari, mulai dari tanggal 23-26 Juli 2019 mulai pukul 19.30 wib di Pendopo Ageng Taman Budaya Jawa Tengah.Tari Buto GedrugSanggar Pandan Wijaya Boyolali berhome base di dusun Sepandan, Desa Selo, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Berdiri sejak tahun 2017, sanggar ini menyatukan seniman-seniman muda (seniman milineal) untuk berkarya di bidang seni budaya tradisi terutama seni tari.Tari Buto GedrugBeberapa karya tari yang dikenal dan popular di daerah Selo ini di garap dan dikembangkan dengan disisipi alur cerita yang kekinian oleh para seniman-seniman muda ini, selain Tari Buto Gedrug ini ada Tari Topeng Ireng, Tari Jaran Kepang, Tari Keprajuritan dan Tarian Religi Islamic Rodat Baduwi.Tari Buto GedrugRagam gerak tarian ini mengacu pada adegan Ramayana yang digarap dan dikembangkan, disini gerak yang dominan adalah rancaknya penari secara berkelompok yang geraknya sangat variatif dan dinamis. Di daerah Boyolali sekarang ini lagi trend gerak reog-reogan yang merupakan gabungan tari tradisi dengan tari modern.Tari Buto GedrugBusana yang dikenakan semua masih konsisten dengan identik “buto” dengan menggunakan topeng buto yang sangar dan garang, busananya dominan dengan warna merah dan emas dengan variasi wiron dan payet. Untuk bawahannya menggunakan sepatu hitam dan asesoris kerincingan di kedua kaki penarinya.Tari Buto GedrugIringan gendhing yang mengiringi menggunakan gamelan klasik Jawa yang sudah di garap secara live show. Disini ada tiga aliran yang digabungkan mulai dari campursari, lagu pop dan sampak di penutupnya.Tari Buto GedrugTari Buto Gedrug.

1Persembahan:Sanggar Pandan Wijaya Boyolali
2Kareografi:Thata
3Panata Busana:Thata and Friends
4Penari:Dodo, Wahyudi, Gunawan, Sudar, Pardiyanto, Sigit, Juwari, Totok, Anggun dan Erwin

Tari Buto Gedrug“Sebuah tarian yang menggambarkan tentang kemarahan alam lewat para Buto, hendaknya kita manusia memelihara alam yang ada disekitar kita, karena kalau rusak, manusia juga yang akan merugi dengan adanya bencana seperti tanah longsor dan banjir” ujar Thata selaku kareografer tarian ini. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here