myimage.id | Salam budaya, Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Bagi sebagian masyarakat dunia, topeng memegang peranan penting dalam berbagai sisi kehidupan. Tidak hanya karena keindahan estetisnya, melainkan bentuk mimetik dari ekspresi kesenian yang mengiringinya merupakan simbol-simbol khusus dalam berbagai upacara dan kegiatan adat yang luhur. Salah satu ekspresi topeng diterjemahkan dalam sebuah  Tari Candika Ayu yang merupakan tari kreasi baru yang didalamnya menceritakan tentang sebuah kecantikan wanita dewasa, melalui gerak tari yang lembut dan mengalir dengan pelan seperti air sungai yang mengalir tenang dengan vokal-vokal mantram tubuh yang dibuat meditatif.Tari Candika Ayu, culture, topengTarian ini merupakan ciptaan Bambang Besur Suryono yang diciptakan tahun 2018, yang kali ini diciptakan khusus untuk dipentaskan di International Maks Festival 2018 pada hari pertama sebagai penampil kedua yang  bekerjasama dengan penari-penari dari Sanggar Semarak Chandra Kirana.Tari Candika Ayu, culture, topengSemarak Candrakirana Surakarta merupakan sanggar tari yang didirikan oleh Dra. R.Ay Irawati Kusumorasri, M.Sn pada tahun 1998. Sanggar ini mengajarkan berbagai tarian mulai dari tari klasik, tradisional sampai kontemporer.Tari Candika Ayu, culture, topengSampai sekarang sanggar ini menjadi salah satu sanggar tari yang syarat akan prestasi dan bahkan beberapa kali mengirim duta tari ke manca negara untuk mengikuti ajang seni budaya yang diadakan oleh Indonesia di luar negeri.Tari Candika Ayu, culture, topengBambang Besur Suryono lahir di Surakarta pada tanggal 25 Oktober 1960, merupakan seniman Surakarta yang sudah banyak menghasilkan karya-karya tari. Karya tarinya cendrung  lebih spesifik yang selalu berhubungan dengan mantram, seperti mantram topeng, air, udara, api dan tanah.Tari Candika Ayu, culture, topengInternational Mask Festival (IMF) 2018 di adakan pada tanggal 26-27 Oktober 2018 dengan mengusung tema ‘’Wonderful Mask Indonesia’’ yang digelar di Pendapa Prangwedanan Istana Mangkunegaran Surakarta dari pukul 19.00 wib sampai selesai.Tari Candika Ayu, culture, topengInspirasi tarian ini didapatkan dari ketika beliau melihat esensi tari Bedhaya yang merupakan tarian dari dalam Kraton yang ditampilkan pada saat-saat tertentu saja, dimana disini dilihat tari Bedhaya penuh dengan kelembutan, mengalir (banyu mili) serta pelan.Tari Candika Ayu, culture, topengTarian ini merupakan tarian kelompok yang lebih menekankan pada mantram tubuh dimana didalamnya mengandung makna filosofi tentang keindahan Candika Ayu yang merupakan manifestasi dari Dewi Uma, yang dalam tokoh wayang menjadi permaisuri dari Bathara Guru yang terkenal dengan kesaktian dan  kecantikannya.Tari Candika Ayu, culture, topengGerak Tari Candika Ayu dapat dikategorikan sebagai gerak meditative yang merupakan penggambaran suasana meditasi yang penuh keheningan, sunyi serta khidmat seperti kita sedang berdoa menghadap Yang Maha Kuasa, yang ditarikan dengan gerak yang lembut yang semuanya ini menuju pada kekhusukan pencapaiannya.Tari Candika Ayu, culture, topengPola lantainya yang digunakan karena ini merupakan tari kreasi maka tidak ada pakemnya, sehingga cenderung lebih dinamis dan variatif. Bentuk linier dan melingkar yang melambangkan keutuhan hati dalam menghadap kepada Yang Kuasa, serta mengedepankan penguasaan panggung agar lebih enak untuk dilihat oleh para penontonnya.Tari Candika Ayu, culture, topengBusana yang dikenakan terinspirasi dari kain yang dipakai oleh Suku Sasak Lombok, dimana busananya menggunakan kain-kain tenun dengan motip-motip bunga, yang cara pemakainnya hanya dengan lilitan dan ikatan saja tanpa adanya potongan kain dan jahitan. Utuh, sehingga menimbulkan kesan etnik atau tradisional sekali.Tari Candika Ayu, culture, topengSedangkan properti yang digunakan dalam Tari Candika Ayu, menggunakan topeng dan serabut kelapa yang dibuat sedemikian rupa sebagai bagian dari asesorisnya, disamping kalung dan gelang.Tari Candika Ayu, culture, topengIrama yang mengiringi tarian ini sangat simple dan minimalis sekali, hanya menggunakan alat yang digunakan para bhiksu Tibet berupa singing ball, bell dengan tambahan vocal-vokal etnik/primitip seperti suara animalistic, angin dan mantram-mantram.Tari Candika Ayu, culture, topeng

Tari Candika Ayu.

1Persembahan:Bambang Besur Suryono feat Chandra Kirana Solo
2Penari:
  1. Nitami Wijayanti
  2. Farida
  3. Anggun
  4. Ratu Rengganis
  5. Firdaus Iga
  6. Gracia Giga
  7. Dewi Lusia

Tari Candika Ayu, culture, topengInternational Mask Festival 2018 merupakan bagian dari pelestarian dan pengembangan seni budaya topeng secara nyata dan sesungguhnya. Acara ini dapat dijadikan sebagai bagian dari pariwisata yang dapat menarik wisatawan asing maupun lokal untuk datang ke Indonesia, khususnya kota Solo, dan diharapkan generasi muda ikut bagian dari pagelaran ini, dari merekalah seni budaya ini akan mereka teruskan nantinya, ujar Bambang Besur Suryono. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here