myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Sugeng enjang sedherek-sedherek. Local Wisdom yang bersifat bijaksana, penuh kearifan dan berorientasi baik, banyak digunakan oleh para seniman sebagai ide dalam pembuatan sebuah karya. Keaneka ragamannya yang tumbuh di Indonesia jumlahnya tidak terbatas, sehingga hasil karya yang dihasilkan juga berbanding lurus dengan semuannya. Ya, salah satunya terlihat dalam Tari Drastha yang merupakan sebuah tari kreasi baru yang didalamnya menceritakan tentang sejarah asal usul anak berambut gimbal yang ada di daerah dataran tinggi Dieng, yang dipercaya sebagai titisan Kyai Kolodete salah satu tokoh pendiri Kota Wonosobo.Tari DrasthaAnak berambut gimbal dianggap istimewa, sehingga segala keinginannya harus dipenuhi sebagai salah satu syarat manakala rambut gimbalnya mau dipotong (diruwat). Kalau keinginannya tidak terpenuhi walaupun rambutnya sudah dipotong, maka rambut gimbalnya akan tumbuh lagi.Tari DrasthaManakala proses rambut sedang tumbuh, anak-anak ini akan mengalami sakit panas (demam) yang sangat luar biasa, namun kalau diperiksa secara medis penyakitnya tidak akan terdeteksi hingga keinginannya harus dipenuhi. Kalau sudah terpenuhi maka rambut gimbalnya tidak akan tumbuh dan sakit panasnya akan berhenti dengan sendirinya.Tari DrasthaBiasanya prosesi adat pemotongan rambut gimbal ini diadakan setiap setahun sekali yang jatuh pada 1 Suro (kalender Jawa), yang semuanya ini bertujuan agar anak-anak ini dijauhkan dari segala kesusahan, kesedihan dan kesialan dalam hidupnya.Tari DrasthaTarian ini ditampilkan dalam pertunjukan Uji Koreografer 3 di Perfomance Stage FBS UNY yang diselenggarakan oleh Jurusan Pendidikan Seni Tari, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta yang dilaksanakan selama 4 hari pada tanggal 16, 17, 18 dan 19 Januari 2020, tepatnya pada pukul 19.30 sampai selesai. Total garapan karya tari yang ditampilkan sebanyak 45 karya, dengan pembagian 11, 12,12 dan 10 karya per harinya.Tari DrasthaUji Koreografer 3 kali ini dibalut dengan tajuk “Galaksi Mahira” dimana Galaksi singkatan dari Gelar Karya Mahasiswa Seni Tari, sedangkan Mahira mempunyai makna berbakat atau diberkati. Tajuk ini pada tahun ini mengusung tema “Merajut Asa Dalam Karya”.Tari DrasthaTari Drastha diciptakan oleh Yeni Irmawati, yang terinspirasi dari anak-anak yang berambut gimbal di Dieng Wonosobo yang kebetulan salah satu anggota keluarganya (adiknya) juga berambut gimbal. Prosesi pemotongan rambut gimbal ini merupakan sebuah upacara adat yang unik dan sakral serta satu-satunya adanya hanya di Dieng Wonosobo.Tari DrasthaYeni Irmawati, lahir di Wonosobo tgl 28 Mei 1997, sangat konsisten dalam menjalani kehidupan berkeseniannya. Karyanya cenderung lebih mengkhususkan atau mengexplore pada kota kelahirannya yaitu Wonosobo, diantaranya Tari Carica Tumujuning Lokeswara, Tari Mahija Dihyang, Tari Swasti Ing Saba dan Tari Drastha.Tari DrasthaKomposisi di dalam tarian ini menggambarkan tentang setiap orang memiliki garis kehidupan masing-masing dan kita wajib menghormati serta menghargai, terutama bentuk adat istiadat serta kepercayaan yang sudah ada dari jaman dahulu. Apalagi ini semua dikaitkan dengan insan manusia yang berbudaya. Tari DrasthaRagam geraknya dalam tarian ini berorientasi kepada ragam gerak tari gaya Yogyakarta dan tari gaya Surakarta terutama pada motip dan bentuknya, yang kemudian diolah atau digarap dalam bentuk teknik dan isinya sehingga tercipta gerak yang baru. Semua ini melalui teknik explorasi, improvisasi dan pengolahan komposisi untuk diwujudkan dalam bentuk tarian yang diinginkan.Tari DrasthaBusana yang digunakan merupakan busana kreasi yang mengandung warna merah, hitam dan emas.  Merah untuk melambangkan keberanian Kyai Kolodete, hitam untuk melambangkan kemistisan/magic dari anak gimbal, dan emas melambangkan keistimewaan anak gimbal.Tari DrasthaUntuk riasannya menggunakan rias karakter untuk memperoleh karakter yang diinginkan. Properti yang digunakan berupa rambut panjang berwarna putih, payung , sesaji, gunting, kendi, kepala celeng (simbol permintaan anak gimbal), dupa dan bunga.Tari DrasthaIrama yang mengiringi tarian ini menggunakan gamelan klasik Jawa secara live show yang dipadukan dengan alat musik lainnya seperti saxsofon, biola, fluete, suling, rebana, bedug, perkusi,  rainstik, simbal, kecapi. Iringan didasari dengan mengikuti gerak tarian, dengan menyuguhkan suasana sakral dalam prosesi ruwatan rambut gimbal.Tari DrasthaTari Drastha.

1Koreografer:Yeni Irmawati
2Penata Busana:Pelangi Entertainment
3Penata Iringan:Ahong Rungon Wresthi
4Penata Artistik:Gubuk Art Production
5Penata Rias:Bunda Ratu Ayu
6Penari:
  1. Yeni Irmawati
  2. Genta Adinda Yustisia
  3. Adjeng Khinanti Laras
  4. Eliana Dewi Parahita
  5. Yesiana Nur Azizah
  6. Mergi Dina Pangestu
  7. Randi Matsna Indrawan
  8. Agung Eko Prakoso
  9. Anangga Dwi Saputra

Tari Drastha“Sebuah adat istiadat yang hidup dalam masyarakat Dieng Wonosobo, “Ruwatan Rambut Gimbal” sebagai salah satu keanekaragaman budaya yang hidup di Indonesia yang harus selalu dijaga, dilestarikan dan dikembangkan oleh kita semua”, ujar Yeni Irmawati, selaku koreografer disela-sela acara. (Soebijanto/reog biyan).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here