myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya, sugeng enjing, sugeng kewarasan sedoyo. Keragaman budaya Indonesia banyak menjadi inspirasi bagi seniman-seniman Indonesia untuk membuat karya-karyanya sebagai bagian dari pelestarian dan pengembangan seni budaya secara nyata. Salah satunya dengan terciptanya Tari Genggongan yang merupakan sebuah tari tradisi gaya Wonosobo berupa tari topeng dengan idiom tari tradisi kerakyatan Jawa Tengah yang dikemas dengan konotasi baru dalam pengembangan kesenian tradisi.Tari GenggonganDi dalam kehadirannya, Tari Genggongan merupakan sebuah kesenian tradisi kerakyatan yang di harapkan mewakili kesenian khas Wonosobo yang menarik dan atraktif. Tarian ini jenisnya merupakan tari kerakyatan berkelompok yang bertemakan pergaulan.Tari GenggonganTari Genggongan adalah tari ciptaan Waket Prasudi Puger pada tahun 2017, yang terinspirasi dari banyaknya ragam jenis topeng kesenian yang ada di Wonosobo. Dari sinilah Tari Genggongan ingin mengangkat salah satu tari topeng yang berkarakter dengan jenis Topeng Jangkrik Genggong.Tari GenggonganTarian ini pernah diikutkan dalam lomba Festival Kesenian Rakyat Tingkat Jawa Tengah di Temanggung dan berhasil meraih juara ke 3. Tari Genggongan ini sangat cocok sekali ditarikan untuk sebuah event, seperti hajatan maupun festival-festival pertunjukan kerakyatan tradisional.Tari GenggonganTari Genggongan ditampilkan oleh Sanggar Satria Wonosobo di Pagelaran Semarak Budaya Indoneisa 2019 (SBI 2019)  yang diselenggarakan oleh Pemuda Indonesia Kreatif (PIK) yang didukung oleh Sanggar Semarak Candra Kirana Art Center, PLN, ABG Production dan Disporapar Jawa Tengah di Dalem Joyokusuman, Jalan Gajahan, Gajahan, Kec. Pasar Kliwon Solo, Jawa Tengah, pada tanggal 29-30 Nopember 2019.Tari GenggonganDalem Joyokusuman dulunya Dalem Pangeran Joyokusuman, yang sekarang dikelola oleh Pemkot Solo untuk menjadi sebuah taman budaya Surakarta. Saat ini masih dalam tahap renovasi yang kedepannya dilengkapi fasilitas-fasilitas pendukung yang seterusnya diserahkan dan dikelola oleh Dinas Pariwisata Pemkot Surakarta. Diharapkan kedepannya tempat ini dijadikan ekspresi para seniman dan tempat berdiskusi yang berhubungan dengan keragama seni budaya Indonesia.Tari GenggonganPagelaran ini digagas pertama kali oleh Ibu Ira Kusumorasri, yang ingin membuat wadah sebagai ajang silaturahmi sanggar-sanggar yang ada di Solo yang kemudian malah berkembang se-Jateng dan Indonesia. Dan yang ditampilkan selalu karya-karya terbaik dari sanggar-sanggar yang tampil.Tari GenggonganSanggar Satria Wonosobo berdiri pada tanggal 17 Juli 1998 beralamat di Jl. Pakuwojo No.10 Sumberan Barat, RT 02, RW 02, Gg.Sasongko, Kelurahan Wonosobo Barat, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Wonosobo, yang memfokuskan dalam pelatihan Seni Tari, Wayang Orang, Kethoprak, dan Rias Busana. Beberapa karya sanggar ini diantaranya Tari Jurit Pengeran, Tari Topeng Lengger Jangkrik Genggong, Tari Bocah Dolanan, Tari Wayang Bocah, Tari Bocah Sekolah, Tari Wanara Cantrik, Tari Illegaloging, Tari Pesona Carica dan Tari Bocah Nggunung.Tari GenggonganKomposisi di dalam tarian ini menggambarkan tentang orang yang sedang kasmaran atau jatuh cinta kepada pujaan hatinya. Semua ini terlihat dalam gendhingnya, Katon kledhang-kledang kusumandhing, Hamasrahake jiwa ragane, Nde onde tiba neng takir, Gelung konde gawe kuwatir, Nde onde tiba neng tampah, Teka mrene lungguh neng jrambah. Hamung kowe, pepujanku, Aja lali duh wong ayu, Yen awan tansah kelingan, Yen begi tan kober turu.Tari GenggonganGerak dalam Tari Genggongan mengambil dari ragam tari tradisi Wonosobo yang terbagi dalam Maju Beksan berupa gerak awalan dalam sajian pertunjukan yang mengambarkan Penari Topeng sedang gandrung (jatuh cinta), Beksan yang menggambarkan pergaulan penari topeng yang kasmaran dengan lengger dan Mundur Beksan yang menggambarkan kegembiraan penari yang berpasangan.Tari GenggonganBusana yang digunakan merupakan busana garapan yang mencerminan budaya Jawa yang mengikuti perkembangan jaman. Pada bagian kepala menggunakan iket kepala, plisir ikat kepala dengan baju lengan pendek, kalung, deker, sabuk warna hitam, epek timang, jarik wiru, sampur dan celana ¾ dengan property Topeng Jangkrik Genggong.Tari GenggonganIringan dan gendhing dalam Tari Genggongan ini menggunakan gamelan klasik Jawa gaya Wonosoboan laras pelog dengan gerongan pada Maju Beksan berupa intro, tembang, geteran, uran-uran, gilak bali, Beksan berupa lancaran genggongan, bendenan dan gerongan jangkrik genggong dan Mundur Beksan berupa lancaran genggong sesegan, siak serta penutup/ending.Tari GenggonganTari Genggongan

1Persembahan:Sanggar Satria Wonosobo
2Koreografer:Waket Prasudi Puger
3Komposer:Restu Budi Rahayu
4Penata Busana dan Rias:Lungit Setwinorsih
5Penari:
  1. Agus Dwiyanto
  2. Ndoha Arya Mustofa
  3. Arif Rahmanto
  4. Dwi Ahmad Aldi
  5. Khoirul Mawahib
  6. Sandi Asmoro
  7. Rendi Hidayat
  8. Choirul Adi Wibowo
  9. Purbojati

Tari Genggongan“Sebuah tarian yang mengangkat potensi lokal wisdom Wonosobo dalam sebuah tarian yang merupakan salah satu pelestarian serta pengembangan budaya Indonesia secara nyata. Semua ini dapat menambah keragaman seni budaya Indonesia yang dapat digunakan sebagai daya tarik wisatawan untuk datang ke Indonesia khususnya Wonosobo”, ujar Waket Prasudi Puger, selaku pimpinan Sanggar Satria Wonosobo disela-sela acara. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here