myimage.id | Tari Golek Ayun-Ayun Gaya Yogyakarta adalah sebuah tarian klasik gaya Yogyakarta yang mengandung makna filosofis dan nilai-nilai estetika (keindahan) yang terkandung didalamnya, yang menggambarkan tentang seorang gadis yang beranjak dewasa yang suka bersolek, berhias diri dengan kata lain gemar ngadhi saliro dan ngadi busono.

Tari Golek Ayun-Ayun Gaya Yogyakarta, classic dance javanese, culture

Tari Golek Ayun-Ayun Gaya Yogyakarta diciptakan oleh KRT. Samitadipura (Romo Sas) pada tahun 1976. Beliau adalah seorang ahli tari pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, IX dan X. Beliau sangat kreatif dalam usahanya agar tari klasik Yogyakarta dapat diminati oleh masyarakat terutama tarian wanita. Tarian ini biasanya ditarikan untuk menyambut tamu kehormatan (agung).

Tari Golek Ayun-Ayun Gaya Yogyakarta, classic dance javanese, culture

Tarian ini ditarikan pada Pagelaran Pariwisata di Pendopo Srimanganti yang merupakan sebuah acara rutin yang digelar pada tanggal 4 Maret 2018 yang bertujuan sebagai tontonan bagi wisatawan lokal maupun asing yang datang mengunjungi Kraton Yogyakarta. Selain itu, pagelaran ini sebagai tempat dan sarana ekspresi bagi seniman-seniman Yogyakarta.

Tari Golek Ayun-Ayun Gaya Yogyakarta, classic dance javanese, culture

Tari Golek Ayun-Ayun Gaya Yogyakarta ini ditarikan oleh Akademi Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta yang merupakan sebuah lembaga Pendidikan Tinggi Seni Budaya berstatus negeri yang memiliki kewenangan untuk meyelenggarakan pendidikan pada jenjang Diploma Satu (D1) sampai Diploma Dua (D2), dengan berpedoman pada Perpres no 8 tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia. Akademi ini dibentuk atas gagasan Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta (Sultan Hamengku Buwono X) dimulai sejak tahun 2013, dengan surat usulan pendirian ke Direktur Jendral Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia no. 412/5250.

Tari Golek Ayun-Ayun Gaya Yogyakarta, classic dance javanese, culture

Walaupun lahir di lingkungan dalam Kraton, tapi acuan geraknya menggunakan gerak tari ledhek yang lahir di masyarakat biasa.  Bisa dikatakan bahwa tarian ini merupakan perpaduan antara budaya Kraton dengan rakyat (diluar tembok kraton), yang didalam Kraton disesuaikan dengan pakem-pakem yang sudah ada di dalam Kraton, mulai dari gerak, busana, riasan sampai iramanya.

Tari Golek Ayun-Ayun Gaya Yogyakarta, classic dance javanese, culture

Tari Golek Ayun-Ayun dapat dikategorikan sebagai tarian tunggal yang mana dulunya hanya ditarikan oleh seorang saja, tapi dalam perkembangannnya tarian ini dimodifikasi oleh lebih dari satu penari, yang mana pola lantai dan komposisinya di variasi tergantung dari kreator tarinya. Hal ini karena tidak ada pakemnya di pola lantainya, beda dengan tari srimpi maupun bedhaya yang memang merupakan tari kelompok yang mempunyai pakem di pola lantai maupun komposisinya.

Tari Golek Ayun-Ayun Gaya Yogyakarta, classic dance javanese, culture

Untuk geraknya diawali dengan maju beksan yang diawali dengan gerakan menyembah, kemudian inti beksan yang berisi gambaran cara-cara seorang gadis  sedang berhias agar terlihat canti dan menarik seperti gerakan memakai bedak (tarikan), bercermin (ngilo), memakai hiasan sanggul (atrap cundhuk), memakai jamang (atrap jamang), memakai sabuk ( atrap slepe) dan pada bagian akhir atau mundur beksan, seperti gerakan berjalan (kapang-kapang), mohon pamit dan diakhiri gerakan duduk sembahan (sila panggung).

Tari Golek Ayun-Ayun Gaya Yogyakarta, classic dance javanese, culture

Busana yang dipakai pada Tari Golek Ayun-Ayun ini memakai kain batik bercorak parang rusak, bagian atasnya menggunakan rompi bludru bersulamkan emas, dilengkapi dengan sondher/sampur, slepe yang di pakai dipinggang, jamang elar (terbuat dari bulu menthok), konde dengan sinyong serta pelik, ceplok jebehan, godhegan, cundhuk mentul, cundhuk jongkat, sepasang subang (ronyok), sumping, klat bahu, cincin, gelang klana dan kalung tanggalan (susun 3).

Tari Golek Ayun-Ayun Gaya Yogyakarta, classic dance javanese, culture

Iringan tarian ini menggunakan gamelan klasik Jawa dengan gendhing ayun-ayun sesuai dengan nama tariannya. Biasanya tari golek ini nama dan gendhingnya sama namanya, walaupun ragamnya banyak, yang membedakan hanya iringan gendhingnya saja. Inti dari tari golek sebenarnya sama semua, walaupun banyak sekali ragamnya seperti, tari golek kenya tinembe, tari golek surung dayung, tari golek lambang sari.

Tari Golek Ayun-Ayun Gaya Yogyakarta, classic dance javanese, culture

Tari Golek Ayun-Ayun Gaya Yogyakarta

1Persembahan:Akademi Komunitas Seni dan Budaya Yogyakarta
2Penari:1. Umi Aulia Augustia (1700090511)

2. Verena Galuh P (1700106511)

3. Yudia Tantari Putri (1700102511)

4. Azizah Nur Khazanah (1700109511)

5. Hanin Adhiningtyas (1700103511)

6. Qovivah Nafiul A (1700119511)

7.Sisma Daimasari (1700120511)

3Pengrawit:Eko N, Aris T, Anjas S, Eko D, Dony Tumpang, Ako P, Fajar N, Alfian N, Bambang W, Dadang, Heri, Suwardi, Puguh p, Catur P, Ibnu Malik
4Sinden:Punky Wingky, Hilka Deristha, Thata Angelina, Miyasti N, Ida N, Iswinarni, Mongga, Sri R.

 

Tari Golek Ayun-Ayun Gaya Yogyakarta, classic dance javanese, culture

Sebuah tarian yang secara keseluruhan mempunyai makna sebagai lambang kehidupan yang berisi norma-norma yang dapat dijadikan tuntunan bagi seorang gadis/wanita khususnya, yang dapat memberi impresif sempurna pada penampilan sehingga memunculkan rasa percaya diri dengan segala potensinnya menjadi seseorang gadis/wanita secara utuh yang mengikuti pakem budaya Kraton Yogyakarta dengan sawiji (konsentrasi), greged (penuh semangat), sengguh (percaya diri) dan ora mengkuh (pantang menyerah) (Soebijanto/reog biyan)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here