myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Selamat pagi, semoga semua sehat dan bahagia. “Jawa” lebih dari hanya sekedar kata-kata dan sebuah pulau. Didalamnya mengandung sejarah, nilai-nilai yang luhur serta budi pekerti yang oleh setiap masyarakatnya dapat digunakan sebagai pedoman hidup yang semuanya di imbangkan hubungannya dengan Sang Pencipta. Ya, semua ini terlihat dalam Tari Jang Ka adalah sebuah tarian kontemporer yang mengambil dari petilan dari Tari Jawa Bali (kembali ke Jawa) pada bagian segmen ke 4 yang kemudian digarap dan dikembangkan sehingga muncul hal-hal yang baru.Tari Jang KaFokus pada tarian ini adalah menceritakan tentang orang-orang Jawa yang kehilangan Jawanya, yang dikaitkan dengan keadaan jaman sekarang ini, tapi kemudian orang-orang ini malah berbalik lagi menghidupkan spirit dan nilai-nilai luhur berupa budi pekerti yang terkandung dalam ajaran Jawa.Tari Jang KaKehilangan Jawa disini yang dimaksud adalah bahwa Jawa itu bukan sekedar persoalan sebuah nama pulau, tetapi disini lebih kepada identitas mulai dari kebudayaan, tradisi, ritual sampai pada kehidupan sehari-hari di masyarakatnya.Tari Jang KaTarian ini adalah ciptaan dari Anter Asmorotedjo pada awal tahun 2018, dimana pada event Asia Tri Jogja 2019 memang secara khusus dihadirkan yang telah digarap lagi, yang semuanya ini ditarikan dalam bentuk komunitas tari bernama Anterdans.Tari Jang KaAnter Asmorotedjo lahir di Yogyakarta, 13 April 1978, menekuni seni tari sejak kecil di kampung halamannya. Dalam usahanya menekuni dunia tari secara serius, Anter masuk di SMKI Yogyakarta, ISI Yogyakarta (1999), dan kemudian melanjutkan Pasca Sarjana (2015). Beberapa karya Anter diantaranya Colohok (2014), Suwung (2017) dan Portal (2017).Tari Jang KaTari Jang Ka di tampilkan dalam event Asia Tri Jogja 2019 pada hari kedua yang diselenggarakan oleh Komunitas Jaran Production yang bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta, yang diselenggarakan selama dua hari, tanggal 24-25 September 2019 di Rumah Petroek Hargobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta mulai pukul 18.30 wib sampai selesai.Tari Jang KaKomposisi di dalam tari ini mengandung makna krentegnya/tetegnya orang-orang Jawa  dalam menghidupkan nilai-nilai luhur yang mana didalamnya mereka juga menghadapi permasalahan-permasalahan yang hadir didiri mereka baik yang nampak maupun tidak, yang semuanya itu sebagai pembelajaran hidup didunia ini. Semuanya itu disimbolkan dengan adanya Garuda dan Naga yang melambangkan Ibu Pertiwi, yang mana mereka lahir, hidup dan mati di bumi Jawa.Tari Jang KaGerak dalam Tari Jang Ka sifatnya terpola dan improvatoris yang tetap diarahkan yang semuanya mengandung makna dengan karakteristik yang berbeda-beda, yang mana semuanya diarahkan serta di beri motivasi sesuai apa yang diharapkan.Tari Jang KaBusana yang dikenakan pada dasarnya menggunakan busana tradisi Jawa berupa moti-motip Lurik yang semuanya mewakili tradisi Jawa. Dengan menggunakan property bambu, dimana disini ada 9 lubang yang diartikan sebagai Babagan Howo Songo dalam diri manusia yang harus selalu dijaga dan dikendalikan.Tari Jang KaIringan dalam Tari Jang Ka ini sangat unik konsepnya, dimana pada awal dan pertengahan tarian terinspirasi dari Gunungan Wayang yang menceritakan manusia yang hidup didunia ini dengan Sang Pencipta. Prosesnya memang musik jadi duluan baru kemudian geraknya di garap dengan mengembangkan motip geraknya sehingga keduanya menjadi sinkron.Tari Jang KaTari Jang Ka.

1Produksi:Anterdans
2Koreografer:Anter Asmorotedjo
3Penata Musik:Bagus Masazupa
4Set Properti:Beni Emprit, Jibna
5Penari:
  1. Anang Wahyu Nugroho
  2. Widi Pramono
  3. Putra Jalu Pamungkas
  4. Irwanda Putra
  5. Eka Lutfi Febriyantono
  6. Bima Arya Putra
  7. Anter Asmorotedjo

Tari Jang Ka“Sebuah karya yang mewakili imajinasi yang bebas ditafsirkan sama penontonnya, jadi tidak hanya persoalan gerak tetapi juga memberikan makna, karena ini seni pertunjukan maka visual sangat penting, dengan dinamika yang tidak menjenuhkan yang dibumbuhi dengan humor-humor kekinian”, ujar Anter Asmorotedjo selaku koreografer disela-sela acara. (Soebijanto/reog biyan).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here