myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Sugeng enjang sedherek-sedherek. Wayang Orang gaya Yogyakarta merupakan tarian yang berbentuk organik, semua aspek seni pertunjukan maupun seni rupa ada di dalamnya, seperti drama, musik, sastra, rias, kriya maupun seni rupa. Ya, semua ini terlihat dalam Tari Janoko Cakil yang merupakan sebuah tari klasik gaya Yogyakarta dalam bentuk wayang orang yang di dalamnya menceritakan tentang peperangan antara Cakil yang disimbolkan sebagai angkara murka yang beringas dan kasar dengan Janoko yang disimbolkan sebagai seseorang yang berbudi luhur yang akhirnya dimenangkan oleh Janoko.Tari Janoko CakilCakil adalah seorang raksasa yang mempunyai rahang bawah yang menonjol kedepan, tokoh ini merupakan tokoh yang ada hanya didalam pewayangan Jawa Indonesia. Walaupun beringas dan kasar, tokoh Cakil sangat humoris dan patang menyerah yang mati karena kerisnya sendiri.Tari Janoko CakilCakil pada Wayang Wong gaya Yogyakarta menggunaka topeng di seluruh wajah, beda dengan gaya Surakarta yang hanya menggunakan topeng pada rahang bawah saja. Walaupun karakter kedua gaya ini beda, tapi pada kenyataannya kedua saling mempengaruhi sehingga geraknya kadang di campur sesuai dengan keahlian para penarinya.Tari Janoko CakilJanoko merupakan tokoh yang bersifat lemah lembut dan halus, juga mempunyai pengetahuan spiritual dan dia adalah seorang keturunan Raja. Seorang kesatria yang selalu membawa kebenaran dan keadilan, selalu membela yang lemah.Tari Janoko CakilInspirasi Tari Janoko Cakil ini didapat dari Wayang orang ketika adegan Perang Kembang atau lebih dikenal dengan Bambangan Cakil kalau di Surakarta. Disini kemudian dikemas dalam versi klasik gaya Yogyakarta yang diakhiri dengan gendhing Jangkrik Genggong sebagai salah satu ciri khasnya dalam jejeran cakil.Tari Janoko CakilTarian ini secara khusus di kreasi oleh Dr. KRT. Sunaryadi Maharsisworo, SST. M. Sn pada tahun 2019, yang ditampilkan dalam Pagelaran Tari Wisata Gaya Yogyakarta bersama dengan 4 repertoar tari klasik yang lainnya dengan durasi yang tidak panjang, menarik dan tidak membosankan sebagai bagian dari menarik wisatawan Yogyakarta.Tari Janoko CakilSebuah produktifitas yang sangat tinggi dan layak diapresiasikan oleh semua pihak, selama dua tahun terakhir beliau sudah menghasilkan 21 tarian baru dalam bentuk tari klasik gaya Yogyakarta maupun tari kreasi baru.Tari Janoko CakilPagelaran ini diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata DIY yang bekerjasama dengan POS Aji Mataram Yogyakarta, pada hari kamis, tangal 19 Desember 2019 di rumah Budaya POSRAM Yogyakarta, Jl. Gedong Kiwo MJ I/886 Yogyakarta mulai pukul 19.00 wib sampai selesai.Tari Janoko CakilPusat Olah Seni dan Bahasa Retno Aji Mataram (POSRAM) adalah sebuah sanggar tari klasik gaya Yogyakarta dan tari modern yang berdiri pada tanggal 9 Juli 1984 yang didirikan oleh Dr. KRT. Sunaryadi Maharsisworo, SST. M. Sn. Sanggar tari ini mempunyai base camp di , Jl. Gedong Kiwo MJ I/886 Yogyakarta 55142- Indonesia.Tari Janoko CakilSelain menerima anggotanya untuk generasi anak-anak, juga untuk ibu-ibu yang umurnya diatas 50 tahun, yang di sanggar ini dibuatkan khusus tarian  mempelajari sesuai dengan umur anggotanya. Selain sebagai bagian dari ekspresi bagi orang tua , tarian ini dapat dijadikan healing atau terapi kesehatan bagi tubuh yang sudah tidak muda lagi.Tari Janoko CakilKomposisi dalam tarian ini menggambarkan tentang keseimbangan didalam kehidupan manusia, dimana ada sisi antagonis dan protagonist, seperti dalam Wayang Orang Mataraman yang menjadi salah satu acuannya, yang pada akhirnya protagonislah yang akan memenangkan konflik yang terjadi.Tari Janoko CakilRagam gerak dalam beksan ini menggunakan ragam gerak tari klasik gaya Yogyakarta dimana ragam gerak yang dipakai Cakil disebut ragam Buto Cakil yang memiliki gerak yang sangat variatif, lincah dan prigel, sedangkan ragam gerak Janoko disebut dengan Impur Alus.Tari Janoko CakilPola lantainya lebih dinamis dan variatif, hal ini disebabkan karena tarian berpasangan dalam adegan peperangan. Maka pola lantainya tidak hanya kekanan dan kekiri tapi juga melingkar, kedepan dan kebelakang dengan dinamisnya. Dengan durasi yang pendek ini penari dituntut untuk sedikit lebih prigel.Tari Janoko CakilBusana yang dikenakan tercermin seperti yang digunakan pada wayang orang yang sering dipakai di dalam Kraton Yogyakarta, Cakil memakai topeng full face, sehingga perlu stamina bagus. Sedangkan Janoko pada badannya dia menggunakan sampur dan celana cinde, kalung susun satu, klat bahu, slepe, buntal, kainnya bermotip parang barong ceplok gurdo.Tari Janoko CakilIringan dalam tarian ini menggunakan struktur gendhing yang disebut playon dengan tetap memperhatikan spirit tari klasik gaya Yogyakarta yang disebut Playon Songo yang diambil dari idiom wayang kulit. Hal ini disebabkan karena tari Cakil biasanya ditarikan pada pekileran pedalangan, dalam hal ini sangat jarang dimunculkan dengan gaya Yogyakarta, karena lebih terkenal gaya Surakarta.Tari Janoko CakilTari Janoko Cakil

1Kreator:Dr. KRT. Sunaryadi Maharsisworo, SST. M. Sn
2Penata Busana dan Rias:Dra. R. Ay Mary Condronegoro
3Penata Iringan:Bayu Purnama S.Sn, M.Sn dan Naung Sunu S.Pd Grup
4Penari:
  1. Sagitama S.Sn (Janoko)
  2. Fendy (Cakil)

Tari Janoko Cakil“Sebuah keinginan mempopularkan tari Janoko Cakil versi gaya Yogyakarta dengan durasi yang pendek tapi padat, tanpa menghilangkan esensi atau pakem-pakem yang sudah ada untuk para audience baik wisatawan luar maupun domestic”, ujar Dr. KRT. Sunaryadi Maharsisworo, SST. M. Sn disela-sela acara. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here