myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Dalam perkembangannya Jathilan sekarang ini mengalami kemajuan, hal ini terjadi seiring dengan industri Pariwisata. Ini terlihat dari perubahan pada pola sajian, struktur gerak, rias busana, property dan variasi iringan. Dari sinilah kemudian muncul beragam Jathilan yang tambah unik. Salah satunya Tari Jhatilan Barongan Samin Edan yang merupakan tarian tradisi dari Kabupaten Blora yang didalamnya menceritakan tentang sekumpulan pasukan wanita yang menaiki kuda yang memiliki keberanian dan kekompakan tapi memiliki sikap yang centhil layaknya seorang wanita, yang kesemuanya ini menggambarkan nilai dan spirit dari masyarakat Blora.Tari Jhatilan Barongan Samin Edan, cultureTarian ini diciptakan oleh Endik Gutaris pada tahun 2010, yang diciptakan dalam rangka menyambut para mahasiswa Sendratasik Universitas Padang dalam rangka tour yang dilakukan di beberapa jurusan sesama sendratasik di universitas yang terdapat di Indonesia.Tari Jhatilan Barongan Samin Edan, cultureNama Barongan Samin Edan ini hasil celetukan dari Pak Ateng, dimana nama Samin Edan berasal dari kata Samin Surosentiko yang merupakan pejuang atau tokoh pahlawan dari Kabupaten Blora pada jaman penjajahan Belanda.Tari Jhatilan Barongan Samin Edan, cultureSamin Surosentiko memiliki siasat perang dengan menggunakan sikap seperti orang gila dengan maksud agar warga Blora bila ketemu penjajah bersikap seperti orang gila, hal ini dilakukan agar mereka tidak membayar upeti kepada penjajah Balanda waktu itu.Tari Jhatilan Barongan Samin Edan, cultureTarian ini merupakan asli tari tradisi dari Kabupaten Blora, yang kali ini di peruntukan bagi para mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Jurusan Pendidikan Seni Tari, Universitas Negeri Semarang dalam rangka melaksanakan mata kuliah Ujian Tari Jawa Tengah II di Karisidenan Blora.Tari Jhatilan Barongan Samin Edan, cultureTari Jhatilan Barongan Samin Edan dipentaskan di Gedung B6 Fakultas Bahasa dan Seni, Jurusan Pendidikan Seni Tari, Universitas Negeri Semarang, tepatnya pada tanggal 26 Novemberi 2018 pukul 08.30 sampai selesai dengan dosen pembimbing Drs. Indriyanto, M.Hum, Rimasari Pramesti Putri, S.Pd., M.Pd, Drs. Bintang Hanggoro Putra, M.Hum, Dr. Restu Lanjari, S.Pd., M.Pd dan Sestri Indah Pebrianti, S.Pd., M.A.Tari Jhatilan Barongan Samin Edan, culturePada tahun ini tema yang diangkat adalah “Batari Gumilang” yang mempunyai makna, bahwa para mahasiswa ini adalah kelompok kelompok putri yang gumilang atau cemerlang di kesenian khususnya tradisi Jawa Tengah dalam mata kuliah ini difokuskan pada kesenian Kuda Kepang.Tari Jhatilan Barongan Samin Edan, cultureGerak tari ini menggunakan ragam gerak baru yang menginterpretasikan “gila” atau diluar kebiasaan manusia pada umumnya yang sifatnya sangat dinamis dan variatip, tapi mempunyai ciri khas yaitu pada speed dan power serta ketahanan tubuh. Masalah estetika memiliki tempo yang kenceng dan sesek. Geraknya banyak pada volume kaki yang lebar, geyolan pinggul serta ekspresi wajah.Tari Jhatilan Barongan Samin Edan, cultureBusana yang dikenakan, pada bagian kepala menggunakan iket, jamang, sumping, kalung kace, pada badan menggunakan mekak merah, klat bahu, sabuk, gelang tangan, sedangkan pada bagian kaki menggunakan sampur, rapek, jarik dan gelang kaki dengan properti kuda kepang dan pecut. Riasnya menggunakan riasan karakter.Tari Jhatilan Barongan Samin Edan, cultureIringan yang mengiringi Tari Jhatilan Barongan Samin Edan merupakan musik garapan yang menggunakan gamelan klasik Jawa dengan iringan slendro yang dipadu dengan musik lainnya.Tari Jhatilan Barongan Samin Edan, cultureTari Jhatilan Barongan Samin Edan

1Penari:
  1. Anita Firdaus
  2. Candra Dewi
  3. Nadya Kusuma
  4. Emma Ayu Tri Nadya
  5. Eka Wahyu Fajar Savitri
  6. Dhita Setya Ningrum
2Koreografer:Endik Guntaris
3Komposer:
  1. Endik Guntaris
  2. Alfan Ahong

Tari Jhatilan Barongan Samin Edan, cultureKonsekuensi dari makin variatifnya Jathilan ini memberikan alternative yang lebih banyak di dalam industri Pariwisata yang berpengaruh terhadap tanggapan Jathilan, selain sebagai bagian dari sebuah upacara, sekarang lebih sebagai tontonan atau hiburan rakyat. (Soebijanto/reog biyan)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here