myimage.id | Tari Kedlarung adalah sebuah tarian kontemporer yang ide ceritanya mengambil legenda rakyat yang berasal dari Jawa Barat, tentang terjadinya atau terciptanya Gunung Tangkuban Perahu.

Tari Kedlarung

Diceritakan seorang gadis yang sangat cantik jelita bernama Dayang Sumbi, karena kecantikannya dia banyak dipinang oleh para Raja dan Pangeran, tapi semua ditolaknya. Tapi para Raja dan Pangeran ini malah saling berperang sendiri-sendiri. Melihat hal tersebut Dayang Sumbi mengasingkan diri di dalam hutan yang ditemani Si Tumang yang merupakan penjelmaan seorang Dewa yang tampan.

Tari KedlarungDidalam hutan Dayang Sumbi mempunyai anak dengan nama Sangkuriang, pada suatu kejadian Dayang Sumbi marah kepada Sangkuriang, dimana kepala anaknya dipukul dengan centong yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga kepala anaknya terluka. Karena kejadian ini Sangkuriang pergi meninggalkan Dayang Sumbi sendirian di dalam hutan. Karena ditinggal anaknya Dayang Sumbi meminta kepada Sang Yang Tunggal agar kelak ditemukan lagi dengan anaknya.

Tari KedlarungSetelah melakukan pengembaraan dan bertambah sakti Sangkuriang tanpa sengaja bertemu lagi dengan Dayang Sumbi yang masih tetap cantik seperti waktu muda. Bahkan keduanya jatuh cinta. Tapi sewaktu Dayang Sumbi menyisir rambut Sangkuriang dia melihat luka dikepala seperti luka di kepala anaknya dulu. Dan Dayang Sumbi yakin sekali bahwa Sangkuriang adalah anaknya. Tapi Sangkuriang tetap ingin menikah dengan Dayang Sumbi.

 

Tari Kedlarung

Dayang Sumbi mengajukan syarat yang berat kepadanya kalau Sangkuriang ingin menikahinya, dengan membuat telaga dan perahu dalam satu hari. Syarat tersebut disangggupi. Tapi sebelum syarat tersebut selesai Dayang Sumbi memukul kentongan yang menandakan pagi. Jin dan setan yang membantu Sangkuriang lari takut meninggalkan Sangkuriang karena adanya pagi. Sangkuriang marah dan menendang perahu hingga terbalik dan menjadi Gunung Tangkuban Perahu.

Tari Kedlarung

Tari Kedlarung dipentaskan dalam Pagelaran Kareografi Kelompok ini dilaksanakan pada tanggal 14 Juli 2018 pada pukul 09.00 wib di Gedung B6 Fakultas Bahasa dan Seni, Jurusan Pendidikan Seni Tari, Universitas Negeri Semarang sebagai bagian dari ujian kareografi mahasiswa Sendratasik.

Tari Kedlarung

Disini para mahasiswa ditugaskan dalam ujian ini untuk mengangkat tema “Kesenian Tradisi”  yang ada di Indonesia untuk dijadikan sebuah karya tari baru dalam bentuk kontemporer maupun tarian tradisi yang sudah dikreasi.

Tari Kedlarung

Walaupun ini ceritanya dari Jawa Barat, gerak Tari Kedlarung banyak didominasi dengan gerak tari Banyumasan seperti yang di tarikan pada tari Lengger yang merupakan khasnya Banyumasan. Tarian ini merupakan tarian kelompok yang dinamis dan tanpa pakem sehingga geraknya lebih eksploretif dan kreatif.

Tari Kedlarung

Busana yang dikenakan masih mengaju pada busana tradisi yang cenderung modern kekinian dengan dominasi warna pitih dan biru yang dipadu dengn layer-layer di pinggang dengan warna emas. Pada bagian penari putri bagian kepala dihiasai dengan bunga sedangkan pada penari prianya menggunakan iket kepala tradisional Jawa Baratan.

Tari KedlarungIringan yang mengiringi Tari Kedlarung menggunakan gaya Banyumasan yang cakepannya sendiri waktu adegan percintaan. Intinya dari vocal, tetap bercerita tentang kisah perjalanan cinta Dayang Sumbi dengan Sangkuriang yang berakhir dengan tragis.

 

Tari Kedlarung

Tari Kedlarung

1Dosen Pembimbing Mata Kuliah Kareografi:
  1. Dr. Restu Lanjari

2. Utami Arsih S.Pd. M.A

2Dosen Pengampu Mata Kuliah Manajemen Produksi:
  1. Moh. Hasan S.Sn, M.Sn

2. Dra. Veronica Eny Iryanti

3Nama Penyaji:
  1. Elia Safitri
  2. Sensi Nuriyamah
  3. Halimah
  4. Subchana Robiyanto
  5. Imrotul Afifah
4Pemusik:Agung Permadi, Danu DR, Arief KR, Dimas RM, Gilang AP, Alan Aji P, Agus D, Yoga CP, Yofan DI.

Tari Kedlarung

Makna yang didapat dalam tarian ini, cinta harus diperjuangkan walaupun apapun yang terjadi, tapi semua itu harus ada dasarnya, yaitu cinta kasih bukan cinta terlarang. Sebuah pengorbanan dalam bercinta adalah sesuatu yang wajar yang dijalani oleh kedua insan untuk mendapatkan kebahagiaan. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here