myimage.id | Tari Klana Sepuh “Surengpati” merupakan sebuah tarian yang konsepnya diperuntukan untuk penari-penari yang usianya menginjak 50 tahun. Tarian terinspirasi Ibu Savinah dan Ibu Safitri dari Cirebon yang usianya sdh menginjak 80 tahun tapi masih ekspresif dalam membawakan sebuah tarian. Karena setelah didalami betul ternyata keduanya kuncinya tidak ada olahan kaki dalam sebuah tarian tapi hanya dari pinggul keatas, jadi hanya dengan duduk saja mereka dapat mengolah tarian. Tarian ini ditampilkan pada acara Sewindu Bale Seni Condroradono di Ndalem Mangkubumen 3 November 2017 pada urutan kedua karya Dr. Kuswarsantyo, M. Hum.

Tari Klana Sepuh “Surengpati”

Hal ini bukan suatu perkara yang mudah untuk melakukan semuanya itu, karena sangat yakin anak-anak muda tidak akan mungkin menandingi mereka karena ini dapat dilakukan dengan proses waktu yang sangat lama sekali. Semakin tua maka akan semakin ekspresif sekali untuk melakukan tarian ini, dimana untuk anak-anak muda dapat disebut masih dalam tataran olahan skill saja atau baru ketrampilan saja.

Tari Klana Sepuh “Surengpati”

Dari semuanya itu maka terciptalah Tari Klana Sepuh “Surengpati” ini walaupun masih ada gerakan-gerakan junjungan kaki tapi sedikit, tetapi total intinya hanya menata badan dan tangan serta kepala saja.

Tari Klana Sepuh “Surengpati”

Pemaknaan Tari Klana Sepuh “Surengpati” ini bukan lagi bicara masalah gandrung jadi tidak ada istilahnya wanita dalam cerita panji ini, karena dalam cerita Panji Klana Sewandono ceritanya bagaimana dia bisa memboyong seorang putrid Dewi Condrokirono, tetapi dalam konsep pada tarian ini tidak bicara kesitu, tapi pembicaraan kedepannya orang harus siap menghadapi masa-masa kita akan mati.

Tari Klana Sepuh “Surengpati”

Surengpati artinya apa yang kita perbuat untuk kebaikan menjelang kita mati. Surengpati adalah kesiapan mental maupun fisik kita, serta menceritakan tentang kita dalam mengisi kehidupan kita di dunia ini.

Tari Klana Sepuh “Surengpati”

Jadi Surengpati merupakan symbol yang mengingatkan kita manusia harus instropeksi diri walaupun kehidupan sekarang yang hiruk pikuk ini kita harus tetap sareh, sabar dan menep yang tergambar pada tarian ini dengan irama gamelan yang sedikit diangkat agak temporer, dimana gerak tariannya tidak terlalu ritmis seperti dalam Tarian Klono Topeng yang sebenarnya.

Tari Klana Sepuh “Surengpati”

Pada Tari Klana Sepuh “Surengpati” tidak memakai kendang, hanya ilustratif. Ini bedanya dengan tarian Klono Topeng yang sudah ada sekarang . Jadi irama gamelan disini menjadi benar-benar sebagai penuntun emosi, suasana serta membawa karakter Klana Sepuh yang sudah benar-benar mencerminkan sudah menep, sareh  dan sabar dalam segala situasinya.

Tari Klana Sepuh “Surengpati”

Dalam Tari Klana Sepuh “Surengpati” ini Dr. Kuswarsantyo, M. Hum mendapat tantangan, dimana tarian ini diperuntukan untuk yang berumur 50 tahun, bagaimana dengan yang 60 tahun, 70 tahun dan seterusnya? Kesemuanya itu terjawab dengan perbedaan gerak yang semakin lembut, dimana pada tarian klana sepuh untuk yang 50 tahun ini merupakan tarian yang masih ditengah-tengah dimana disini masih belum total menep, sareh dan sabarnya, karena dari ekspresi yang membawakan masih membawa emosi dan masih terbiasa membawa klono topeng yang seperti aslinya. Intinya kurang tua, masih petakilan, karena ini dipengaruhi juga Dr. Kuswarsantyo, M. Hum dimana master peacenya pada Tari Klono Topeng sehingga orang melihat masih banyak melihat gerakan-gerakan yang terlihat gagah dan petakilan.

Tari Klana Sepuh “Surengpati”

Tari Klana Sepuh “Surengpati”

Penata tari: Dr. Kuswarsantyo, M. Hum.
Penata iringan: Drs. Sukisno, M.Sn.
Penata kostum: Otok Fitriyanto, S.Pd.
Penari: KRT. Condrowaseso.

Tari Klana Sepuh “Surengpati”

Tarian ini Dr. Kuswarsantyo, M. Hum berkolaborasi dengan Drs. Sukisno, M Sn, di mana konsep tarian ini tercipta dari iringannya dulu baru kemudian gerak tarinya mengikuti. Durasi tarian ini juga mengalami perubahan sebanyak 3 kali dengan medium iringan murni gamelan. Inti dari gerakan tari ini ada 3 yaitu bagian pertama maju gending, kemudian inti beksannya ditengah dan mundur gending pada bagian belakang. (Soebijanto/reog biyan)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here