myimage.id | Tari Klasik Jawa adalah sebuah tarian yang dulunya tumbuh subur dan hanya bisa dinikmati oleh orang-orang tertentu saja dan hanya ditarikan di dalam lingkungan dalam tembok Kraton. Pada jaman sekarang ini terjadi pergeseran kepemilikan kearah masyarakat umum, jadi tarian klasik ini bukan lagi menjadi milik kelompok tertentu saja, tetapi sekarang ini sudah menjadi bagian dari masyarakat umum. Bahkan sekarang tarian klasik ini dapat dipelajari oleh masyarakat sebagai bagian dari pelestarian dan pengembangan tari klasik Jawa, dengan era keterbukaan tembok kraton. Tari klasik Jawa tersebut antara lain :

Tari Klasik Jawa, ragam budaya indonesia, classic dance

1.Tari Golek Lambang Sari

Tari Golek Lambang Sari adalah sebuah Tari Klasik Jawa yang menggambarkan tentang seorang gadis remaja yang menginjak dewasa yang sangat pandai bersolek atau merias wajahnya yang mana ini semua tergambar dalam tarian ini, seperti memegang cermin serta memakai alat kosmetik.

Tari Klasik Jawa, ragam budaya indonesia, classic dance

Tarian ini merupakan bagian dari acara dari Setu Ponan yang diadakan di  Kraton Pura Mangkunegaran Surakarta yang merupakan bagian dari pelestarian seni dan budaya Indonesia, Jawa khususnya. Acara ini diselenggarakan setiap 35 hari sekali di Dalem Prangwedanan Pura Mangkunegaran tepatnya pada tanggal 9 Desember 2017,  ini sudah yang ke 44 kali digelar. Tarian ini merupakan persembahan dari Akademi  Seni Mangkunegaran (ASGA) Puro Mangkunegaran Surakarta dengan penarinya Fatma, Kaori dan Pujiyani M.Sn.

Tari Klasik Jawa, ragam budaya indonesia, classic dance

Dinamakan Tari Golek Lambang Sari karena tarian ini disesuaikan dengan nama irama yang mengiringinya yaitu gending Lambang Sari. Makna kata dari Lambang Sari adalah persetubuhan atau bersetubuh,  yang dapat diartikan penyatuan jiwa dan raga, penyatuan fisik dan rasa antara tarian dengan iringannya.  Karena dalam sebuah tarian, penari harus masuk didalam iringan sehingga menyatu didalam gerak tari yang dibawakan.

Tari Klasik Jawa, ragam budaya indonesia, classic dance

Tari Golek Lambang Sari diciptakan pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan VIII oleh KRT Purbaningrat dan dapat dikategorikan di dalam Tari Klasik dengan ragam tari klana alus. Dulu tarian ini ditarikan secara tunggal atau perorangan.

Tari Klasik Jawa, ragam budaya indonesia, classic dance

Tarian ini merupakan jenis tari Klasik gaya Yogyakarta, yang pada tahun 1916 Sri Sultan Hamengku Buwono VII menghadirkan tarian ini ke Kraton Mangkunegaran pada saat penobatan Sri Mangkunegara ke VI. Dalam perkembangan selanjutnya Tari Golek Lambang Sari menjadi tari Golek yang terkenal dan menjadi materi pembelajaran di Kridha Mardawa Kraton Yogyakarta.

Tari Klasik Jawa, ragam budaya indonesia, classic dance

Menurut sejarahnya tarian ini dulunya berasal dari luar Kraton yang biasanya di tarikan oleh ledhek. Karena gerak tariannya yang kelihatan erotis maka ketika masuk di dalam Kraton tarian ini diolah dan diperhalus gerakannya. Mulai dari gerak pundak, pinggul dan mata ditata halus dan nyaris meninggalkan dari kesan erotis. Dulu tarian ini di dalam Kraton hanya ditarikan oleh penari laki-laki saja.

Tari Klasik Jawa, ragam budaya indonesia, classic dance

Tetapi dalam perkembangan sekarang ini, tarian ini sekarang sering sekali ditarikan oleh  para gadis remaja (menyesuaikan makna tariannya) dan ditarikan secara berkelompok yang rata-rata 3 penari.

Tari Klasik Jawa, ragam budaya indonesia, classic dance

Golek dalam bahasa Jawa dapat diartikan mencari sesuatu. Dalam kontek dan makna yang lebih dalam lagi, tarian ini menggambarkan seorang gadis remaja yang beranjak dewasa sedang mencari identitas dalam perjalanan hidupnya sebagai manusia.

Tari Klasik Jawa, ragam budaya indonesia, classic dance

Tarian ini memberikan ajaran bagi kita manusia hendaklah dalam hidup ini kita mencari makna dan hakekat yang positip atau berguna selain untuk diri sendiri, juga berguna bagi masyarakat dan lingkungan, serta kita harus selalu belajar untuk menuju kebaikan.

2.Tari Srimpi Mondrorini

Tari Srimpi Mondrorini adalah sebuah tarian Tari Klasik Jawa dari Pura Mangkunegaran Surakarta  yang menceritakan tentang pertempuran antara Raja Putri Suprobowati yang mempunyai Patih bernama Dewi Genowati dari Kerajaan Sigaluh dengan Sri Kenyo Srirajadi yang mempunyai patih bernama Dewi Nilowati dari Kerajaan Nuswro Brambang.

Tari Klasik Jawa, ragam budaya indonesia, classic dance

Tarian ini ditarikan oleh Pakarti (Paguyuban Kerawitan dan Tari) Pura Mangkunegaran Surakarta pada pegelaran seni tari di Dalem Prangwedan Pura Mangkunegaran dalam acara Setu Ponan ke 47, tepatnya pada tepat tanggal 24 Maret 2018. Acara ini sebagai peringatan lahirnya KGPAA Mangkunegaran IX yang lahir pada hari Sabtu Pon yang selalu digelar setiap 35 hari sekali, dimana penyelengaranya adalah Akademi Seni Mangkunegaran (ASGA) Surakarta.

Tari Klasik Jawa, ragam budaya indonesia, classic dance

Pakarti (Paguyuban Kerawitan dan Tari) Pura Mangkunegaran Surakarta dipimpin oleh Bapak RT Sri Hartono dan Ibu Umi, merupakan sebuah paguyuban yang terbuka untuk umum bagi siapa saja yang ingin belajar maupun menari klasik Jawa khususnya gaya Mangkunegaran. Latihan diadakan dua kali seminggu setiap Rabu malam dan Minggu malam.

Tari Klasik Jawa, ragam budaya indonesia, classic dance

Tari Srimpi Mondrorini merupakan tarian klasik gaya Surakarta yang diciptakan oleh Mangkunegoro VII. Tarian ini merupakan salah satu tarian srimpi yang terdapat di lingkungan Pura Mangkunegaran disamping ada satu lagi tari srimpi yang lain yaitu Srimpi Anglirmendhung.

Tari Klasik Jawa, ragam budaya indonesia, classic dance

Gerak tarian ini terbagi menjadi tiga yaitu maju beksan, inti beksan, dan mundur beksan. Awalan gerak biasanya disebut sembahan yang dilanjutkan dengan gerak sabetan, lumaksono, trisik, kemudian maju ke gawang sebelah kanan untuk peran Raja Putri Suprobowati dengan patihnya Dewi Genowati dan gawang sebelah kiri untuk peran Sri Kenyo Srirajadi dengan patihnya Dewi Nilowati. Tarian ini intinya pada adegan perang yang dimulai dengan tembang buko celuk padang bulan yang dilanjutkan dengan kembangan. Gerak kembangan terbagi dalam beberapa gerakan, yang pertama larasawit, kedua ukel angkrik, ketiga ipyek, keempat gajah-gajahan, enjer widung sampur dan terakhir leyotan

Tari Klasik Jawa, ragam budaya indonesia, classic dance

Gendhing-gendhing pada tarian ini diiringi dengan musik gamelan klasik Jawa secara langsung dari grup Pakarti (Paguyuban Kerawitan dan Tari) Pura Mangkunegaran Surakarta secara live show, dimana awalan tarian menggunakan gendhing ladrang Gondosuli yang kemudian pada adegan perangnya menggunakan gendhing srepegan.

Tari Klasik Jawa, ragam budaya indonesia, classic dance

Busana yang dikenakan, pada bagian kepala menggunakan irah-irahan dan sumping, busananya menggunakan rompi warna merah yang dihiasi warna emas, klat bahu, kalung, gelang serta sampur berwarna hijau. Sedangkan jariknya menggunakan jarik samparan dengan motip parang. Riasan menggunakan riasan cantik dengan property keris dan jemparing (panahan).

Tari Klasik Jawa, ragam budaya indonesia, classic dance

Tari Srimpi Mondrorini.

1Persembahan:Pakarti (Paguyuban Kerawitan dan Tari) Pura Mangkunegaran Surakarta
2Penari:
  1. Fatma Pathil
  2. Rani
  3. Lia
  4. Siska

Tari Klasik Jawa, ragam budaya indonesia, classic dance

Pada jaman sekarang ini, terjadi pergeseran kepemilikan jenis-jenis kesenian dalam Kraton ke arah kesenian masyarakat umum. Dimana tidak lagi menjadi kelompok elit tertentu, tapi sekarang menjadi milik komunitas yang lebih luas. Pergeseran ini disebabkan karena tuntutan jaman serta adanya penyempurnaan teknik penataan serta penyempurnaan bentuk fisikal kesenian sampai memperkaya tarian-tarian tersebut. Disamping itu juga untuk menyatukan tentang pengertian penyebarluasan wilayah dari lingkungan komunitas tertentu kearah komunitas yang lainnya.

 3.Tari Srimpi Sangupati

Tari Srimpi Sangupati adalah sebuah Tari Klasik Jawa yang sakral dan mistis yang menceritakan tentang penari yang mempunyai peran ganda, tidak hanya sebagai penari tapi juga sebagai prajurit Kraton yang bertugas membuat tamu-tamu Belanda mabuk dengan arak yang disediakan oleh para penari ini. Tarian ini sebagai salah satu bentuk politik untuk menggagalkan keinginan dari Belanda yang menginginkan tanah di kawasan pesisir Pulau Jawa dan beberapa hutan jati yang ada, dan taktik politik ini berhasil. Inti dari tarian ini adalah mengagungkan tokoh pendiri Kerajaan Mataram atau lebih dikenal dengan Wong Agung Ngeksi gondo Panembahan Senopati.

Tari Klasik Jawa, ragam budaya indonesia, classic dance

Tarian ini ditarikan pada pegelaran seni tari di Dalem Prangwedan Pura Mangkunegaran dalam acara Setu Ponan ke 45, tepatnya pada tepat tanggal 13 januari 2018, acara ini sebagai peringatan lahirnya KGPAA Mangkunegaran IX yang lahir pada hari Sabtu Pon yang selalu digelar setiap 35 hari sekali, dimana penyelengaranya adalah Akademi Seni Mangkunegaran (ASGA) Surakarta.

Tari Klasik Jawa, ragam budaya indonesia, classic dance

Dulu sebelum bernama Srimpi Sangupati, ketika Pakubuwono IX memerintah Kraton Surakarta (1861-1893), aslinya bernama Srimpi Sangapti, “Sang Apati” yang berarti sebutan bagi pengganti Raja. Sesungguhnya Tari Srimpi Sangupati ini tidak hanya sebagai sebuah hiburan saja untuk Belanda, tapi maksud  yang lebih adalah minta kematian atau bekal kematian untuk Belanda. Dalam penggolongan fungsinya tarian ini sebagai pertunjukan hiburan, khususnya menjamu tamu-tamu istana. Pada jaman pemerintahan Sunan Paku Buwono X dipentaskan di Kraton Kilen, Ndalem Ageng Sasoni Sewoko.

Tari Klasik Jawa, ragam budaya indonesia, classic dance

Walaupun sebagai penari, waktu menjamu Belanda, para penari dibekali dengan busana yang dapat dijadikan sebagai senjata, seperti cundhuk mentul (kembang goyang), gelas berisi arak yang beracun serta pistol yang benar-benar berisi peluru. Dalam keadaan mabuk Belanda melupakan semua keinginan yang ingin diraihnya.

Tari Klasik Jawa, ragam budaya indonesia, classic dance

Tari Srimpi Sangupati merupakan karya dari Pakubuwono IV yang memerintah Kraton Surakarta Hadiningrat pada tahun 1788-1820. Sekarang ini Tari Srimpi Sangupati sudah mengalami penggarapan ulang mulai dari durasi waktu maupun gerak. Awalnya tarian ini berdurasi sekitar 2 jam, sekarang hanya menjadi sekitar 15 menit saja. Dulu tarian ini digunakan untuk penyambutan tamu agung dan hanya orang-orang Kraton saja yang dapat menyaksikan, sekarang difungsikan hanya sebagai hiburan belaka yang kesemua adegannya dilakukan secara simbolik.

Tari Klasik Jawa, ragam budaya indonesia, classic dance

Gerak Tari Srimpi Sangupati ini memang rumit karena dikategorikan sebagai tari Klasik Surakarta, dimana setiap geraknya mengandung makna dan arti yang khusus. Gerakan yang didominasi oleh gerakan tangan, kaki dan kepala. Dimana disetiap pentasnya terasa aura magicnya dan terlihat geraknya lemah gemulai yang mengikuti irama gamelan yang mengiringinya.

Tari Klasik Jawa, ragam budaya indonesia, classic dance

Busana yang digunakan Tari Srimpi Sangupati menggunakan hiasan kepala dengan jamang, grudha, sumping. Lengan menggunakan kelat bahu, gelang polos/ulan-ulan. Menggunakan kalung penanggalan, giwang permata/sengkang, cundhuk jungkat dan bros. Kain dengan samparan, sampur polos/gombyok kembang suruh, timang putri (thothok), slepe, baju mekak dari bludru.

Tari Klasik Jawa, ragam budaya indonesia, classic dance

Properti busana menggunakan selendang yang diletakan pada pinggang penari serta keris yang diselipkan pada bagian menyilang ke kiri. Sedangkan riasannya menggunakan riasan karakter make up yang menambah kecantikan dan keanggunan penarinya.

Iringan pada Tari Srimpi Sangupati menggunakan alat gamelan Jawa Klasik dimana pada awal penari masuk diiringi dengan Sangopati dan Ketawang Longsor. Denga properti tari menggunakan pistol, gelas, porong kecil berisi minuman.

Tari Klasik Jawa, ragam budaya indonesia, classic dance

Tari Srimpi Sangupati

1Persembahan:Akademi Seni Mangkunegaran (ASGA) Surakarta, Puro Mangkunegaran Surakarta
2Penari:1. Rambat

2. Agustina

3. Wuri

4. Noniek

Tari Klasik Jawa, ragam budaya indonesia, classic dance

Pesan yang diinginkan pada Tari Klasik Jawa ini adalah hendaknya manusia itu tidak mementingkan diri sendiri dan diharapkan kita mampu melawan hawa nafsu yang berfungsi menuju jalan kebaikan untuk mencapai kehidupan yang sejahtera. Tarian ini merupakan kekayaan seni dan budaya Bangsa Indonesia yang harus dijaga dan dilestarikan serta dikembangkan untuk menarik wisatawan lokal maupun asing datang ke Indonesia di bidang Pariwisata. (Soebijanto/reog biyan)

1 COMMENT

  1. Websitebta mengundang banyak pertanyaan dengan codingnya, wp rasa php, php rasa wp, empunya yg punya website bisa bisikin sedikit triknya, unik wp nya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here