myimage.id | Tari Klono Alus Onang-Onang Manis adalah sebuah petikan tari dari cerita Wayang Wong gaya Yogyakarta yang menceritakan tentang suasana ketika seorang Raja yang bernama Jungkung Mardiyo jatuh cinta kepada Dewi Srikandi, dimana karena terlalu cintanya dia sampai lupa terhadap dirinya sendiri yang mana dia selalu membayangan sang pujaaan hatinya selalu ada disisinya, tapi hal itu sebenarnya tidak seperti itu, tindakan dia seperti fatamorgana yang hanya berisi bayangan yang tidak nyata.

Tari Klono Alus Onang-Onang Manis,culture

Tarian ini ditarikan pada Pagelaran Pariwisata di Pendopo Srimanganti merupakan sebuah acara rutin yang digelar pada tanggal 21 Januari 2018 yang bertujuan sebagai tontonan bagi wisatawan lokal maupun asing yang datang mengunjungi Kraton Yogyakarta. Selain itu, pagelaran ini sebagai tempat dan sarana ekspresi bagi seniman-seniman Yogyakarta.

Tari Klono Alus Onang-Onang Manis,culture

Tari Klono Alus Onang-Onang Manis ini merupakan tarian ciptaan Doktor. Bambang Pujasworo yang mana sampai sekarang beliau adalah seorang pengajar (dosen) di ISI Yogyakarta, dan tarian ini beliau ciptakan pada tahun 2000 an. Nama Tari Klono Alus Onang-Onang Manis ini namanya disesuaikan dengan irama gendhing yang mengiringi tarian tersebut yaitu gendhing onang-onang manis.

Tari Klono Alus Onang-Onang Manis,culture

Memang biasanya dalam tarian golek, tarian klono alus, tarian srimpi maupun bedoyo itu disebut berdasarkan gendhing-gendhingnya. Meskipun banyak juga yang di beri nama lain, semisal tari klono alus srisuwelo dengan gendhing sumiyar, tari srimpi ronggo janur dengan gendhing ketawang ronggo janur. Beda kalau beksan, kalau ini biasanya disebut dengan menyesuaikan lakonnya seperti Gatotkoco Sutedjo maka disebut beksan Gatotkoco Sutedjo.

Tari Klono Alus Onang-Onang Manis,culture

Tari Klono Alus Onang-Onang Manis,culture

Walaupun Tari Klono Alus Onang-Onang Manis ini sebenarnya induk tariannya sudah ada pada cerita Wayang Wong gaya Yogyakarta dengan gendhing dan geraknya, tapi kemudian disusun lagi oleh Doktor. Bambang Pujasworo, yang sebenarnya tarian ini untuk materi kuliah yang beliau ampu bagi mahasiswa ISI Yogyakarta, yang mana versi utuhnya sangat panjang kalau ditarikan secara utuh, tapi kali ini hanya ditarikan sekitar 15 sampai 20 menit. Tarian ini merupakan tarian tunggal walaupun kali ini ditarikan oleh 3 mahasiswa ISI Yogyakarta.

Tari Klono Alus Onang-Onang Manis,culture

Gerak dasar yang digunakan pada Tari Klono Alus Onang-Onang Manis ini disebut dengan Kala Kinantang Alus, yang awalannya geraknya disebut dengan maju gendhing, kemudian pada bagian tengah yang merupakan gerakan utamanya disebut Muryani Busono. Disini geraknya menceritakan gandrungnya Raja Jungkung Mardiyo kepada Dewi Srikandi yang terdiri dari atrak jamang, atrak sumping, miwir boro, dolanan sampur dan gerakan terakhir disebut dengan mundur gendhing. Struktur utama pada tari Klasik Jawa selalu ada maju bekso, bekso dan mundur bekso.

Tari Klono Alus Onang-Onang Manis,culture

Busana yang digunakan pada tarian ini seperti busana Wayang Wong yang diciptakan pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, dimana semua memakai tepen, tapi seiring waktu busana ini oleh para penata ahli busana Sri Sultan Hamengku Buwono VIII disesuaikan dengan busana Wayang Kulit, hal ini dilakukan untuk lebih menunjukan karakter yang dimainkan.

Tari Klono Alus Onang-Onang Manis,culture

Pada bagian kepala ada namanya irah-irah, lar (bulu), sumping, jamang, karena ini menceritakan seorang raja maka harus memakai probo. Probo adalah tanda yang digunakan hanya untuk seorang raja (ikonnya raja), selain itu juga memakai stagen, timang, boro, sampur dan celono panji.

Tari Klono Alus Onang-Onang Manis,culture

Riasan pada tarian ini memakai riasan karakter brayak (layap) yang menunjukan bahwa pembawa tarian ini mempunyai sikap yang sangat dinamis dan bicaranya pasti menggunakan intonasi yang cenderung tinggi.

Tari Klono Alus Onang-Onang Manis,culture

Salah satu kekayaan seni budaya berupa tarian gaya Yogyakarta yang menambah keaneka ragaman tari di Indonesia, selain digunakan sebagai pembelajaran bagi generasi muda lewat ISI Yogyakarta, ternyata tarian ini dapat digunakan juga sebagai daya tari Pariwisata bagi wisatawan lokal maupun asing yang datang di Kraton Yogyakarta. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here