myimage.id | Salam Budaya, sugeng enjing, sugeng kewarasan. Lagi, lagi Tari Klasik !!! Tari Klasik membawa kita kepada pemahaman akan nilai-nilai seni budaya yang tidak hanya sebagai aturan tetapi membawa kita untuk mewujudkan dan menggunakan nilai-nilai tersebut kedalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya tercermin dalam Tari Klono Alus Sumiyar yang merupakan sebuah tari klasik gaya Yogyakarta yang didalamnya menceritakan tentang Dewi Arimbi yang gandrung dengan Raden Werkudoro dengan cara menyamar sebagai Raja Sri Suwelo.Tari Klono Alus Sumiyar, CultureTari Klono Alus Sumiyar merupakan tarian tunggal yang ide ceritanya diambilkan dari wayang orang gaya Yogyakarta, dimana versi utuhnya sangat panjang sekitar 1 jam lebih, tapi kali ini dibawakan hanya sekitar 15 sampai 20 menit.Tari Klono Alus Sumiyar, CultureTarian ini hanya ditarikan di dalam Kraton saja, tapi dalam perkembangannya sekarang bisa ditarikan diluar Kraton, hal ini sangat baik sekali untuk pelestarian dan pengembangan tari-tari klasik agar lebih merakyat yang dapat dijadikan sebagai salah satu hiburan rakyat yang berkelas.Tari Klono Alus Sumiyar, CultureTarian ini ditarikan pada Pagelaran Pariwisata di Bangsal Trajumas oleh Sanggar Irama Tjitra, yang merupakan sebuah acara rutin yang kali ini digelar, tepatnya pada tanggal 11 November 2018 pukul 11.00 wib yang bertujuan sebagai tontonan bagi wisatawan lokal maupun asing yang datang mengunjungi Kraton Yogyakarta. Selain itu, pagelaran ini sebagai tempat dan sarana ekspresi bagi seniman-seniman Yogyakarta.Tari Klono Alus Sumiyar, CultureSanggar Irama Tjitra adalah sebuah sanggar tari gaya Yogyakarta yang berdiri pada tanggal 25 Desember 1949 yang kegiatan setiap harinya di Bangsal Wiyoto Projo, Kompleks Kepatihan Kantor Gubernur DIY. Sanggar ini dulunya dibentuk oleh para seniman-seniman muda yang bergabung di Sanggar Tari Krido Bekso Wirama yang merupakan sanggar tertua di Yogyakarta yang lahir di luar tembok Kraton Yogyakarta pada tanggal 17 Agustus 1918.Tari Klono Alus Sumiyar, CultureSanggar Irama Tjitra pernah vakum agak lama lepas peristiwa pada tahun 1965 di Indonesia, tapi kemudian mulai aktip lagi pada tahun 1997 sampai sekarang. Sanggar ini sekarang lebih memprioritaskan regenerasi penari, dimana penari yang lebih muda lebih diberi kesempatan untuk tampil pentas dengan bimbingan para seniornya.Tari Klono Alus Sumiyar, CultureGerak dasar yang digunakan pada Tari Klono Alus Sumiyar disebut dengan Kala Kinantang Alus, yang awalannya geraknya disebut dengan maju gendhing, kemudian pada bagian tengah yang merupakan gerakan utamanya disebut Muryani Busono.Tari Klono Alus Sumiyar, CultureDisini geraknya menceritakan gandrungnya Prabu Sri Suwelo kepada Raden Werkudoro yang terdiri dari atrak jamang, atrak sumping, miwir boro, dolanan sampur dan gerakan terakhir disebut dengan mundur gendhing. Struktur utama pada tari Klasik gaya Yogyakarta selalu ada maju beksan, inti beksan dan mundur beksan.Tari Klono Alus Sumiyar, CultureBusana yang digunakan pada tarian ini seperti busana Wayang Wong yang diciptakan pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, dimana semua memakai tepen, tapi seiring waktu busana ini oleh para penata ahli busana Sri Sultan Hamengku Buwono VIII disesuaikan dengan busana Wayang Kulit, hal ini dilakukan untuk lebih menunjukan karakter yang dimainkan.Tari Klono Alus Sumiyar, CulturePada bagian kepala ada namanya pogokan, irah-irah lar (bulu), sumping, jamang, karena ini menceritakan seorang raja maka harus memakai probo. Probo adalah tanda yang digunakan hanya untuk seorang raja (ikonnya raja), selain itu juga memakai stagen, timang, boro, sampur klono dan celono panji.Tari Klono Alus Sumiyar, CultureRiasan pada Tari Klono Alus Sumiyar memakai riasan karakter brayak (layap) yang menunjukan bahwa pembawa tarian ini mempunyai sikap yang sangat dinamis dan bicaranya pasti menggunakan intonasi yang cenderung tinggi.Tari Klono Alus Sumiyar, CulturePada tarian golek, tarian klono, tarian srimpi dan bedoyo biasanya disebut berdasarkan gendhing-gendhingnya. Meskipun banyak juga yang di beri nama lain, semisal tari klono alus srisuwelo dengan gendhing sumiyar, tari srimpi ronggo janur dengan gendhing ketawang ronggo janur. Beda  lagi kalau beksan yang menyesuaikan lakonnya, seperti Gatotkoco Sutedjo maka disebut beksan Gatotkoco Sutedjo. Kali ini gendhing pada tarian ini menggunakan gendhing ladrang sumiyar pelog barang dengan gamelan klasik Jawa.Tari Klono Alus Sumiyar, CultureTari Klono Alus Sumiyar

1Persembahan:Sanggar Irama Tjitra Yogyakarta
2 Penari:Yanuari Kristiawan

Tari Klono Alus Sumiyar, CultureMakna tarian ini mengajarkan kita tentang keteguhan hati untuk mencintai pasangan kita. Walaupun banyak godaan dan rintangan, kita harus tetap teguh dalam janji cinta kita. Hanya ajal yang memisahkan cinta sepasang kekasih yang abadi. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here