myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya, sugeng enjing sugeng kawarasan. Bunyi gamelan mengalun dengan merdunya terdengar di kawasan Kraton Yogyakarta. Tampak penari memasuki Bangsal Trajumas yang akan menunjukan tarian untuk menghibur wisatawan yang datang pada hari Minggu. Ya, kali ini di tampilkan sebuah Tari Klono Topeng yang merupakan sebuah tari klasik gaya Yogyakarta yang didalamnya menceritakan tetang Prabu Sewandono dari kerajaan Bantarangin yang sedang gandrung (jatuh cinta) dengan Dewi Candrakirana.Tari Klono Topeng, culturePenggambaran karakter pada tarian ini sangat jelas, dimana Prabu Sewandono digambarkan penari yang memakai topeng berwarna merah yang berkumis tebal, mata melotot dan berekspresi bengis sebagai symbol manusia yang bertabiat buruk, penuh amarah, kejam, tidak bisa mengendalikan hawa nafsu serta angkara murka sedang melakukan gerakan layaknya orang sedang jatuh cintaTari Klono Topeng, cultureTarian ini merupakan tarian tunggal yang dilakukan tanpa adanya dialog. Kisah ceritanya diambil dari epos panji yang diangkat dalam bentuk tari klasik gaya Yogyakarta. Kisah  Panji sering sekali diangkat dalam tari Klasik Jawa.Tari Klono Topeng, cultureCeritanya merupakan murni cerita dari tanah Jawa bukan adopsi dari cerita Ramayana maupun Mahabarata. Bahkan kadang-kadang tidak hanya dalam bentuk tari klasik jawa saja tetapi dibuat model tari kontemporer juga.Tari Klono Topeng, cultureTarian ini ditarikan pada Pagelaran Pariwisata di Bangsal Trajumas oleh Sanggar Irama Tjitra, yang merupakan sebuah acara rutin yang kali ini digelar, tepatnya pada tanggal 11 November 2018 pukul 11.00 wib yang bertujuan sebagai tontonan bagi wisatawan lokal maupun asing yang datang mengunjungi Kraton Yogyakarta. Selain itu, pagelaran ini sebagai tempat dan sarana ekspresi bagi seniman-seniman Yogyakarta.Tari Klono Topeng, cultureSanggar Irama Tjitra adalah sebuah sanggar tari gaya Yogyakarta yang berdiri pada tanggal 25 Desember 1949 yang kegiatan setiap harinya di Bangsal Wiyoto Projo, Kompleks Kepatihan Kantor Gubernur DIY. Sanggar ini dulunya dibentuk oleh oleh para seniman-seniman muda yang bergabung di Sanggar Tari Krido Bekso Wirama yang merupakan sanggar tertua di Yogyakarta yang lahir di luar tembok Kraton Yogyakarta pada tanggal 17 Agustus 1918 serta diperkuat tokoh/seniman Tamansiswa dimana pembinanya Ki Hadjar Dewantara sendiri. Tari Klono Topeng, cultureSanggar Irama Tjitra pernah vakum agak lama lepas peristiwa pada tahun 1965 di Indonesia, tapi kemudian mulai aktip lagi pada tahun 1997 sampai sekarang. Sanggar ini sekarang lebih memprioritaskan regenerasi penari, dimana penari yang lebih muda lebih diberi kesempatan untuk tampil pentas dengan bimbingan para seniornya.Tari Klono Topeng, cultureKomposisi gerak tarian ini memakai  pola lantai berbentuknya Y, dimana geraknya di tengah kemudian samping kanan dan samping kiri. Geraknya didominasi dengan gerak kalang kinantang topeng, muryani busono disamping gerak atrap jamang.Tari Klono Topeng, culturePada gerak tarian ini banyak gerak yang dilakukan menggunakan lambung dan gerak paling penting adalah permainan gerak di wajah (topeng) yang menggunakan teknik tertentu untuk menghidupkan karakter topengnya (gerak patah-patah) disamping gerak nyampar sapit urang (tendangan jarik yang dikenakan).Tari Klono Topeng, cultureBusana yang dikenakan pada Tari Klono Topeng, pada bagian kepala menggunakan irah-irah bledekan besar dengan mahkota raja, sumping, topeng gagah warna merah. Pada bagian badan dan kaki menggunakan kalung trap satu, kaweng (kain merah yang disilangkan didada).Tari Klono Topeng, cultureJariknya menggunakan motip parang gordo yang dikenakan dengan system capit urang, celana, boro, stagen (lontong) semuanya motipnya cindhe, sampur berjumlah satu dipinggang, dibahu ada dua, kamus timang, buntal (bentuknya panjang terbuat dari wol dengan warna-warni) serta klat bahu.Tari Klono Topeng, cultureIrama gendhing pada Tari Klono Topeng menggunakan gendhing Bendrong dengan gamelan klasik Jawa yang komplit dari kendang, demung, saron, peking, boning, slenthem, kenong, kethuk, gender, gambang, rebab, siter, suling serta gong.Tari Klono Topeng, cultureTari Klono Topeng

1Persembahan:Sanggar Irama Tjitra Yogyakarta
2 Penari:Otok Fitrianto

Tari Klono Topeng, cultureSebuah tarian yang memaknai ajaran budaya Jawa yang menceritakan tentang nafsu manusia yang bersandar pada lima warna yaitu merah, hitam, putih, hijau dan emas. Dalam kehidupan manusia semua tergantung dari bagaimana kemampuan manusia menjaga keseimbangan antara lima watak tersebut agar hidup kita menjadi lebih baik, damai secara lahir dan batin dalam kehidupan ini. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here