myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Sugeng enjang sedherek-sedherek. Satu kali aku dilahirkan, satu kali aku akan mati. Mati untuk hidup dan hidup untuk mati. Sebuah filosofi siklus kehidupan mahluk hidup yang semuanya akan mengalaminya, semua ini tidak tebang pilih. Ya semua ini terlihat dalam Tari Mantodea yang merupakan sebuah tari kontemporer dalam bentuk perform kelompok, didalamnya menceritakan tentang siklus kehidupan secara karakteristik binatang Belalang Sembah di alamnya yang penuh dengan dinamika dan kenyataan yang jarang sekali terpikirkan oleh manusia.Tari MantodeaBelalang Sembah bagi masyarakat umum sepertinya sudah banyak mengetahui, mempunyai ciri yang sangat spesfik dengan melihat sikapnya terlihat sedang berdoa. Orang Jawa sering menyebutnya dengan Walang Kadung yang hidupnya banyak didaerah tropis maupun sub tropis.Tari MantodeaBinatang ini bukan hama, karena banyak masyarakat mengertinya kalau belalang pasti hama. Dengan karya Tari Mantodea ini Agung Yunan Kristianto ingin menunjukan bahwa sebenarnya Belalang Sembah jenisnya carnivora (pemakan daging) seperti serangga, jangkrik, kupu-kupu maupun lebah.Tari MantodeaTarian ini sebenarnya sangat cocok dipentaskan pada panggung terbuka sesuai dengan idenya yang didapat dari alam terbuka. Tetapi kali ini dipentaskan di ruang tertutup (studio) karena aturan dari pihak Akademis dimana Pementasan Tugas Akhir Jurusan Tari ISI Yogyakarta 2019 tidak memperbolehkan pentas di luar studio. Maka kemudian setting panggungnya yang harus menyesuaikan dengan apa yang dikehendaki dari sang koreografer.Tari MantodeaKarya Tari Mantodea merupakan ciptaan Agung Yunandi Kristianto pada tahun 2019, yang secara khusus diciptakan untuk menghadapi Pementasan Tugas Akhir Jurusan Tari ISI Yogyakarta 2019 secara mandiri di Auditorium Jurusan Tari ISI Yogyakarta, pada tanggal 12 Desember 2019, jam 20.00 wib sampai selesai.Tari MantodeaAgung Yunandi Kristianto lahir pada tanggal 19 Juli 1996 di Bantul Yogyakarta. Selama ini sangat intens didunia seni terutama tari dan lingkungan keluargapun sangat mendukung kegiatannya selama ini. Beberapa karya tari yang sudah di hasilkan diantaranya, Tari Mantis (2016), Tari Sangyaksa Rukmokolo (2016) dan Tari Heart Earth (2017).Tari MantodeaKomposisi didalam tarian ini banyak mengandung gambaran makna dan filosofinya, diantarnya menggambarkan tentang fase kehidupan Belalang Sembah dewasa, kemudian fase perkawinan dimana sang jantan rela mati dibunuh betina untuk membuahi sel telur serta fase ninfa yang memberi gambaran tentang bayi Belalang Sembah yang baru lahir.Tari Mantodea“Sebuah tarian tentang Belalang, ini semua masalah teknis saja, sebenarnya akan lebih menarik manakala tarian ini tidak hanya melulu Belalang, kalau ini dikaitkan dengan persoalan sosial atau lingkungan hidup yang bisa menjadi isu-isu yang berkembang sekarang ini pastinya akan lebih menarik, sehingga tariannya tidak putus yang semua itu bisa disimbolkan dengan orang serakah atau rusaknya lingkungan seperti longsor dan banjir”, ujar Dr. Hendro Martono, MS.n salah satu dosen ISI Yogyakarta, yang menonton pertunjukan pada acara ini.Tari MantodeaGerak dalam tarian ini lebih menonjolkan kerampakan karena tarian ini merupakan tari kelompok, dimana gerak yang padu sangat dibutuhkan dengan ciri masing-masing. Sedangkan  gerak tarinya lebih ke bentuk kontemporer dengan pola lantai yang non konvensional yang sangat dinamis dan variatif.Tari MantodeaBusana yang dikenakan menggunakan konsep natural seperti yang tersirat pada kehidupan Belalang Sembah yang banyak menggunakan warna hijau dengan kreasi tali pada tangan yang memantulkan cahaya ketika lampu mati (fosfor). Riasan yang digunakan sebagai simbol saja dimana pada bagian wajah penari ada 3 garis kanan kiri, 3 garis di bawah samping kepala dengan variasi cat hijau.Tari MantodeaTarian ini tidak menggunakan property tetapi menggunakan setting tempat yang ok banget, berupa 6 buah kain putih panjang sebagai simbol sayap Belalang Sembah yang abstrak, kemudian bambu panjang yang dibuat kombinasi melintang, lurus, diagonal yang didukung dengan tebaran daun jati dilantai panggung.Tari MantodeaIringan musik dalam Tari Mantodea menggunakan musik midi full tanpa ada gendhing baku Jawa. Musik disini bisa di kategorikan sebagai perpaduan musik ilustratif yang berfungsi untuk menghadirkan suasana yang diinginkan, mulai suasana seram, tegang, gembira serta semangat, dengan musik normatif yang merupakan musik berirama dengan tempo yang pasti. Semua ini lepas dari tradisi Jawa.Tari MantodeaTari Mantodea.

1Koreografer:Agung Yunan Kristianto
2Penata Iringan:Agung Yunan Kristianto
3Penata Busana:Agung Yunan Kristianto dan Maulana Sidik dkk
4Penata Rias:Agung Catur Mulyadi S. Sn
5Penari:Adi, Anas, Nugroho, Ilham dan Yusi

Tari Mantodea“Sebuah pembelajaran hidup, ketika kita menjadi lelaki jadilah seperti Belalang Sembah jantan, rela mati demi anak-anaknya, ini sama halnya dengan kita mencintai buah hati dan istri kita sampai ajal yang memisahkan semua ini”, ujar Agung Yunandi Kristianto, disela-sela acara. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here