myimage.id | Salam sejahtera para sedherek, sedulur, istilah “mbarang” dikalangan para milinial mungkin sangat sedikit asing dan kurang popular. Tapi bagi remaja yang hidup dijaman tahun 1980 sampai tahun 1990 pasti mengenal dengan istilah “mbarang”. Tapi jangan kwatir karena gejala khususnya linguistik  selalu terjadi pada setiap generasi. Inilah istimewanya, Tari Mbarang merupakan sebuah tari tradisi yang menceritakan tentang pentasnya sebuah kelompok penari dan penabuh gamelan yang berpentas keliling kampung atau desa untuk mencari uang (ngamen).Tari Mbarang, cultureTarian ini merupakan ciptaan dari Dr. Drs. Darmawan Dadijono M.Sn pada tahun 2014, yang merupakan karya individual memori artinya bahwa beliau mempunyai memori saat kecil, ketika berkunjung ke daerah Grobogan, beliau melihat ada orang mengamen. Biasanya mengamen (mbarang) dilakukan dengan cara menyanyi sepanjang jalan di suatu daerah untuk mendapatkan uang.Tari Mbarang, cultureTapi yang dilihat ini mengamen (mbarang) dengan menari. Kelompok mbarang itu terdiri dari beberapa laki-laki yang menabuh gamelan dan beberapa penari perempuan. Mereka keliling desa untuk mencari nafkah. Pada pertunjukannya kadang penari-penari ini mengajak para penduduk untuk menari bersama.Tari Mbarang, cultureTarian ini ditampilkan dalam Festival Kota Lama 2018 yang berlangsung dari tanggal 20-23 September 2018 yang pada tahun ini mengusung tema “Beda Masa Satu Rasa” yang mengingatkan kita kembali dulunya Kota Lama merupakan daerah potensial dan prestisius, serta pada masanya pernah Kota Lama pernah menjadi Bronknya Kota Semarang.Tari Mbarang, cultureFestival Kota Lama 2018 tahun ini sudah yang ke 7 kalinya, dimana kawasan Kota Lama Semarang sekarang  sudah termasuk dalam daftar Tentative List UNESCO yaitu daerah yang berpotensi menjadi warisan dunia (World Heritage). Dengan predikat ini kawasan Kota Lama menjadi daerah tujuan wisata dunia Internasional yang sangat potensial.Tari Mbarang, cultureDalam Tari Mbarang juga digambarkan kehidupan seorang “penguasa”  di Jawa jaman dulu yg mengenal adanya molimo sang penghancur moral manusia yang harus kita hindari karena akan merusak  iman batin dan lahir manusia.Tari Mbarang, cultureMolimo tersebut antara lain adalah Main (berjudi), Madon (main dengan perempuan/pelacur), Maling (mencuri, korupsi atau mengambil barang yang bukan miliknya), Madat (menggunakan candu, narkoba) serta Minum ( minum-minuman yang mengandung alkohol).Tari Mbarang, cultureGerak tarian ini berpijak pada tari tradisi Jawa gaya Surakarta yang mana untuk penari perempuannya ada ulap-ulap, batangan, sindet, srisig, sedangkan untuk penari putranya ada beberapa motip gerak entragan dan nebak bumi. Komposisinya tarian ini merupakan tarian kelompok yang ditarikan lebih dari satu orang dan dapat dikatakan sebagai jenis tarian hiburan atau pergaulan yang berpijak dari budaya tradisi mbarang (ngamen).Tari Mbarang, cultureInti tarian ini diawalan digambarkan seorang penguasa yg mempunyai “kepintaran” untuk memberikan doa-doa kepada para bawahan/penari agar selamat, sukses, mendapatkan uang saat bekerja. Kemudian saatnya para penari putri Nggambyong, menari dengan motif-motip tari Gambyong. Adegan berikutnya adalah penari putra tampil kiprahan mengekspresikan kegembiraan. Adegan akhir adalah bagian para penari mengajak penonton utk menari bersama.Tari Mbarang, cultureBusana yang dikenakan pada penari putri pada dasarnya mengenakan angkin (atasan) dan berkain atau jarik, sampur, gelung rambut kreasi, sedangkan untuk penari putra mengenakan busana surjan, blangkon dan jarik. Sedangkan riasannya menggunakan riasan karakter dengan harapan untuk lebih mempertegas peran yang dimainkan diatas panggung.Tari Mbarang, cultureIrama gendingnya menggunakan tembang Jawa dengan gending bentuk lancaran. Musik tari di aransemen dengan sedikit jenaka dengan harapan agar menumbuhkan suasana riang gembira, sebagaimana tari pergaulan pada umumnya.Tari Mbarang, cultureTari Mbarang

1Kareografer:Dr. Drs. Darmawan Dadijono M.Sn
2Penari:
  1. Bening Krisnasari
  2. Kurnia Rahmadhani
  3. Nurul Amalina
  4. Mita Prastiwi
  5. Diana Novita
  6. Catur Agung Mulyadi
  7. Widi Pramono
  8. Fitriana Indriasari
  9. Iwan
3Penata Musik:Anon Suneko

Tari Mbarang, cultureTarian ini diciptakan dengan harapan agar penonton mengerti bahwa melalui tari ini bisa terwujud kebersamaan di antara seniman dan penonton, dengan semakin banyak karya seniman di apreasikan di banyak festival, maka akan semakin banyak tumbuh seniman-seniman yang humanis yang dekat dengan masyarakat, ujar babe Iwan, panggilan akrap Dr. Drs. Darmawan Dadijono M.Sn yang juga  sebagai  Dosen ISI Yogyakarta. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here