myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Sugeng enjing sedulur, mugi-mugi samiyo wilujengan. Dunia anak-anak adalah surganya kita bersama. Yang ada hanya keceriaan, kegembiraan dan rasa bahagia, tidak ada rasa susah dan terjajah, semua terasa merdeka. Semua ini tergambar dalam Tari Nawung Sekar yang merupakan sebuah tari klasik gaya Yogyakarta yang menggambarkan tentang gadis cilik yang begitu cantik dan pandai menari dengan senyum dan badan melenggak-lenggok mengalun indah, seperti bunga kecil tertiup angin.Tari Nawung Sekar, classic danceTarian ini ciptaan dari Angela Retno Nooryastuti atas “dhawuh” atau perintah  dari Al. KRT Sasmintadipura ( Romo Sas) pada tahun 1988-1989. Beliau hanya berpesan bagaimana membuat tarian terutama tari klasik gaya Yogyakarta yang membuat anak-anak kecil tertarik (terutama putri).Tari Nawung Sekar, classic danceMemang secara umum, tari klasik selalu identik dengan disiplin yang tinggi, dengan irama yg sangat pelan, yang banyak membuat anak-anak bosan dan malah lebih tertarik untuk belajar tari Bali atau Kreasi Baru. Dari sinilah kemudian Angela Retno Nooryastuti ingin membuat sebuah tarian yang sangat dasar, dengan irama yg lebih dinamis dan variatif yang membuat rasa hati merasa senang ketika menarikan, atau lebih tepatnya sebagai pijakan awal sebelum belajar yang sesungguhnya.Tari Nawung Sekar, classic danceDari sinilah kemudian  Tari Nawung Sekar ini tercipta, dengan mengenalkan unsur-unsur atau elemen-elemen dasar dalam tari klasik baik dari sisi tangan seperti bentuk jari ngruji, ngithing dan nyempurit, juga dari sisi kaki seperti mlampah lembeyan, kicat, trisig dan kengser, dengan mengemas dalam irama yang lebih dinamis.Tari Nawung Sekar, classic danceAngela Retno Nooryastuti atau lebih dikenal dengan nama Inul, dilahirkan 25 Maret 1970 di Middletown Ct-USA, dari bapak Al. RB Soedarsono dan Ibu Th Suharti, pensiunan Dosen Tari di ISI dan abdi dalem Kraton, dan semua keluarga besarnya mengeluti dunia seni. Beberapa karyanya seperti, Tari Retno Asri dan Tari Srimpi Manikmaya.Tari Nawung Sekar, classic danceTari Nawung Sekar ini sangat cocok ditarikan oleh anak-anak diusia dini, mulai TK sampai SD, walaupun sifatnya sebagai pijakan untuk belajar tari klasik. Tari ini bisa dianalogikan seperti anak kecil diberi “iming-iming” atau harapan di beri eskrim atau permen agar mau belajar tari klasik gaya Yogyakarta. Makanya kurang pas kalau tarian ini ditarikan oleh orang dewasa.Tari Nawung Sekar, classic danceGerak dalam Tari Nawung Sekar ini mengenalkan usur-unsur gerak dasar tari putri seperti bentuk jari ngithing, ngruji dan nyempurit, juga mengenalkan gerak tangan yang bersumber pada pergelangan tangan seperti ukel jugag, ukel wetah dan lembeyan yang dipadukan dengan bentuk kaki kicat, kengser, trisik, juga mengenalkan gerak leher dan kepala (pacak gulu) yang merupakan gerak dasar tari klasik gaya Yogyakarta.Tari Nawung Sekar, classic danceBusana yg digunakan dalam Tari Nawung Sekar ini menggunakan model busana adat tradisional Sabuk Wala yang biasanya memang digunakan untuk anak-anak usia dini. Sabuk Wala ini dipilih selain sesuai dengan usianya, model ini sangat ringan dan tidak membebani si penari untuk bergerak.Tari Nawung Sekar, classic dancePenari masih bisa bergerak dengan leluasa dan persiapannya juga tidak lama, sehingga anak-anak  yang membawakan tidak membutuhkan waktu yang lama dalam persiapannya. Kain yg digunakan adalah motif Cinde, namun kalau tidak ada bisa juga menggunakan motif Parang Klithik, Kawung Picis atau motif-motip lain yang sesuai dengan anak kecil.Tari Nawung Sekar, classic danceDesain pada kepala juga dibuat sesederhana mungkin, dengan model kucir plonthos bersih (tanpa sunggar apalagi sasakan), kemudian dibagi-bagi  yang masing-masing “diklabang” (dikepang) dan ditekuk dipertemukan lagi. Bagi anak-anak yang berambut panjang sudah pasti bisa dengan rambutnya sendiri, tapi bagi anak-anak yang berambut pendek bisa rambut palsu yang sangat mudah didapatkan.Tari Nawung Sekar, classic dancePerhiasan yg digunakan berupa satu buah cundhuk mentul, pita, bros dan giwang. Sedang perhiasan yang digunakan untuk leher adalah kalung sungsung kecil. Perhiasan yang lain adalah gelang dan pendhing. Semua besarnya perhiasan disesuaikan dengan penarinya yang masih anak-anak usia dini.Tari Nawung Sekar, classic danceBentuk gendhing yang digunakan dalam tarian ini adalah bentuk Lancaran, dengan nama gendhing Gandhes Laras Pelog Pathet Barang, yang secara melodi juga sesuai dengan dunia anak. Cakepan/lirik yang dikatakan “Kenya menik-menik, luwes wiragane, gandhes saksolahe, ngujiwat eseme, yen cinandra busanane, sarwa-sarwi endah, anengsemake” yang secara jelas mengatakan tentang anak-anak kecil yang sangat lincah dan menarik setiap geraknya serta senyumnya yang mempesona, bahkan busananya sangat indah membuatnya semakin mempesona.Tari Nawung Sekar, classic danceTari Nawung Sekar.

1Persembahan:Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa
2Kareografer:Angela Retno Nooryastuti (Inul)
3Penata Busana:Angela Retno Nooryastuti (Inul)
4Penata Iringan:Drs. Sunardi, M.Pd
5Penari:Ayu, Kirana Setri, Kirana Dewi, Sheril, Anisa, Naya, Anindya, Rya, Cinta, Maurin, Rahma, Arum, Fiola, Aira, Ina, Fosali, Raysa, Putri, Dea, Adel, Jouya, Elok, Dias, Reana, Ranna, Santi, Sekar, Flo, Therisia, Keysa, Jaredea, Ara, Rasti dan Lia

Tari Nawung Sekar, classic dance“Belajar tari tradisional khususnya tari Jawa gaya Yogyakarta itu unik dan menarik. Banyak orang rasanya seperti apriori untuk mempelajari, merasa sangat kuno dan sangat tidak telaten dengan iramanya yang sangat lamban. Tetapi kalau sudah mau mempelajari, pasti suka dan merasa tari itu sebagai kebutuhan”, ujar Angela Retno Nooryastuti /Inul. (Soebijanto/reog biyan).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here