myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Selamat pagi semua, semoga selalu sehat dan diberkati Sang Pencipta. “Rasa” adalah salah satu komponen utama dalam menjalani kehidupan ini, yang oleh para seniman tari selalu dihadirkan dalam setiap pertunjukannya. Denga rasa maka akan diperoleh sebuah karya tari yang sempurna. Ya semua terlihat dalam Tari Pancer yang merupakan sebuah tari kontemporer yang didalamnya menceritakan tentang titik kekuatan (pusat) yang menjadi penyeimbang, yang didalam masyarakat Jawa biasa disebut dengan “Kiblat Papat Limo Pancer” yang mempunyai makna tentang penyelasaran antara microcosmos dan macrocosmos, dimana kiblat papat menunjukan empat mata arah angin dan limo pancer menunjukan diri manusia itu berada.Tari PancerBermula dari teknik, konsep Tari Pancer adalah sebagai penyeimbang tubuh yang diinterpretasikan dalam menggerakan atau mengolah tubuh yang didalam masyarakat Jawa biasanya disebut “menep roso” atau kematangan rasa. Dengan menggunakan rasa maka akan balance tubuh dan pikiran manusia diyakini semua akan menjadi satu.Tari PancerTari Pancer ditarikan di Bedog Arts Festival 2019 yang diselenggarakan oleh Yayasan Banjarmili di Studio Banjarmili, tepatnya di Kali Bedog, Kradenan RT 04 RW 17, Banyuraden, Gamping, Sleman Yogyakarta pada tanggal 21 September 2019, yang bekerjasama dengan Pemerintah DIY melalui Dana Istimewa.Tari PancerTari Pancer diciptakan oleh Komunitas Jogja’s Body Movement yang dibuat awal tahun 2018. Tarian ini termasuk satu karya progres di komunitas ini, yang mana setiap tampil akan selalu digarap lagi dengan harapan untuk mendapatkan sebuah tarian yang sempurna dan yang diharapkan.Tari PancerKomposisi di dalam tarian ini mengandung makna tentang pemberian gambaran tentang kehidupan didunia ini, ada baik dan buruk dimana keduanya selalu hidup dan tidak pernah mati. Manusia diberikan satu penyeimbang untuk mengatasi hal baik dan buruk ini. Dengan penyeimbang maka manusia akan dapat mengendalikan hidupnya didunia ini.Tari PancerRagam gerak dalam tarian ini mengkomposisikan dalam bidang teknis, visual geraknya memakai symbol 4 1 dimana ada 4 orang dan 1 titik ditengah ataupun ke empat penari bergerak dengan keseimbangan bersama, selain itu ada beberapa teknik yang dipakai diantaranya “head stand” yang membutuhkan konsentrasi dan keseimbangan (pancer).Tari PancerBusana yang dikenakan menggunakan konsep warna hitam putih yang semuanya ini menyimbolkan Pancer juga. Dalam kehidupan pasti ada hitam dan putih, kalau dinegara Cina sering disebut dengan Ying and Yang, semuanya diekspore untuk simbolisasi warna kastum itu sendiri.Tari PancerIringan musik konsepnya menyatu artinya antara musik dan koreografernya prosesnya bersamaan. Dengan membuat draf maka keduanya bisa diselaraskan dan diinterpretasikan menyatu dengan negoisasi. Pencarian konsep rasa mengalir dengan begitu saja sehingga akhirnya keduanya menyatu menjadi satu.Tari Pancer.

1Persembahan:Jogja’s Body Movement
2Koreografer:Jogja’s Body Movement
3Penata Busana:Jogja’s Body Movement
4Penata Musik:Anon Suneko
5Penari:
  1. Pulung
  2. Dwi Cahyono
  3. Widi Purnomo
  4. Putra Jalu Pamungkas
  5. Irwanda Putra
  6. Anang Wahyu Nugroho
  7. Katana Krista Putri
  8. Fitriana Indri

Tari Pancer“Sebuah eksplorasi dari tari tradisi yang tidak harus menjadi tari klasik tetapi bisa menjadi sebuah karya baru yang biasanya disebut dengan tari kontemporer atau apapun jenis genrenya, yang semuanya itu membutuhkan proses dan konsitensi, dan diyakini hasil baik akan mucul dengan sendirinya”, ujar Pulung salah satu personil Jogja’s Body Movement lepas festival ini. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here