myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Sugeng enjang sedherek-sedherek. Syukur kepada Sang Yang Widhi adalah salah satu keharusan bagi kita manusia, karena telah menjadi sumber rahmat dan karunia. Dosa kita manusia apapun pasti diampuni dan kita di beri hidup seperti kehendakNya. Ya semua ini tergambar dalam Tari Pangastungkara yang merupakan sebuah tari tradisi yang didalamnya menceritakan tentang puji syukur kepada Sang Yang Widhi dengan harapan semoga damai dihati dan di bumi selalu beserta kita manusia.Tari PangastungkaraTarian ini bisa juga dikatakan sebagai tari penyambutan atau “Welcome Dance”, sebuah tarian yang ditampilkan dalam rangka penyambutan para tamu yang datang dalam sebuah acara atau hajatan perkawinan disuatu tempat.Tari PangastungkaraPangstungkara terdiri dari dua kata, dimana Pangastu merupakan bahasa yang diambil dari Agama Hindu, sedangkang Ongkara adalah suara yang bermakna suci. Dari inilah semua tarian inilah inspirasinya tarian ini terbentuk, dimana I Nyoman Chaya ingin mengucapkan ungkapan syukur kepada Sang Yang Widhi.Tari PangastungkaraKemudian terbentuklah Tari Pangastungkara ini yang lebih familiar sebagai “Welcome Dance” yang semuanya ini ada harapan atau nilai-nilai yang diinginkan berupa rasa syukur, semoga damai dihati, damai dibumi dan damai selama-lamanya.Tari PangastungkaraTari Pangastungkara merupakan ciptaan dari I Nyoman Chaya pada tahun 2019. Beliau lahir pada tanggal 1 Januari 1952 di Pulau Bali tepatnya di Singaraja. Beliau pernah aktip sebagai Dosen di ISI Surakarta dari tahun 1978 sampai 2017. Beberapa karyanya yang menjadi Master Piece antara lain Sketsa (1983),  Bima Suci Kecak (1990) dan Manggigel (2004).Tari PangastungkaraKomposisi di dalam tarian ini mengandung makna kiblat papat limo pancer dalam komposisi Jawa, ada komposisi gawang dan ruang yang mana tergambar ada satu penari dikelilingi 3 penari lainnya sebagai symbol doa kepada Brahma Guru Wisnu dimana terciptalah perputaran kehidupan ini dari lahir, hidup dan mati.Tari PangastungkaraRagam gerak dalam tarian ini merupakan perpaduan antara Bedhayan (gerak tari bedhaya) dengan gerak-gerak Plegongan Tari Bali yang semuanya terlihat halus dan luwes. Sedangkan pola lantainya bermakna menggunakan kiblat papat limo pancer serta adanya kesetaraan manusia dalam kehidupan ini, mulai dari proses lahir, hidup dan mati dalam agama Hindu.Tari PangastungkaraBusana yang dikenakan benar-benar menggunakan busana Bedhaya berupa dodotan yang divariasi dengan hiasan kepalanya yang menggunakan nuansa sakral dengan konsep yang biasa digunakan di Pulau Bali.Tari PangastungkaraIramanya menggunakan musik klasik Bali, dimana diawal dimunculkan rasa komplekatif sakral seperti pada tari Bedhaya Ketawang, kemudian dilanjutkan dengan yang lebih halus dan semuanya berakhir dengan keceriaan (happy ending).Tari PangastungkaraTari Pangastungkara.

1Koreografer:I Nyoman Chaya
2Penata Busana:I Nyoman Chaya
3Penata Iringan:I Nyoman Chaya
4Penari:
  1. Yuti
  2. Dewi
  3. Hesti
  4. Novi

Tari Pangastungkara“Sebuah tarian yang mengandung makna ganda, selain sebagai “Welcome Dance” tarian ini juga memuat unsur sebagai ungkapan rasa syukur manusia kepada Sang Yang Widhi atas segala limpahan berkah dan kenikmatan yang diterima selama ini”, ujar I Nyoman Chaya disela-sela acara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here