myimage.id | Tari Pangkur Sagu adalah sebuah tarian asli masyarakat Papua yang menceritakan tentang mata pencaharian masyarakat Papua dengan membuat sagu yang dimulai dari menebang pohon sampai memeras air sagu, hingga sagunya siap diolah.

Tari Pangkur Sagu, culture, classic dance

Dalam tarian ini masyarakat Papua sering menjadikan ritual pesta yang berupa nyanyian dan tarian, yang merupakan symbol gotong royong, kebersamaan dan rasa syukur kepada Tuhan. Selain itu tarian ini biasanya juga sering ditampilkan dalam acara pementasan upacara adat dalam penyambutan tamu agung.

Tari Pangkur Sagu, culture, classic dance

Tarian ini ditarikan dalam acara  Pentas Seni dan Budaya Permata 2018 | Ayo Kembali ke Timur di Taman Budaya Yogyakarta, tepatnya pada tanggal 29 Januari 2018, oleh IPMAMI (Ikatan Pelajar Mahasiswa Kabupaten Mimika) seJawa-Bali. IPMAMI berdiri pada tahun 1996 dimana anggotanya terdiri dari para pelajar dan mahasiswa yang berstudi di Jawa – Bali. Salah satu tujuan pembentukan organisasi ini adalah untuk menampung dan mengakomoditir kebutuhan Mahasiswa Mimika yang berada di kota Study Jawa-Bali.

Tari Pangkur Sagu, culture, classic dance

Proses membuat sagu adalah sebuah proses yang sudah dimengerti dari dulu oleh masyarakat Papua, dimana proses pembuatan sagu yang diolah dari batang pohon sagu yang sudah berumur. Kegiatan ini biasanya dilakukan di dekat sumber mata air, karena proses ini membutuhkan banyak air. Prosesnya pun sangat unik. Batang sagu yang ditebang dihancurkan kemudian di campur air, diperas menjadi sagu (tumeng). Setelah proses ini selesai, sari sagu diletakan pada suatu wadah yang didesain khusus, yang terbuat dari daun sagu dan dalam pembuatannya butuh orang yang ahli dalam mengayam agar sari sagu yang masih basah tidak akan tumpah.

Tari Pangkur Sagu, culture, classic dance

Tari Pangkur Sagu, culture, classic dance

Pada tarian ini menggunakan riasan cat putih yang terbuat dari zat kapur yang berasal dari cangkang kerang sungai. Para penari di sekujur tubuhnya dibuat lukisan baik wajah maupun badan dan kaki atau dapat dikatakan menutupi hampir seluruh permukaan kulit.

Tari Pangkur Sagu, culture, classic dance

Sedangkan busananya menggunakan hiasan kepala yang berupa mahkota burung kasuari yang dipakai semua penarinya. Pada perkembangan jaman sekarang sebagian besar penarinya sudah menggunakan kaos dan celana pendek modern, namun beberapa dari penarinya bertelanjang dada.

Tari Pangkur Sagu, culture, classic dance

Biasanya Tari Pangkur Sagu dilakukan sebelum dan sesudah panen tiba. Hal ini dilakukan karena mereka percaya, tarian ini dapat menyenangkan hati Tuhan. Kepercayaan ini dilakukan secara turun menurun  yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Papua.

Tari Pangkur Sagu, culture, classic dance

Tari Pangkur Sagu gerak dasarnya didominasi oleh gerakan kaki dan tangan yang ditarikan secara berkelompok, serta dilakukan secara berulang-ulang. Selain itu tarian ini diiringi oleh nyanyian-nyanyian dengan syair pengucapan syukur yang diikuti kembali dengan teriakan-teriakan oleh penarinya.

Tari Pangkur Sagu, culture, classic dance

Sebuah tarian yang memiliki daya tarik magis tersendiri dan suasananya pun menjadi sakral. Tarian ini selain sebagai tradisi budaya masyarakat Papua juga sebagai aset kekayaan seni dan budaya bangsa Indonesia yang mengandung kearifan lokal yang layak dipelajari untuk mengenalkan nilai-nilai luhur masyarakat Papua secara positif yang dapat diterapkan di dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air dimasyarakat Indonesia. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here