myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Sugeng enjang sedherek-sedherek. Keberagaman seni budaya yang dimiliki Yogyakarta sangatlah beraneka ragam, mulai dari seni tari klasik, kerakyatan, tradisi sampai kontemporer yang dasarnya dari kawruh joged Mataraman, dimana gerakan itu harus sawiji, greged, sengguh dan ora mengkuh, yang selama ini selalu diuri-uri oleh senimannya serta tidak lekang oleh waktu. Salah satunya terlihat dalam Tari Pawenang Ing Palagan yang merupakan sebuah tari tradisi yang di dalamnya menceritakan tentang kesewenang-wenangan VOC terhadap rakyat yang melahirkan ketidaksukaan Pangeran Mangkubumi di bumi Jawa.Tari Pawenang Ing PalaganTerlebih lagi ketika membelenggu Sri Susuhunan Paku Buwono II lewat perjanjian Ponorogo yang pada akhirnya pesisir Utara Jawa mutlak menjadi kekuasaan VOC. Pangeran Mangkubumi yang terlahir dengan nama kecil Raden Mas Sujono marah. Beliau meminta ijin Kanjeng Susuhunan Paku Buwono II untuk melakukan perlawanan terhadap VOC.Tari Pawenang Ing PalaganBerbekal pusaka kerajaan berupa Kanjeng Kyai Plered, Pangeran Mangkubumi memulai perjuangannya melawan VOC, yang pada akhirnya sampai di Gunung Tidar. Di tempat inilah, Pangeran Mangkubumi menerima dukungan rakyat dalam wujud cambuk bernama Kyai Pamuk. Atas dukungan rakyat dan pengikutnya, Pangeran Mangkubumi diangkat menjadi pemimpin bergelar Susuhunan Kabanaran.Tari Pawenang Ing PalaganTarian ini ciptaan Anter Asmorotedjo yang secara khusus diciptakan untuk di tampilkan pada opening acara Wayang Wong Gandawerdaya hari kedua di Sekaten 2019 oleh siswa-siswi SMKN 1 Kasihan Bantul (SMKI Yogyakarta), yang diselenggarakan oleh Kraton Yogyakarta, di Kagungan Dalam Bangsal Pagelaran Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat, selama tiga malam tepatnya tanggal 4,5 dan 6 November 2019, mulai pukul 19.30 wib sampai selesai.Tari Pawenang Ing PalaganPada tahun ini, Sekaten 2019 mengambil tema”Sultan Hamengku Buwono I, Menghadang Gelombang, Menantang Jaman”, sehingga dalam pagelaran wayang orang kali ini mengambil lakon dari carangan Sultan Hamengku Buwono I, disamping itu juga ada beberapa pameran yang khusus menampilkan Sultan Hamengku Buwono I, sebagai sajian khusus yang semua ini, menjadi manisfestasi kebudayaan Trah Mataram.Tari Pawenang Ing PalaganAnter Asmorotedjo lahir di Yogyakarta, 13 April 1978, menekuni seni tari sejak kecil di kampung halamannya. Dalam usahanya menekuni dunia tari secara serius, Anter masuk di SMKI Yogyakarta, ISI Yogyakarta (1999), dan kemudian melanjutkan Pasca Sarjana (2015). Beberapa karya Anter diantaranya Colohok (2014), Suwung (2017) dan Portal (2017).Tari Pawenang Ing PalaganTari Pawenang Ing Palagan masih terkait dengan karya Anter Asmorotedjo sebelumnya. Dimana bedanya karya pertama berkisah tentang perjalanan spiritual Pangeran Mangkubumi hingga mendapatkan wahyu menuju tahta Mataram, sedangkan yang kedua ini menitik beratkan pada perlawanan Pangeran Mangkubumi terhadap VOC.Tari Pawenang Ing PalaganKomposisi didalam tarian ini menggambarkan kedekatan pemimpin dengan rakyatnya. Pemimpin yang mengutamakan /membela kepentingan rakyat yang tertindas yang disimbolkan melalui sosok kerbau yang dijerat kain panjang berwarna merah, putih, dan biru.Tari Pawenang Ing PalaganRagam gerak dalam Tari Pawenang Ing Palagan berpijak pada tari klasik gaya Yogyakarta yang dikembangkan dengan mengacu pada spirit Jawa dan kawruh joged Mataraman, dimana gerakan itu harus sawiji (konsentrasi), greged (penuh semangat), sengguh (percaya diri) dan ora mengkuh (pantang menyerah).Tari Pawenang Ing PalaganKonsep busana menggunakan busana garapan yang sederhana, dimana banyak menggunakan warna yang soft, warna tanah dan tidak banyak ornamen/ pernak-pernik. Untuk tokoh utamanya mengacu pada busana yang biasanya dikenakan Pangeran atau Raja. Sedangkan propertinya menggunakan tombak, payung, caping, cemeti dan kipas.Tari Pawenang Ing PalaganIringan musiknya menggunakan full gamelan klasik Jawa laras pelog yang dimainkan secara live show. Semua dimainkan dengan jumlah pengrawit dan waranggononya sebanyak 25 yang semuanya merupakan siswa-siswi SMKN 1 Kasihan Bantul (SMKI Yogyakarta).Tari Pawenang Ing PalaganTari Pawenang Ing Palagan.

1Persembahan:SMK N 1 Kasihan Bantul (SMKI Yogyakarta)
2Sutradara/ Koreografi:Anter Asmorotedjo
3Naskah & Tata Cahaya:Bondan Nusantara
4Penata Musik:Muchlas Hidayat
5Penata Artistik:B. Susilo Wardoyo
6Penata Rias & Busana:Agus Sukina
7Stage Manager:Dika Aji Prasetya
8Crew:Fajar Amerta Adi, Danu Anggada Bimantara, Prasetya
9Penari:
  1. Rahmanita Mery Pratiwi
  2. Mega Pamungkas
  3. Nur Tirto Wahyu Nugroho
  4. Rifanda Aldiansyah Adilo
  5. Novia Sapta Devasaputri
  6. Amanda Melodia Putri Firdausi
  7. Ganiswara Fibrianti
  8. Shintia Nurcahya Nugraheni
  9. Lucky Wisnu Marga Pratama
  10. Ilham Setyo Putro
  11. Claudius Tiffanilo Lintang Samudera
  12. Dhiah Anis Dwi Prastiwi
  13. Warih Sungging Suprobo
  14. Mochamad Samiaji
  15. Anang Ma’Ruf Dwi Kurniawan
  16. Maharani Nur Asri
  17. Brilian Medityas Kusuma Wardani
  18. Ilham Rozian Darmawan
  19. Wawan Yogi Feriyanto
  20. Icha fikri Kurniawan

Tari Pawenang Ing Palagan“Sebuah pertunjukan tari dengan mengangkat sosok “Pangeran Mangkubumi”, menjadi salah satu upaya untuk  mengingat tentang kebesarannya dalam membela tanah Jawa bagi kita semua. Terutama generasi muda agar selalu perduli terhadap seni budaya, karena merekalah yang menjadi benteng utama kedepannya”, ujar Anter Asmorotedjo selaku koreografer disela-sela acara sekaten 2019. Salam Budaya. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here