myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Sugeng enjang sedherek-sedherek. Sebuah keunikan prosesi adat pengantin yang diwarnai dengan berbalas pantun sebelum pengantin menggelar resepsi dirumah pengantin perempuan yang hanya ada dirumpun Melayu Bangka Belitung. Semua ini memperlihatkan keanekaragaman seni budaya Indonesia yang diwujudkan dalam bentuk tarian. Ya semuanya tergambar jelas dalam Tari Rebut Lawang yang merupakan tari kreasi baru yang didalamnya menceritakan tentang kegiatan yang pernikahan dimana pihak pengantin pria untuk menemui pengantin perempuan sebelum keduanya bersanding pengantin pria harus melewati 3 syarat pintu.Tari Rebut Lawang3 syarat pintu ini diantaranya pintu pertama, dimana pihak pengantin pria akan bertemu tukang tanak atau orang yang menanak nasi di pintu pertama ini yang memaknai bahwa seorang suami harus mampu menafkahi anak dan istri dalam kebutuhan pangan.Tari Rebut LawangKemudian di pintu ke dua pihak pengantin pria akan bertemu penghulu gawai yang memaknai bahwa suami harus mampu memenuhi syarat memenuhi kebutuhan papan dan menjadi pelindung bagi keluarganya. Di pintu ke tiga, pengantin pria akan bertemu dengan mak inang atau perias pengantin, yang memaknai bahwa suami mampu membuat anak dan istrinya mengenakan pakaian layak dan kebutuhan mereka yaitu sandang.Tari Rebut LawangDari setiap pintu tentunya pihak pengantin pria akan beradu pantun dengan ketiga orang tersebut. Keduanya akan beradu pantun dan kemudian diakhiri dengan membayar syarat yang diminta setiap penjaga pintu.Tari Rebut LawangTarian ini ditampilkan dalam pertunjukan Uji Koreografer 3 di Perfomance Stage FBS UNY yang diselenggarakan oleh Jurusan Pendidikan Seni Tari, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta yang dilaksanakan selama 4 hari pada tanggal 16, 17, 18 dan 19 Januari 2020, tepatnya pada pukul 19.30 sampai selesai. Total garapan karya tari yang ditampilkan sebanyak 45 karya, dengan pembagian 11, 12,12 dan 10 karya per harinya.Tari Rebut Lawang

Tari Rebut LawangUji Koreografer 3 kali ini dibalut dengan tajuk “Galaksi Mahira” dimana Galaksi singkatan dari Gelar Karya Mahasiswa Seni Tari, sedangkan Mahira mempunyai makna berbakat atau diberkati. Tajuk ini pada tahun ini mengusung tema “Merajut Asa Dalam Karya”.Tari Rebut LawangTarian ini diciptakan oleh saya Hengky Fitro Dinata, yang terinspirasi dari suatu bentuk upacara adat yang ada di daerahnya (Belitung Timur) yang sangat unik yang sampai sekarang masih dilakukan yang mengandung tentang nilai kehidupan, semangat hidup dan kelucuan.Tari Rebut LawangHengky Fitro Dinata lahir di Manggar, 02 Februari 1998 Belitung Timur, yang sering disebut dengan Negeri Sejuta Pelangi. Beberapa karya tari yang telah ciptakan diantaranya Pekare Cinte, Bekhatam, Rentak Betemu, dan Rebut Lawang.Tari Rebut LawangKomposisi dalam tarian ini menggambarkan tentang proses kehidupan sudah layak harus dilakukan oleh setiap insan manusia sebelum menjalani biduk rumah tangga. Semua ini disajikan dalam bentuk symbol repreasentatif yang berisi juga doa-doa dan puji-pujian kepada kedua pengantin.Tari Rebut LawangRagam gerak dalam tarian ini mengambil gerak dari Tari Rudat, Silat pada Tari Selamat Datang serta Patah Jinjit dari gerak Tari Campak. Motif gerak tersebut dijalin dengan menyesuaikan kebutuhan adegan dan pengembangan. Pola lantai yang berkelompok sebagai penggambaran rombongan pengantin pria. Kemudian pola lantai yang dibuat dengan pecahan dan berbagi fokus dibuat untuk menyimbolkan pengantin, keluarga, dan ketiga orang yang terlibat dalam prosesi berebut lawang di setiap pintu.Tari Rebut LawangBusana Tari Rebut Lawang dibuat mirip dengan baju adat pengantin dari adat Bangka Belitung. Semua penari menggunakan pakaian dibedakan dengan ukuran kecil untuk pria dan besar untuk perempuan yang ikonik dari Bangka Belitung.Tari Rebut LawangBusana tradisi pengantin adat Bangka Belitung yang detail untuk mendukung karya tari ini. Pengantin perempuan memakai baju kurung, dan pria memakai jubah. Dominan baju bewarna merah lambang dari perpaduan Melayu Bangka dengan kaum Cina Tiongkok.Tari Rebut LawangPengantin yang sopan dan tertutup, dengan motif pucuk rebung emas pada baju tersebut lambang dari masyarakat Melayu yang bersatu dalam hidup bergotong royong. Kemudian baju tersebut dikembangkan dengan menambah kaca dan permata.Tari Rebut LawangMusik iringan Tari Rebut Lawang menggunakan gambus, akordion, bass, bebano, bongo dan rebana. Musik dibuat sedemikian rupa dengan motif gendang hadra melayu, inang, langgam, dan pukulan hadrah. Melodi gambus menjadi kesan khas bagi orang melayu dan akordion yang menambah kesan kebahagian dalam karya tari. Senandung yang dilantunkan dari musik merupakan lirik asli dari doa-doa yang dihaturkan untuk pengantin baik saat diarak maupun akan duduk ke pelaminan. Liriknya dimunculkan untuk mendukung suasana pada setiap adegan karya ini.Tari Rebut LawangTari Rebut Lawang

1Koreografer:Hengky Fitro Dinata
2Penata Busana:Rezika Mariandy Karim
3Penata Musik:Irwansyah S. Sn
4Penata Rias:Angela Dwika Oviana Sari
5Pemusik:
  1. Irwansyah S. Sn
  2. Farel Tua Pandatan S
  3. Umi Aqilla
  4. Roby Hadani Nurzal
  5. Pratades Dandi Rahmana
6Penari:
  1. Hengki Fitro Dinata
  2. Marzuq Al Fawaz
  3. Muhammad Khaerul
  4. Ananda Eka Saputri
  5. Ezha Dwi Avista
  6. Salwa Fadhilah

Tari Rebut Lawang“Sebuah prosesi pernikahan yang unik dimana banyak syarat yang harus dilewati oleh pengantin pria dengan maksud untuk mengetes kemampuannya. Sajian pantun, gerak, busana dan iringan disajikan untuk memperlihatkan keanekaragaman budaya melayu khususnya Bangka Belitung yang penuh dengan kemewahan. Dan ini merupakan puncak dari akhir kelas praktek selama kuliah di UNY tercinta”, ujar Hengky Fitro Dinata selaku koreografer disela-sela acara. (Soebijanto/reog biyan).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here