myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Sugeng enjing seulur, mugi-mugi samiyo wilujengan, Gusti mberkahi dening kito sedoyo. Lagi-lagi tari klasik, memang selama ini kata “klasik” selalu dihubungkan dengan sebuah karya seni berkualitas tinggi yang mempunyai tataran puncak kesempurnaan. Seperti halnya Tari Renggo Matoyo yang merupakan  sebuah tari dasar tarian klasik gaya Yogyakarta yang bisa ditarikan oleh putri atau putra alus/gagah yang isi tariannya tentang ragam-ragam dasar tari klasik gaya Yogyakarta.Tari Renggo Matoyo, classic danceTarian ini memang peruntukannya digunakan untuk penari dewasa atau lanjut, bukan untuk anak-anak, dan ini merupakan tarian wajib sebagai pembuka acara pada Djoged Selasa Legen yang diselenggarakan oleh Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa setiap 35 hari sekali.Tari Renggo Matoyo, classic danceSelasa Legen (legi) adalah sebuah even/acara tari klasik gaya Yogyakarta yang dibuat oleh Yayasan Pamulangan Beksan Sasminta Mardawa yang awal mulainya hanya untuk ajang para penarinya yang dulunya belajar menari di tempat ini (Ndalem Pujokusuman) menunjukan ekspresi lewat menari tari klasik gaya Yogyakarta.Tari Renggo Matoyo, classic dance

 

Selasa Legen adalah hari kelahiran Alm. Sasmita Dipura (Romo Sas), sebagai bagian memperingati hari kelahiran beliau inilah acara ini digunakan untuk berkumpul, belajar tari klasik gaya Yogyakarta. Bahkan bukan hanya alumni saja, tapi juga siapa saja yang mau belajar jadi satu disini. Sehingga terjalin komunikasi yang bagus bagi senior dan junior tanpa ada jarak dengan sharing-sharing sesama anggota.Tari Renggo Matoyo, classic danceTari Renggo Matoyo diciptakan oleh Al. KRT. Sasmintadipura (Romo Sas) pada tahun 1965-1967. Beliau lahir pada tanggal 9 April 1929, dari pasangan Bekel Mangoen Soerowibowo dengan Suyatimah. Bagi beliau tari tidak hanya merupakan seni tontonan saja tetapi didalamnya mengandung unsur pendidikan lahir batin.Tari Renggo Matoyo, classic danceTari Renggo Matoyo ini ditampilkan pada  HUT ke 57 Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa dan HUT ke 6 Djoged Selasa Legen diselenggarakan oleh keluarga besar Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa di Ndalem Pujokusuman Yogyakarta pada tanggal 3 Agustus 2019, mulai pukul 19.30 wib sampai selesai.Tari Renggo Matoyo, classic danceSelain tarian wajib dalam Selasa Legen, tarian ini juga sebagai bahan ajar di Yayasan Pamulangan Beksan Sasminta Mardawa yang didalamnya tidaka ada makna khusus, hanya murni berisi ragam-ragam tari klasik gaya Yogyakarta yang secara prinsip merupakan tarian tunggal yang kali ini ditarikan secara bersama-sama.Tari Renggo Matoyo, classic danceGerak dalam tarian ini secara struktur terbagi menjadi 3 bagian, yang pertama disebut dengan maju gendhing, mulai dari sembahan, sabetan  dan joged pokok berupa tayungan yang didalamnya berupa ulap-ulap, kedua adalah beksan pokok (enjeran) berisi ragam-ragam gerak muryani busana dan yang terakhir mundur gendhing terdiri dari lampah sekar.Tari Renggo Matoyo, classic danceBusana yang dikenakan seperti biasanya digunakan pada gladen dengan menggunakan kain, kebaya dengan sanggulan untuk puteri, sedangkan untuk putra menggunakan  kain jupit urang dengan blangkon, dengan properti sampur.Tari Renggo Matoyo, classic dancePada acara HUT ke 57 Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa dan HUT ke 6 Djoged Selasa Legen kali ini peserta penarinya sangat dibatasi dengan penari 30 putra-putri saja, hal ini karena keterbatasan tempat saja. Kalu tidak dibatasai maka Ndalem Pujokusuman tidak akan menampung jumlah penari yang banyak sekali.Tari Renggo Matoyo, classic dance“Dengan Tari Renggo Matoyo kali ini, sebenarnya tarian ini mewakili acara Djoged Selasa Legen. Karena tarian ini merupakan tarian wajib setiap acara Selasa Legen yang diselenggarakan tiap 35 hari sekali di Ndalem Pujokusuman”, ujar Ali Nursatyo Nugraha selaku ketua umum Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa Yogyakarta. (Soebijanto/reog biyan).

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here