myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya, wilujeng enjang, sedherek-sedherek. Sebuah ungkapan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa dalam bentuk Ruwatan yang unik dapat dilakukan dengan berbagai cara. Yang semua ini merupakan warisan dari para leluhur yang menjadi bagian dari keanekaragaman adat tradisional yang dipunyai Bangsa Indonesia. Semua ini terlihat dalam Tari Ruwat Mangsakala yang merupakan sebuah tari tradisi yang berasal dari Temanggung yang menggambarkan tentang sebuah acara adat istiadat tradisional berupa ruwatan yang digelar setiap setahun sekali di pertengahan bulan Rajab menurut penanggalan Jawa, tepatnya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung.Tari Ruwat MangsakalaRuwatan ini biasanya disebut oleh masyarakat sekitar Temanggung dengan nama Rejeban Plabengan yang diadakan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa atas rejeki dan hasil panen yang melimpah selama ini. Selain itu acara ini sebagai bagian dari pelestarian dan pengembangan adat seni budaya tradisional secara nyata.Tari Ruwat MangsakalaRejeban Plabengan ada beberapa prosesi yang biasanya di mulai dari pengambilan air jamasan di lereng Gunung Sumbing yang sering disebut 7 lodong, kemudian dilanjutkan dengan prosesi Tahlil Obor dan puncaknya diadakan prosesi nyadran Rejeban.Tari Ruwat MangsakalaTari Ruwat Mangsakala merupakan tari kreasi para mahasiswa Unnes kelompok Kontingen Temanggung di bawah bimbingan Kintani Desi Anjasari S. Sn yang lahir di Banyumas pada tanggal 27 Desember 1996, yang merupakan alumni  ISI Surakarta yang sekarang tinggal di Temanggung. Tarian ini terinspirasi dari rangkaian upacara ruwatan yang lebih dikenal dengan prosesi Rejeban Plabengan yang diciptakan pada tahun 2017, ketika itu Kintani Desi Anjasari S. Sn menyelesaikan tugas KKN di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung.Tari Ruwat MangsakalaTarian ini sangat cocok ditampilkan dalam kegiatan tahunan seperti sebuah acara festival tari tradisional maupun sebagai pembuka acara kegiatan di Kabupaten Temanggung yang mana tarian ini bisa dikemas kembali dan dikembangkan sesuai dengan acara yang digelar.Tari Ruwat MangsakalaTari Ruwat Mangsakala dipentaskan dalam pertunjukan Kemilau Tari Jawa Tengah yang digelar di Gedung B6 Fakultas Bahasa dan Seni, Jurusan Pendidikan Seni Tari, Universitas Negeri Semarang, tepatnya pada tanggal 7 Desember 2019 pukul 09.00 wib sampai selesai, dengan dosen pembimbing Drs. Indriyanto, M.Hum, Drs. Bintang Hanggoro Putra, M.Hum, Dr. Restu Lanjari, S.Pd., M.Pd.Tari Ruwat MangsakalaKemilau Tari Jawa Tengah merupakan sebuah format ujian pada mata kuliah Tari Daerah Jawa Tengah II dari mahasiswa Jurusan Pendidikan Sendratasik, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.Tari Ruwat MangsakalaAcara ini dibuka oleh Dr. Udi Utomo, M.Si selaku Ketua Jurusan Pendidikan Drama Tari dan Musik Universitas Negeri Semarang yang mengatakan, “Dengan mahasiswa turun langsung dengan sanggar-sanggar dan narasumber, maka ini merupakan penghargaan bagi mereka, bahwa selama ini mereka dihargai dan diperhatikan. Ini merupakan proses pembelajaran mahasiswa terhadap dunia masyarakat secara nyata dan bentuk apresiasi Unnes sebagai kampus konservasi yang tidak hanya berkutat dengan pelestarian dan pengembangan seni budaya, tetapi juga menyentuh pelaku-pelaku seni budaya”.Tari Ruwat MangsakalaKomposisi didalam tarian ini mempunyai makna tentang ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Yang Maha Kuasa atas segala rejeki dan hasil panen yang melimpah yang dituangkan dalam bentuk ruwatan, yang mana rata-rata masyarakat di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung adalah petani.Tari Ruwat MangsakalaGerak dalam tarian ini menggambil dari ragam gerak tari tradisi yang khas di Temanggung seperti Tari Jaranan, Tari Bangeliun, Tari Topeng Ireng yang digabungkan dengan sentuhan gerak Tari Banyumasan dengan alasan, karena koreografernya lahir di Banyumas.Tari Ruwat MangsakalaPola lantainya sangat dinamis dan variatif yang digunakan menyesuaikan panggung dengan bentuk-bentuk lingkaran, diagonal dan lurus yang semuanya itu untuk lebih menampilkan tarian ini lebih enak untuk ditonton.Tari Ruwat MangsakalaBusana yang dikenakan dalam Tari Ruwat Mangsakala terinpirasi dari Tari Jaranan yang didominasi warna emas yang mempunyai makna keagungan. Dari kepala memakai sanggul cepol dan hiasan bulu merak menggambarkan keindahan, pada badan menggunakan mekak dan kebaya menggambarkan khas dari Jawa Tengah, celana selutut dan rok yang mengembang terinspirasi dari kostum jaranan.Tari Ruwat MangsakalaRias penari yaitu memakai rias korektif yaitu menonjolkan kelebihan dan menutupi kekurangan. Dengan properti tumpeng dan tenong (tampah) karena dalam upacara ruwatan selalu mewajibkan adanya nasi tumpeng dan tenong sebagai wadah khas Temanggung.Tari Ruwat MangsakalaIringannya yang mengiringi tarian ini awalannya diambilkan dari Tari Mangastuti yang kemudian di garap, dikombinasikan antara gamelan klasik jawa dengan musik lain sebagai pendukung sehingga terlihat dinamis dan variatif yang diselinggi dengan gendhing-gendhing Jawa yang intinya berisi doa kepada yang Maha Kuasa.Tari Ruwat MangsakalaTari Ruwat Mangsakala

1Persembahan:Kelompok Kontingen Temanggung
2Karya:Kelompok Kontingen Temanggung dibawah bimbingan Kintani Desi Anjasari S. Sn
3Penata Iringan:Totok Purwanto
4Penari:
  1. Tommy Dwi Alfarez
  2. Nala Pawitri Andanawarih
  3. Iswahyuningrum
  4. Dwi Elok Setyaningrum
  5. Aprisa Ariana
  6. Panji Nurjamal
  7. Mayfita Arif Nur Rahmawati
  8. Cindy Dwi Kusumawardani
  9. Tasya Nabilla Isnaeni

Tari Ruwat Mangsakala“Sebuah kekayaan keanekaragaman adat istiadat yang unik yang merupakan warisan dari nenek moyang Bangsa indonesia yang harus dijaga, dilestarikan dan dikembangkan sebagai bagian dari kekayaan Indonesia yang tidak terbatas sesuai dengan jamannya”, ujar Tommy Dwi Alfarez, salah satu penari Tari Ruwat Mangsakala disela-sela acara. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here