myimage.id | Tari Saraswati adalah sebuah tarian tradisional yang merupakan alih wahana dari sebuah simbol logo Saraswati berupa angsa, sayap, bunga teratai, tasbih, vina dan lontar. Dari sinilah makna-makna ini menjadi gambaran secara keseluruhan yang diwujudkan dalam bentuk sebuah tarian yang menjadi ikon ISI Yogyakarta.

Tari Saraswati, classic dance, culture

Tarian ini juga mengambil makna tanggal berdirinya atau terbentuknya ISI Yogyakarta dengan angka 7 sebagai bulan Juli dengan memakai jumlah penarinya 7 orang, sayap dan sampur terbentang menggambarkan Dewi kebijaksanaan, pengetahuan dan seni yang berkarya didunia setelah turun dari khayangan.

Tari Saraswati, classic dance, cultureTari Saraswati ditampilkan pada saat Sidang Senat Terbuka, ISI Yogyakarta dalam rangka Wisuda Diploma, Sarjana dan Pascasarjana semester genap 2017/2018 yang diselenggarakan pada hari Sabtu tanggal 8 September 2018 mulai pukul 09.00 wib. Bertempat di Gedung Serbaguna ISI Yogyakarta jln. Parangtritis Km 6.5 Sewon, Bantul Yogyakarta.

Tari Saraswati, classic dance, culture

Tarian ini diciptakan oleh Dra. Sri Hastuti, M.Hum dan Dr. Drs. Darmawan Dadijono MSn pada tahun 2009, dimana pada waktu itu Rektor ISI Yogyakarta Prof. Dr Suprapto Sujono menginginkan sebuah tarian, karena beliau berpikir sudah ada lagu hyme ISI, kenapa tidak ada sebuah tarian tentang Saraswati yang dijadikan ikon, walaupun sebenarnya tahun 2008 sudah ada, tetapi tahun 2009 dipilih lagi untuk dibuat konsep lagi dengan intinya tetap Saraswati.

Tari Saraswati, classic dance, culture

Tarian Sarawati merupakan tarian khusus yang hanya ditarikan pada saat Sidang Senat terbuka, seperti penerimaan mahasiswa baru, wisuda, sidang senat dalam rangka dies natalis maupun pada saat penerimaan doktoris honoris causa, ujar Dr. Drs. Darmawan Dadijono MSn (salah satu kareografer tarian ini).

Tari Saraswati, classic dance, culture

Gerak dalam Tari Saraswati merupakan gabungan, explorasi dan pengembangan ragam gerak tari tradisi yang ada di Indonesia. Hal ini disebabkan karena ini Institut Seni Indonesia, mulai dari ragam gerak tari tradisi Jawa seperti Surakarta, Yogyakarta, Sunda, Bali yang diolah menjadi satu kesatuan.

Tari Saraswati, classic dance, culture

Pola lantainya pun sangat menarik, karena tarian ini berpijak dari konsep Tari Bedhaya, tapi bukan Bedhaya Saraswati tapi Bedhayan dengan konsep penari dengan jenis kelamin yang sama dengan jumlah penari 7 (tari bedhaya ada dengan jumlah penari 7), kemudian memakai pola lantai seperti yang ada di Tari Bedhaya seperti gelar, motor mabur yang kesemuanya ini dikembangkan dalam Tari Saraswati.

Tari Saraswati, classic dance, culture

Tari Sarawati setiap tahunnya selalu mengalami perubahan walaupun kecil-kecil, hal ini disebabkan karena ingin membuat tarian ini menuju pada kesempurnaan sebuah tarian, juga karena yang menarikan setiap tahunnya juga beda.

Tari Saraswati, classic dance, cultureTari Saraswati terdiri dari beberapa adegan antara lain bagian introduksi, bagian utama (isi) secara substansial terbagi 3 bagian, yaitu bedayan, perangan, dan klimaks yaitu makarya (golong gilig), dan bagian penutup yaitu kapang- kapang golong gilig. Jika diambil kesimpulan maka koreografi tarian ini terbagi menjadi  introduksi, bedayan, perangan, klimaks ( yaitu makarya atau golong gilig,) dan penutup yaitu kapang- kapang golong gilig.Tari Saraswati, classic dance, culture

Busana yang dikenakan dalam tarian ini pada bagian kepala menggunakan sanggul modern yang dihiasi dengan rajutan pandan, bunga melati dan bunga pink, dimana sanggul ini terispirasi dari sanggul bokor yang digunakan pada tari bedhaya dengan kombinasi paes Bali.

Tari Saraswati, classic dance, culture

Busananya berupa dodotan alit dengan motip semen kakrasana yang diwiru, rok hijau dengan desain lipitan dibagian depan. Jariknya berlatar belakang hitam yang merupakan simbol kekuatan dengan motip semen kakrasana yang berhubungan dengan darat, laut dan udara. Motip ini berasal dari Surakarta yang dibuat pada jamannya Paku Buwana IX setelah abad ke 19. Motip ini menggambarkan keteguhan hati dan berjiwa kumawulo (merakyat).

Tari Saraswati, classic dance, culture

Sedangkan asesorisnya berupa selendang atau sampur warna hijau, gelang, kalung, klat bahu, slepe, subang, kalung susun 3, centhung bros, pelik, penutup sumping ron kates. Riasannya menggunakan riasan korektif cantik.

Tari Saraswati, classic dance, culture

Iringan dalam tarian ini menggunakan alat musik gamelan klasik Jawa secara live show, dimana gendhingnya terbagi menjadi 3 bagian. Pada bagian pertama (introduksi) gendhingnya menggambarkan tentang kita manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang diberi kesucian hati dalam bentuk talenta seni digambarkan seperti bidadari bidadari menari dengan tenang, kemudian kedua (isi) pada bagian buka sampur yang menggambarkan inilah dunia manusia yang mempunyai harapan dan keinginan tapi selalu ada halangan dan rintangan dalam menjalaninya dan yang terakhir/ketiga (penutup) berisi tentang tanggung jawab manusia terhadap masyarakat dan dirinya sendiri dengan segala kebijaksaannya.

Tari Saraswati, classic dance, culture

Tari Saraswati

1Persembahan:ISI Yogyakarta
2Kareografer:1. Dra. Sri Hastuti, M.Hum

2. Dr. Drs. Darmawan Dadijono MSn

3Penata Musik:Drs. Sunyata
4Penari:1. Bening Krisnasari

2. Rahma Indrasari

3. Cindy Septriani

4. Suci Nur Syafina

5. Bulan Riestamera Putri

6. Lasmi Gita Mawati

7. Nurul Amalia.

Tari Saraswati, classic dance, culture

Sebuah tarian yang ditampilkan secara abstrak lewat petuah-petuah dan simbol- simbol. Substansi koreografi ini adalah penggambaran sosok insan ISI Yogyakarta atau “ajakan agar”, atau perenungan bahwa manusia adalah makhluk Allah yang diberi karunia sesuatu yang bersifat spiritual, seperti ” jiwa manembah”, ” dan jiwa seni. Karunia itu diabdikan dalam kiprahnya sebagai hamba Allah dan anggota masyarakat, khususnya sebagai warga ISI Yogyakarta untuk mengabdikan dirinya, ” golong gilig” menyatu, saling bahu membahu menuju tujuan ISI di depan sana dengan berkarya, mengabdi kepada nusa dan bangsa, seperti apa yang tertuang pada visi misi ISI Yogyakarta, ujar Dra. Sri Hastuti, M.Hum . (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here