myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya, sugeng enjing, sugeng kewarasan sedoyo. Kematian atau kemuktian (kejayaan) bukanlah sebuah akhir didalam pertarungan, pertengkaran jiwa dan merelakan nyawa diantara semangat membunuh dengan suasana yang  riuh dan bergejolak serta tidak bisa berhenti. Semua ini tergambar dalam Tari Sata yang merupakan sebuah tarian yang didalamnya menceritakan tentang permainan sabung ayam, mulai dari persiapan sampai pertarungan kedua ayam yang disaksikan banyak orang dengan suasana yang riuh dari para bebotohnya.Tari Sata, contemporer dance, cultureTarian ini diciptakan Irwanda Putra Rahmandika pada tahun 2018, dimana khusus diciptakan untuk digelar di pentas Tugas Akhir 2019. Karya ini merupakan pengalaman empirisnya terhadap lingkungan  sabung ayam dan sering ikut terlibat dalam permainan sabung ayam di desanya.Tari Sata, contemporer dance, cultureIrwanda Putra Rahmandika lahir di Bantul pada tanggal 29 Januari 1996, beberapa karya tari yang telah dihasilkan diantaranya Cakar (2016), Jangka (2016) Sungkur Sangkar Singkir (2017), Nyampah (2017), Adon-adon (2017), Spirit of Prawiratama (2017), Makacihna (2017), Cecela (2017) dan Siraman Gilanglipuro (2018).Tari Sata, contemporer dance, cultureTari Sata ditampilkan dalam Gelar Karya Tugas Akhir Tari 2019  yang di selenggarakan di  Auditorium Jurusan Tari, Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Jalan Parangtritis KM 6,5 Sewon Bantul, tepatnya pada tanggal 11 sampai 12 Januari 2019, mulai pukul 19.30 Wib sampai selesai.Tari Sata, contemporer dance, cultureGelar Karya Tugas Akhir Tari 2019 pada tahun ini mengangkat tema “Harmonisasi Tubuh Dalam Keberagaman Rasa” yang mempunyai makna bahwa dalam mencipta karya seni tari bisa melalui sebuah keberagaman kreatifitas yang dapat meningkatkan kualitas kepekaan seniman, yang kemudian akan mendorong hadirnya suatu karya-karya baru.Tari Sata, contemporer dance, cultureKomposisi di dalam tarian ini menggambarkan moment-moment  tertentu dalam peristiwa sabung ayam, seperti di segmen awal menceritakan ayam yang tertekan, terbelenggu berada di dalam qiso (tempat jago). Ayam berusaha untuk keluar dengan cara memberontak ingin terbebas dalam suatu ruang yang sempit.Tari Sata, contemporer dance, cultureSegmen 1 menceritakan ayam yang di olah fisiknya dengan cara dijantur bahkan direnangkan untuk mempersiapkan fisik dan stamina ayam agar dalam pertarungan lebih kuat. Segmen 2 menceritakan spirit ayam yang pada dasarnya ketika ayam sudah di fisik tubuh ayam akan lebih siap untuk di pertarungkan. Disini di simbolkan dengan menghembuskan nafas dan mengeluarkan nafas secara cepat.Tari Sata, contemporer dance, cultureSegmen 3 menceritakan pertarungan, di sini menghadirkan dua fokus. Fokus pertama berada di upron dua orang penari sebagai visualisasi batin ayam yg sama-sama kuat dengan tatapan tajam dan fokus kedua di lingkaran trap bambu sebagai visualisasi pertarungan fisik yang di sampaikan dengan mengolah esensi gerakan ayam dan didukung riuhnya para botoh untuk menambah suasana tegang, tragis yang menyerang pesikis ayam harus berjuang untuk bertahan hidup. Disini ayam hanya mempunyai dua pilihan, antara mati atau mukti.Tari Sata, contemporer dance, cultureUntuk endingnya, di sampaikan gejolak ayam yang kesakitan ketika kondisi ayam sudah sekarat tetapi penjudi (para botoh) sama sekali tidak memperdulikan kondisi ayam yang sekarat bahkan ayam cuma sebagai media untuk mencari nominal.Tari Sata, contemporer dance, cultureGerak dalam Tari Sata ini mengambil esensi gerakan ayam ketika sedang bertarung yang kemudian diterjemahkan kedalam olah tubuh. Sedangkan pola lantainya sangat dinamis dan variatif, mulai dari bentuk lingkaran, diagonal (Zigzag) sampai layang-layang.Tari Sata, contemporer dance, cultureBusana yang digunakan ada dua visualisasi yaitu botoh dan visualisasi ayam. Dimana busana botoh menggunakan jarik lurik atau lendang jaman dulu, sedangkan visualisasi ayam menggunakan bahan bludru street agar lekuk tubuh penari kelihatan jelas dan tidak menggangu saat bergerak.  Motipnya banyak menggunakan warna hitam dan merah.Tari Sata, contemporer dance, cultureIringan musiknya menggunakan gamelan klasik Jawa yang dikombinasikan dengan suara-suara yang dihasilkan dari rotan, kelereng, spon ati dan mantel dengan maksud untuk memperkuat segmen suasana yang ingin dihadirkan dalam tarian ini.Tari Sata, contemporer dance, cultureTari Sata.

1Koreografer:Irwanda Putra Rahmandika
2Dosen Pembimbing:
  1. Drs. Setyastuti, M.Sn
  2. Drs.M. Heni Winahyuningsih, M.Hum
3Penari:Gitya Bima Sanjaya, Okky Bagas, Hanif Joaniko Putra, Lucky Wisnu
4Penata Musik:Danang Rajiv Setyadi
5Pemusik:Danang Rajiv Setyadi, Shandro Wisnu A Seputra, Widanta Agung Nugroho, Rizky Malindo Nur Qolby

Tari Sata, contemporer dance, cultureSebuah perjuangan hidup yang harus dihargai baik terhadap teman maupun lawan dengan segenap hati. Semua ini dapat dipetik untuk kehidupan kita manusia agar lebih menghargai sesama mahluk hidup didunia ini dalam menjalani kehidupan yang terus berlangsung sampai akhir jaman, ujar Irwanda Putra Rahmandika. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here