myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya, wilujeng enjang, sedherek-sedherek. Hitam manis hitam manis, yang hitam manis, pandang tak jemu pandang tak jemu. Parasmu cantik buat hatiku, siang dan malam selalu rindu. Itulah sepenggal nyanyian Hitam Manis dari Emillia Contessa penyanyi era 80 an yang sangat cocok sekali sebagai gambaran untuk Tari Sekar Cemani yang merupakan sebuah tari gaya Semarangan yang didalamnya menceritakan tentang sosok gadis manis dan cantik sekali yang berkulit hitam, yang selalu ditunggu banyak lelaki untuk dijadikan kekasihnya.Tari Sekar CemaniSekar Cemani mempunyai makna dan filosofi yang dalam, dimana Sekar mempunyai arti Bunga, sedangkan Cemani mempunyai arti Hitam. Warna hitam disini hanya sebagai perlambang yang diwujudkan dengan kastum yang berwarna hitam.Tari Sekar CemaniGambaran Sekar Cemani hampir sama dengan gambaran Kereta Api jaman dahulu, walaupun warnanya hitam, tetapi selalu ditunggui oleh para calon penumpangnya yang setia. Ada istilah “Iring-irenge sepur akeh sing ngenteni” artinya walaupun gadis cantik berkulit hitam tetapi banyak yang menunggunya untuk dijadikan kekasih pujaan hatinya.Tari Sekar CemaniTari Sekar Cemani merupakan ciptaan Yoyok B Priyambodo , dimana pernah ditarikan di Stasiun Kereta Api Pekalongan dan Mesa Stila Resort and Spa Jambu, tetapi waktu itu nama tariannya “Tari Cemani Ngebul”. Inilah nama asli dari Tari Sekar Cemani yang belum dikembangkan seperti sekarang ini.Tari Sekar CemaniTarian ini sangat cocok ditarikan ditempat-tempat Stasiun Kereta Api manakala ada sebuah event, seperti launching Kereta Api Baru atau memperkenalkan sebuah destinasi Pariwisata yang baru. Yang mana tarian ini dapat lebih dikemas dan dikembangkan lagi yang bisa menceritakan bermacam-macam Kereta Api.Tari Sekar CemaniTari Sekar Cemani oleh Sanggar Greget yang kali ini ditampilkan dalam Gelar Tari Gaya Semarangan yang merupakan acara rutin tiap tahunnya. Pada tahun ini diselenggarakan oleh Sanggar Greget Semarang yang berkolaborasi dengan Taman Budaya Jawa Tengah, yang dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 23 Nopember 2019 di Taman Budaya Jawa Tengah Solo, mulai pukul 19.00 wib sampai selesai.Tari Sekar CemaniSanggar Greget Semarang beralamat di Jl Pamularsih I no 2-G, Semarang, dipimpin oleh Yoyok B. Priyambodo yang lahir pada tanggal 25 April 1966 di Semarang. Belajar menari dari orang tuanya (Bpk/Ibu Soedibyo) di Sanggar Tari Kusuma Budaya pada tahun 1972. Kemudian pada tahun 1982 bersama keluarganya mendirikan Sanggar Greget Wilang, tapi kemudian berganti nama menjadi sanggar Greget pada tahun 1992 sampai sekarang.Tari Sekar CemaniKomposisi didalam tarian ini menggambarkan tentang segala hal yang berhubungan dengan Kereta Api Jaman dahulu, kalau belok miring, beriring-iringan tetapi satu tujuan yang bergerak secara bersama-sama dengan satu mesin gerbongnya yang banyak.Tari Sekar CemaniGerak dalam Tari Sekar Cemani memang semuanya menggambarkan Kereta Api dari mulai berjalan dengan gerak tangan melambai keatas dengan sampur berbentuk lingkaran sebagai lambang roda Kereta Api, dengan jinjit sambil kenser, kemudian diakhiri lambaian ke kanan dan ke kiri dengan kaki mentul (Renggot) gambaran sepur akan berhenti. Ciri khas disetiap awalan gerakan pasti ada gerak “kagetan”.Tari Sekar CemaniPola lantainya yang digunakan sangat sederhana yang semuanya polanya seperti Kereta Api yang hanya lurus, miring dan sedikit melingkar, tapi walaupun sederhana kesan yang didapat malah dinamis dan variatif ketika dipadu dengan geraknya.Tari Sekar CemaniBusana yang dikenakan menggunakan konsep busana Semarangan, dimana memakai kebaya dan jarik warna hitam. Konsisten dengan istilah orang tua jaman dahulu “ora popo ireng cah ayu, ireng-ireng akeh sing ngenteni” artinya tidak apa-apa anak cantik. Walaupun kulit kamu hitam kamu tetap manis, banyak yang menunggu kamu untuk dijadikan kekasihnya.Tari Sekar CemaniPenggunaan properti kaca mata hitam sebenarnya hanya menyimbolkan bahwa Kereta Api adalah nomer satu didunia ini, ketika Kereta Api berjalan tidak akan melihat kanan-kiri, lurus tidak akan ada yang bisa menghentikannya. Manakala dipersimpangan dengan jalan yang lain, maka yang lain yang akan berhenti.Tari Sekar CemaniIringan gendhingnya menggunakan gamelan klasik Jawa dengan gendhing lancaran secara live show karya dari Pak Tanto yang menceritakan tentang Kereta Api dengan segala aktivitasnya dan makna filosofinya tentang gadis cantik yang berkulit hitam.Tari Sekar CemaniTari Sekar Cemani.

1Persembahan:Sanggar Greget Semarang
2Koreografer:Yoyok B Priyambodo
3Penata Busana:Yoyok B Priyambodo
4Penata Iringan:Yoyok B Priyambodo dan Tanto
5Penari:
  1. Erlina Yupra H
  2. Sefita Nidia KA
  3. Adinnia Eka Suci
  4. Yulia Dwi Kurniawati
  5. Chantika Putri NS

Tari Sekar Cemani“Jangan pernah menggangap remeh siapapun yang ada didunia ini, apapun bentuk dan warnanya serta jangan pernah takut mempunyai kulit hitam apalagi orang Indonesia. Gadis cantik berkulit hitam pastinya banyak yang menunggu untuk dijadikan kekasihnya”, ujar Yoyok B Priyambodo selaku pimpinan Sanggar Greget Semarang disela-sela acara. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here