myimage.id | Salam Budaya, sugeng enjing sederek sedulur, sugeng makaryo. Orang Jawa mana yang tidak kenal dengan Mocopat? Sebuah tembang yang memiliki makna dan filosofi tentang kehidupan manusia, mulai dari makna tentang alam roh sebelum manusia dilahirkan hingga manusia lahir, tumbuh dan berkembang sampai pada masa meninggalnya dan kembali ke alam roh. Ya itu semua tergambar dalam Tari Siklus yang merupakan sebuah tari kontemporer yang didalamnya menceritakan tentang perjalanan hidup yang terdapat dalam sebuah rangkaian peristiwa yang terinstepretasikan dalam urutan tembang Mocopat sebagai rentetan peristiwa dari hidup sampai matinya manusia.Tari Siklus, culturePerjalanan hidup manusia disimbolkan dalam tembang-tembang Mocopat seperti Maskumambang, Mijil, Sinom, Kinanti, Asmaradhana, Dhandhanggulo, Gambuh, Durmo, Pangkur, Megatruh dan Pocung. Ke 11 tembang Mocopat ini sendiri dijadikan filosofi hidup bagi orang Jawa.Tari Siklus, cultureTari Siklus merupakan ciptaan dari Pulung Jati Rangga Murti S.SN yang merupakan karya terbarunya, dimana tarian ini khusus diciptakan untuk ditampilkan pada Gelar Tari Kontemporer yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Yogyakarta sebagai UPTD Dinas Kebudayaan DIY, pada tanggal 18 Oktober 2018 mulai pukul 19.30 wib di Concert Hall TBY.Tari Siklus, culturePulung Jati Rangga Murti S.SN merupakan alumnus ISI Yogyakarta yang lahir pada tanggal 16 Juni 1992 di Yogyakarta. Beberapa kali menerima penghargaan dalam bidangnya seperti sebagai penata tari terbaik, sutradara terbaik dan pemeran utama putra terbaik dalam festival sendratari Yogyakarta. Beberapa karya tarian ciptaannya antara lain Sang Prawireng, Sinapa Sih, Potong Pulung dan Sembahan.Tari Siklus, cultureGelar Tari Kontemporer kali ini mengusung tema “Mata Matra Mantra” yang menampilkan tiga kareografer muda yaitu, Arjuni Prasetyorini M. Sn “Titi Mangsa”, Tri Anggoro S.Sn “Urib Urub” dan Pulung Jati Ronggo Murti S.Sn “Siklus” yang kesemuanya mengandung seni hidup di budaya Jawa terutama Yogyakarta.Tari Siklus, cultureKomposisi dalam tarian ini didalamnya selain mengexplore tubuh penarinya, kareografernya juga ingin menghadirkan pendukung artistic lainnya seperti dance propery, lighting dan setting proprety yang membantu memberikan kekuatan dalam suasana atau visual yang ingin di sampaikan.Tari Siklus, cultureBeberapa symbol dihadirkan seperti Mijil sebagai symbol kelahiran seorang bayi yang muncul dari kemaluan seorang wanita dan instalasi sebagai simbol tentang perjalanan hidup manusia yang penuh rintangan dan cobaan.Tari Siklus, cultureGerakan dalam Tari Siklus lebih cenderung menghadirkan bentuk yang abstrak yang banyak mengekspresikan dari tembang-tembang Mocopat, seperti sinom yang tergambar dalam gerak yang energik, semangat  dan dinamis sebagai simbol masa muda.Tari Siklus, culturePola lantainya juga mengadopsi simbol-simbol Mocopat seperti Asmorodhana dimana para penarinya melakukan gerak berkesinambungan tapi mempunyai banyak rasa (jiwa) yang mempunyai sifat secara global artinya adanya hubungan antara manusia dengan Yang Maha Kuasa.Tari Siklus, cultureBusana yang dikenakan lebih bersifat verbal (simbol-simbol) yang flat, berfungsi untuk memberikan keleluasaan gerak dari penarinya mulai dari awal kelahiran sampai megatruh (endhing) dengan symbol telanjang (durmo) sampai mati.Tari Siklus, cultureIringan musiknya merupakan gabungan antara live berupa gamelan klasik Jawa sebagai roh Mocopatnya dengan midi yang ditambahi efeks  backsound-backsound computer.Tari Siklus, culture

Tari Siklus

1Karya:Pulung Jati Ronggo Murti, S.Sn bersama Jogja’s Body Movement
2Penata Musik:Sudaryanto, S.Sn
3Penata Artistik:Beni Susilo Wardaya, S.Sn
4Penata Cahaya:Bureg La Sandeq
5Penari:Anang Wahyu N, S.Sn, Katana Rista Putri, S.Sn, Risca Putri W, S.Sn, Irwanda Putra R, Fitriana Indriasari, Mukhlis, Hanif Joaniko P
6Pemusik:Bayu Purnama, M.Sn, Anang Primantoro, S.Sn, Destya Rochmawati, S.Sn, Bonifasius Vico H
7Crew:Arif Nur, Wisnu Dermawan, Bagus, Prasetyo, Ujang Irwanto, Sapto, Yobel, Adam
8Dokumentasi:Budi Setya, Seto Wikandaru

Tari Siklus, cultureLewat tembang Mocopat kita dapat memaknai hidup, apapun yang terjadi Mocopat merupakan simbol yang penting dalam kehidupan masyarakat Jawa yang bisa dijadikan pegangan hidup dari lahir sampai mati yang bersandar kepada Yang Maha Kuasa, ujar Pulung Jati Ronggo Murti, S.Sn. (Soebijanto/reog biyan)

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here