myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Sugeng enjang sedherek-sedherek. Terobosan dalam membuat sebuah karya memang sangat diperlukan, tapi semua itu memerlukan sebuah komitmen yang jelas dan konsisten. Pakem-pakem yang biasa di pakai dijungkirbalikan diganti dengan yang baru, tapi masih dalam koridor dalam tari tradisi. Ya sebuah aliran “deconstruction” telah lahir dalam sebuah karya Jhatilan. Semua terlihat dalam Tari Srimpen Turangga Manis yang merupakan sebuah tari tradisi Jhatilan yang secara simbolik bercerita tentang kekuatan binatang  totem kuda yang secara semiotik sebagai simbol kekuatan, ketegasan, katurangga dan kewibawaan.Tari Srimpen Turangga ManisNamun semua itu bila tidak dikendalikan akan bisa membahayakan kehidupan manusia, tapi semua ini di explore ke dalam bentuk sebuah tarian tradisi lewat bentuk gerak non dramatic tanpa adanya dialog antar penarinya.Tari Srimpen Turangga ManisJhatilan yang kita kenal sekarang, rata-rata iramanya cepat, disini dibuat lembut, lemah gemulai dalam bentuk atau format Srimpen. Dan inilah dinamikanya, dengan mengambil spririt dan nilai simbolik dari tari Srimpi terciptalah tarian ini.Tari Srimpen Turangga ManisSrimpen Turangga Manis berasal dari kata Srimpen yang mengambil dari kata Srimpi, hal ini sangat beda, karena Srimpen tidak sama dengan Srimpi yang berasal dari dalam Kraton Yogyakarta, turangga adalah kuda sedangkan manis adalah cantik, sehingga semuanya bisa diartikan tari atau joged wanita dengan kuda yang di bawakan oleh para gadis yang cantik jelita.Tari Srimpen Turangga ManisTarian ini merupakan ciptaan dari Dr. Kuswarsantyo M. Hum yang lahir di Yogyakarta, 4 Sepetember 1965, yang sampai sekarang masih aktif sebagai pengajar di UNY. Beberapa karya beliau yang menjadi master piece diantaranya Klana Sureng Pati (2017), Srimpen Turangga Manis (2019) dan Kenyo Turangga Mudha (2019).Tari Srimpen Turangga ManisTari Srimpen Turangga Manis ditampilkan dalam event yang diadakan oleh Bale Seni Condroradono yang berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta yang diadakan di Plaza Ngasem pada tanggal 28 September 2019, mulai pukul 19.00 wib sampai 20.00 wib.Tari Srimpen Turangga ManisKarya ini merupakan salah satu jawaban beliau tentang Jhatilan yang berkembang di dalam masyarakat, yang kemudian diolah dalam bentuk karya “deconstruction” dimana tari Jhatilan dikarya terbarunya ini meliputi desakralisasi, dengan arti bahwa Jhatilan tidak memakai trance (dadi), tidak pakai sesaji, dengan format  geraknya masih memakai tari klasik.Tari Srimpen Turangga ManisKomposisi di dalam Tari Srimpen Turangga Manis menyimbolkan tentang kiblat papat limo pancer dengan memakai 5 penari dalam arti, tantangan hidup manusia berasal dari segala penjuru tapi semua itu dihadapi dengan satu tekad yang bulat dengan bimbingan dari Sang Maha Kuasa.Tari Srimpen Turangga ManisRagam geraknya penuh dengan kelembutan tapi penuh kekuatan. Kekuatan tidak selamanya harus dengan gerak yang keras, ragam geraknya menggunakan ragam gerak tari klasik gaya Yogyakarta dengan pola lantainya mengadopsi dari pola Jhatilan tradisional. Beberapa simetris sebagai simbol ketegasan, melingkar simbol golog gilig, diagonal sebagai simbol perlawanan dan broken sebagai simbol kebebasan.Tari Srimpen Turangga ManisBusana yang dikenakan menggunakan kebaya warna unggu dengan dodot unggu yang divariasi dengan seling poleng bangbintulu dengan asesoris kepala berupa jamang bulu-bulu. Busana ini terinspirasi dari busana Tari Srimpi yang ada di dalam Kraton Yogyakarta dengan property kuda kepang.Tari Srimpen Turangga ManisIringan dalam Tari Srimpen Turangga Manis menggunakan gamelan klasik Jawa secara live show dengan pola iringan srimpi, dimana diawal lagon untuk kapang-kapang menggunakan suwuk, buka celuk, ndawah gendhing srimpen, monggang dan playon untuk peperangan, serta terakhir kembali ke lagon.Tari Srimpen Turangga ManisTari Srimpen Turangga Manis.

1Karya:Dr. Kuswarsantyo M. Hum
2Ass Penata Tari:Ratih Dewi Anjani S.Pd
3Penata Iringan:Anon Suneko M.Sn
4Penari:
  1. Ratih
  2. Khoiria
  3. Yuan
  4. Silih
  5. Nisa

Tari Srimpen Turangga Manis“Sebuah pembuktian proses karya tari ke dalam bentuk “deconstruction”, tidak hanya inspirasi tradisi tetapi visualisasi menjadi bagian dari sebuah kreasi. Edukasi kepada masyarakat tentang esensi Jhatilan bukan hanya trance (dadi) tapi Jhatilan punya banyak varian untuk diungkap dalam sebuah karya”, ujar Dr. Kuswarsantyo M. Hum disela-sela acara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here