myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Sugeng enjang sedherek-sedherek. Ibu, jika aku dalam masalah besar, peluklah aku dengan cinta dan kasihmu. Aku rela mati atas harga diriku. Ingatlah Ibu, aku mencintaimu. Ya, sekelumit kata-kata diatas terlihat jelas dalam Tari Taksaka yang merupakan sebuah tari kreasi baru yang didalamnya menceritakan tentang kesedihan Dewi Kadru yang tidak memiliki keturunan, suatu ketika Dewi kadru berdoa dan memohon kepada Resi Kasyapa agar diberikan keturunan dan doa Dewi Kadru terkabul dengan diberikannya 1000 telur naga yang semuanya lahir.Tari TaksakaNaga Taksaka adalah salah satu naga tersebut yang lahir yang memiliki kesaktian dan keberanian. Taksaka tumbuh dan berkembang dengan kasih sayang yang tulus dari sang ibu. Suatu ketika karena ucapan sumpah, Taksaka membunuh Raja Parikesit.Tari TaksakaTaksaka tidak mengira bahwa malapetaka akan menghampirinya. Upacara pengorbanan api atau Sarpahoma dilakukan untuk membakar hidup-hidup segala jenis ular termasuk Naga Taksaka. Kesedihan Sang ibu pun tak terbendung, manakala melihat anak kesayangannya dalam bahaya.Tari TaksakaTarian ini ditampilkan dalam pertunjukan Uji Koreografer 3 di Perfomance Stage FBS UNY yang diselenggarakan oleh Jurusan Pendidikan Seni Tari, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta yang dilaksanakan selama 4 hari pada tanggal 16, 17, 18 dan 19 Januari 2020, tepatnya pada pukul 19.30 sampai selesai. Total garapan karya tari yang ditampilkan sebanyak 45 karya, dengan pembagian 11, 12,12 dan 10 karya per harinya.Tari TaksakaUji Koreografer 3 kali ini dibalut dengan tajuk “Galaksi Mahira” dimana Galaksi singkatan dari Gelar Karya Mahasiswa Seni Tari, sedangkan Mahira mempunyai makna berbakat atau diberkati. Tajuk ini pada tahun ini mengusung tema “Merajut Asa Dalam Karya”.Tari TaksakaTari Taksaka diciptakan oleh Bima Satrya Wardana, yang terinspirasi oleh cinta kasih yang sangat tulus dari sosok seorang Ibu yang tidak terhingga sepanjang masa dan tidak lekang oleh waktu, hanya memberi dan tidak mengharap kembali, bagai matahari menyinari kehidupan didunia ini.Tari TaksakaBima Satrya Wardana lahir di Ponorogo 17 Juni 1997. Sejak kecil menyukai tari dan didukung oleh lingkungan yang kuat akan seni. Ketika SMA meneruskan di SMKI SKA Jurusan Seni Tari dan melanjutkan Kuliah di Jurusan Pendidikan Seni Tari, FBS UNY. Karya-karyanya yang sudah diciptakan antara lain Lampor, Holopis Kuntul Baris, Pasar Ting dan Mahakali.Tari TaksakaKomposisi di dalam Tari Taksaka ada 5, antara lain menggambarkan kesedihan Dewi Kadru yang berharap mendapatkan keturunan, Dewi Kadru diberkati 1000 telur yang kemudian lahirlah para naga putra Dewi Kadru, penggambaran Taksaka yang sakti dan pemberani, peperangan antara Taksaka dan Raja Parikesit serta Taksaka dibakar dalam upacara Sarpahoma yang dalam karya ini memunculkan kain merah sebagai simbol api yang membakar Taksaka.Tari TaksakaRagam gerak dalam tarian ini berpijak kepada ragam tari klasik gaya Yogyakarta terutama pada motip dan bentuknya yang kemudian digarap dan diolah bentuk, teknis dan isinya, sehingga tercipta motip gerak yang baru. Semua ini dilakukan dengan teknik explorasi, improvisasi dan pengolahan komposisi untuk mewujudkan tari kreasi baru yang berpijak pada tradisi. Yang menjadi ciri khas dari karya ini adalah bentuk tangan yang melambangkan naga. Kelenturan tubuh diartikan sebagai Naga yang meliuk-liuk, selain itu memunculkan gerak yang tegas sebagai wujud naga yang kuat.Tari TaksakaUntuk busananya dominan mengambil warna merah, kuning dan emas. Warna merah sebagi simbol berani, warna kuning sebagai ketenangan dalam hidup, sedangkan emas sebagai gambaran bahwa Taksaka adalah Naga yang hidup dgn penuh kasih sayang dari sang ibu.Tari TaksakaHiasan kepala memakai jamang dan sumping yang berbentuk telinga naga dalam mitos, sedangkan bajunya memakai broklat merah yang menggambarkan sisik naga, memakai pangkat melambangkan naga yang kuat dan sakit, pada bagian bawahannya memakai celana panjang warna kuning berbentuk segitiga ditambah buntal sebagai ciri khas dari tari klasik gaya Yogyakarta.Tari TaksakaIringan dalam karya ini menggunakan musik Midi yang membangun suasana yang epic, inovatip dan kekinian. Dengan memadukan gamelan klasik Jawa dengan perkusi dan nuansa iringan musik Cina, semuanya ini untuk mendapatkan suasana yang hidup sesuai yang diharapkan.Tari TaksakaTari Taksaka

1Koreografer:Bima Satrya Wardana
2Penata Musik:Agung Widanta Nugraha
3Penata Busana:Bima Satrya Wardana & Morsent Studio
4Penata Rias:Dina Septi Rahayu & Fiart Collection
5Penari:
  1. Bima Satrya Wardana
  2. Mona Kemalayati
  3. Ellya Miftahul Hidayati
  4. Anas Faizal Nugratama
  5. Hilya Athiyyata Maulani
  6. Indah Kumalasari
  7. Ardhika Bagus Nur Alif
  8. Claudius Tiffanilo Lintang Samudera
  9. Dwi Prayoga
  10. Dwi Prayogi
  11. Tri Dwan Istiqomah
  12. Ilham Rozian Darmawan
  13. Anindhita Nur Bagaskara
  14. Hardhio Skriptaniko

Tari Taksaka“Sebuah pembelajaran hidup bagi anak manusia, janganlah kita sebagai anak sampai melupakan sosok ibu yang sudah membesarkan kita dengan tulus tanpa pamrih. Kasih ibu sepanjang jalan dan tidak terhingga sepanjang masa. Kita harus berusaha agar Ibu kita selalu tersenyum dan bahagia”, ujar Bima Satrya Wardana selaku koreografer disela-sela acara. (Soebijanto/reog biyan).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here