myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Dipercaya sebagai Dewi pelindung kelahiran dan yang mengendalikan makanan di bumi berupa padi sejak jaman dahulu, ya itulah Dewi Sri yang digambarkan lewat gerak Tari Titimangsa yang merupakan sebuah tari kontemporer yang didalamnya menceritakan  tentang Dewi Sri, Dewi kesuburan yang ada di dalam masyarakat petani di tanah Jawa yang sangat diyakini bahwa Dewi ini hadir untuk memberi kesuburan di pertanian maupun rumah tangga yang disimbolkan dalam bentuk loroblonyo.Tari Titimangsa, culture, kontemporerDalam tarian ini, kajian Dewi Sri disesuaikan dengan perkembangan jaman sekarang, dimana di masa lalu Dewi Kesuburan ini sangat dihormati, sedangkan pada saat ini banyak yang tidak mengenal dan hilang. Dewi Sri sangat sedih dengan kehidupan sekarang ini.Tari Titimangsa, culture, kontemporerDulu Dewi Sri disimbolkan kesuburan, dengan memberi biji berupa padi dan anak di dalam rumah tangga. Semuanya ini didapat dengan melihat mongso (musim) untuk padi dan anak adalah sesuatu yang dinanti dalam sebuah rumah tangga.Tari Titimangsa, culture, kontemporerSekarang ini padi didapat tanpa melihat mongso dengan mengimport beras dari luar negeri dan anak ada yang tidak dikehendaki hadir atau lahir seperti lahir dari seks bebas, aborsi, anak yang dibuang. Disinilah kita kehilangan filosofi keberadaan Dewi Sri lagi, baik dalam kehidupan masyarakat petani Jawa maupun didalam rumah tangga yang sakral.Tari Titimangsa, culture, kontemporerTari Titimangsa merupakan ciptaan dari Arjuni Prasetyorini, M.Sn yang merupakan karya terbarunya, tarian ini khusus diciptakan untuk ditampilkan pada Gelar Tari Kontemporer yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Yogyakarta sebagai UPTD Dinas Kebudayaan DIY, pada tanggal 18 Oktober 2018 mulai pukul 19.30 wib di Concert Hall TBY.Tari Titimangsa, culture, kontemporerArjuni Prasetyorini, M.Sn merupakan alumnus ISI Yogyakarta yang lahir pada tanggal 27 Juli 1982 di Kulon Progo. Dia adalah owner dari Sanggar Seni Bodronoyo sekaligus pengajar di divisi tari. Pernah belajar modern dance dengan Rodger Belman dan tari Afrika dengan Sharone Price.Tari Titimangsa, culture, kontemporerGelar Tari Kontemporer kali ini mengusung tema “Mata Matra Mantra” yang menampilkan tiga kareografer muda yaitu, Arjuni Prasetyorini M. Sn “Titi Mangsa”, Tri Anggoro S.Sn “Urib Urub” dan Pulung Jati Ronggo Murti S.Sn “Siklus” yang kesemuanya mengandung seni hidup di budaya Jawa terutama Yogyakarta.Tari Titimangsa, culture, kontemporerInspirasi dari tarian ini didapat dari konsennya Arjuni Prasetyorini dalam dunia budaya Jawa yang syarat dengan filosofi. Selain itu Arjuni Prasetyorini juga ingin menghadirkan Dewi Sri ini di jaman sekarang ini. Banyak upacara adat untuk acara ini, tapi semuanya hanya kemasan atau produk yang isinya dan maknanya sudah hilang.Tari Titimangsa, culture, kontemporerDalam sajiannya tarian ini juga memuat pesan apakah Dewi Sri masih dikenal oleh masyarakat dengan segala makna dan filosofinya. Ektensinya dikembalikan lagi karena sudah lama menghilang dengan dihadirkan melalu mata, matra, mantra dan doa-doa serta pemaknaan, bahwa pada hakekatnya Dewi Sri itu ada.Tari Titimangsa, culture, kontemporerGerak Tari Titimangsa lebih mengambil spirit dari Dewi Sri dimana kesannya simple, rapi dan tidak membosankan, tapi ada beberapa gerakan yang menggambarkan kemarahan, kekacauan dan beberapa gerakan yang mengexplore gerak wayang yang terbuat dari suket yang menggambarkan tentang punokawan.Tari Titimangsa, culture, kontemporerPola lantainya tidak terlalu rumit, hanya beberapa garis yang dihadirkan karena kondisi yang terjadi, antara lurus yang melambangkan keadaan yang salah harus diluruskan, melingkar yang menggambarkan persatuan yang utuh dalam masyarakat yang terjadi karena keadaan sekarang ini.Tari Titimangsa, culture, kontemporerBusana yang dikenakan mengambil warna-warna dari alam, seperti merah, coklat dan hijau tua, tapi semuanya masih mengacu pada busana tradisional seperti kemben,celana gombrang dengan atasan yang memberikan kesan dinamis, dengan riasan natural. Properti yang digunakan berupa wayang suket, wayang Dewi Sri dan  lampion kecil.Tari Titimangsa, culture, kontemporerIringan musik yang mengiringi Tari Titimangsa menggabungkan unsur musik tradisional berupa gamelan klasik Jawa dengan alat musik modern dalam bentuk midi, yang kesemuanya menghadirkan spiritual mantra.Tari Titimangsa, culture, kontemporer

Tari Titimangsa

1Kareografer:Arjuni Prasetyorini M. Sn
2Penata Musik:Pardiman Djoyonegoro
3Pimpinan Produksi:Elia
4Penata Artistik:Singgih Wibisono
5Stage Manager:Dili Suwarno
6Penata Lighting:Ahmad Suharno dan Agata Irena
7Desain Kastum:Arjuni Prasetyorini M. Sn dan Utfah Permata Sari
8Vidio:Pius Rino Pungkiawan
9Penari:Chandra Nilasari, Agnes Puti Maylani pamungkas, Septia Suminar Ayu Fadzillah, ratna Andriani Mustika Kusuma, Rinjani hanggarasih Larasati, Aprilia Wedaringtyas, Prajnya Dewati Restuku Anjapani, Dipta Neswara, Dipta Neswari, Monika Vindi  Dwi Nugraheni, Vinceesia Helga Cristin Liliningtyas
10Crew di balik layar:Winda Nurlaily Rafikakalia, Endang Setyaningsih, Ridho Fajar, Kandi Tan

Tari Titimangsa, culture, kontemporerDengan memaknai filosofi Dewi Sri, diharapkan masyarakat tahu bahwa Dewi Sri itu ada, terutama  para perempuan diharapkan menjaga harkat dan martabat wiji yang diberikan oleh Dewi Sri sebagai bagian bentuk  kasih sayangnya terhadap manusia, ujar Arjuni Prasetyorini M. Sn.  (Soebijanto/reog biyan)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here